[Fan Fiction] Between Us || Chapter 7

Between us7

Author : Jung Hye Rim

Main Cast : Shin Yeonmi – Kim Ryeowook – Kim Jae In

Genre : Sad Romance

==Happy Reading==

Perpisahan memang seperti ini adanya, Semua akan membaik seiring berjalannya waktu. Aku akan baik baik saja..”—Shin Yeonmi

Tak peduli berapa kali aku menggelengkan kepalaku, Hatiku tetap memanggil Namamu..”—Kim Ryeowook

Aku tahu,, Aku tidak akan mampu melupakanmu. Tapi aku juga tak bisa menahanmu..”—Kim Jae In

~Between Us~

Part : 1st | 2nd | 3rd | 4th | 5th | 6th

Jae In menghela nafasnya berat, entahlah Seperti ada sesuatu yang menahan nafasnya hingga ia sulit sekali untuk bernafas. Terasa sangat sesak. Ia lantas menengadahkan kepalanya menatap langit dan bintang yang menghias di angkasa. Sudut bibir nya tertarik keatas melihat itu, tak bisa dipungkiri kalau ia menyukai lukisan alam sederhana yang sempurna itu.

Angin malam berhembus dengan tenang malam itu, menerpa wajah ayunya dan memainkan rambut indahnya. Sesekali tangannya terulur keatas menyingkirkan anak-anak rambut nakalnya yang segaja menari-nari diudara karena ulah angin malam itu. Hari ini, entah mengapa ia memiliki perasaan yang campur aduk. Ia bingung harus menyebutnya apa,, rasa senang, sedih, bingung, kalut dan takut. Semuanya tercampur menjadi satu. Dan semuanya ia alami, baru sekitar beberapa jam yang lalu, saat pertemuan antara dua keluarga dan menatap pria itu. Ada sesuatu dipikirannya  yang Jae in sendiri tak mengerti. Ada sesuatu yang disembunyikannya dan Jae in tidak tahu apapun tentang itu. Ia yakin saat ia menatap pria itu, dan ia mengerti tatapan itu.

“Minumanmu..”

Jae in hampir saja terlonjak kaget dan jika ia tidak berhati-hati maka ia akan segera terjatuh kedalam air disungai han yang dingin. Oke ini berlebihan. Ia terkejut saat dihadapannya tiba-tiba saja ada sebotol hot chocolate kesukaannya. Ia menoleh kearah samping dan mendapati Ryeowook yang tengah menyodorkan minuman hangat kesukaannya itu. Ia hampir lupa kalau ia disini bukan hanya sendiri melainkan berdua dengan Ryeowook.

Ia kemudian tersenyum sembari mengambil minuman hangat itu dari tangan Ryeowook setelah sebelumnya menggumamkan ‘terimakasih’ yang tulus. Ia lantas mendekatkan minuman itu kewajahnya, menghirup dalam-dalam aroma khas coklat panas yang disukainya. Kegiatan seperti inilah yang selalu dilakukannya, ia menyukai aroma coklat. Menurutnya aroma itu selalu membuatnya merasa nyaman dan tenang.

Ryeowook tersenyum melihat kegiatan gadisnya itu, sebuah kegiatan yang tentu dengan berjalannya waktu sudah sangat dihapal Ryeowook. Ia menghela nafasnya dan kembali menatap lurus kedepan, ditangannya juga ada hot chocolate yang sama dengan Jae in. Diteguknya minuman hangat itu dan kembali larut dalam pikirannya. Sorot mata Ryeowook bahkan menampakkan betul bagaimana kalutnya ia sekarang. Matanya saja bahkan masih terlihat sedikit sembab akibat menangis beberapa jam lalu.

Katakan saja ia pria bodoh, pria keji yang bahkan tak bertanggung jawab. Pria kasar yang sudah menyakiti dua wanita sekaligus. Ia tersenyum miris, meyadari kebodohannya yang tak pernah hilang. Memilih salah satu atau membiarkan dua-duanya adalah salah satu yang harus ia pilih, dan rasanya sangat sulit memilih diantara keduanya.. Jika ia memilih salah satu, maka dengan pasti ia akan memilih Yeonmi, gadis yang sudah pasti sangat ia sayangi. Tapi pilihannya mungkin salah, salah karena gadis itu tak pernah membiarkannya untuk memilih gadis itu. Jika ia membiarkan keduanya, tak bisa dipungkiri kalau ia begitu egois.

Ia menoleh kearah Jae in, mengamati wajah damai itu dalam diamnya. Menghela nafas beberapa kali untuk menormalkan perasaannya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Bagaimanapun Jae in adalah gadis yang pernah ia sukai dulu, menyukai karena keegoisannya. Benar kata Yeonmi, ia gadis yang baik, dan Ryeowook percaya ia hanya mencintai satu pria dalam hidupnya. Tapi apa harus seperti ini? Hatinya,, perasaan itu tak pernah sepenuhnya berubah pada Jae in, nyatanya ia tak bisa melupakan Yeonmi. Dan jika hubungan ini terus berlanjut, Apa itu tidak akan apa-apa bagi Jae in? Bukankah itu artinya ia akan terus menyakiti gadis ini selama hidupnya?

Jae in menoleh kesamping saat merasa dirinya tengah diperhatikan oleh Ryeowook. Dan seketika itu juga pipinya langsung pink merona, jantungnya tiba-tiba saja berdegup lebih cepat dari biasanya. Ia memang seperti ini, selalu merona jika Ryeowook menatapnya seperti itu. ia tahu itu berlebihan tapi memang seperti itu adanya..

W..wae?” tanya nya bingung, Ryeowook terkekeh lalu mengusap ujung kepala Jae in gemas. Ia harus mengakui bahwa Jae in terlihat menggemaskan juga imut saat seperti itu, ia tak bisa menyangkal juga kalau gadis ini memang terlihat cantik dengan pipi pualam yang selalu merona.

“Kau bahagia?”

N..nde?”

“Apa kau bahagia mencintaiku?” tanyanya. Jae in terdiam, tentu ia merasa sangat bahagia sekarang. Mencintai pria itu bahkan kini telah memilikinya. Tapi entahlah,, sekarang ini ia tidak sedang sebahagia itu. Rasa takut justru mendominasi sekarang.

Ia tersenyum manis menatap Ryeowook “Kau bisa memelukku?” tanyanya kemudian. Ryeowook mengangguk mengerti sebelum akhirnya tanpa berbicara ia pun segera menarik tangan Jae in dan membawa gadis itu kedalam pelukannya. “Aku bahagia, selama kau masih disampingku dan memelukku hangat seperti ini..” gumamnya sembari menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ryeowook, menghirup aroma Ryeowook sebanyak-banyakknya, aroma yang sangat disukainya.

Ryeowook terdiam sembari memejamkan matanya, tangan kanannya bergerak mengusap surai panjang Jae in lembut, sedangkan tangan kirinya memeluk Jae in Possessive. Dalam hati ia merutuk, apakah jalan yang ia ambil sudah benar? Apa benar ia seperti ini pada Jae in? memberikan harapan untuk gadis yang dengan tulus mencintainya, sedangkan ia sendiri tak punya kepastian untuk memenuhi harapan gadis itu.

[Between Us]

Yeonmi merebahkan tubuhnya diatas kasur empuk dalam kamarnya. Menghela nafas sebanyak-banyaknya agar bisa merasa tenang. Tapi entah sudah berapa banyak ia menghela nafasnya, keadaannya tetap sama, ia tak bisa tenang dan pikirannya terus kalut.

Pikirannya kembali melayang pada kejadian beberapa jam lalu, saat Pria itu menariknya dan mencium bibirnya lembut. Tangannya bergerak menyentuh bibirnya. Rasa itu masih dengan sangat menempel dibibirnya, rasa saat Ryeowook menyentuhkan material lembut itu pada bibirnya. Ciuman pertama miliknya, Ciuman pertamanya dengan banyak rasa takut, Ciuman pertamanya yang menurutnya begitu sangat memabukkan, dan ciuman itu yang kini membuatnya sulit tidur dengan segala kemungkinan yang tidak ia ketahui nantinya.

Ia masih ingat kejadian beberapa jam lalu dengan jelas, bagaimana Ryeowook menatapnya, memeluknya, dan mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang tidak tahu mengapa membuat Yeonmi merasa tidak rela.

[Flashback]

“Ponselmu berbunyi..”

“Biarkan seperti ini, tidak kah kau merindukanku Yeonnie?”

“Tak ada alasan untukku merindukanmu. Berhentilah, dan angkat panggilan itu!”

Ryeowook menarik nafasnya sejenak sebelum menghembuskannya kembali, ia lantas merogoh ponselnya dan melihatnya senejak. Ia terdiam sesaat memperhatikan sebuah nama yang manari-nari dilayar minta diangkat, pria itu terlihat kembali menghela nafasnya sebelum melirik sekilas kearah Yeonmi yang tengah menatapnya sebelum akhirnya menjawab panggilan itu..

“Yeobseo?”

Ryeowook tersenyum tipis mendengarkan nada khawatir dari seseorang disebrang sana. Ia kemudian melirik Yeonmi yang tengah terdiam dan mungkin pula mendengarkan apa yang ia katakan.

“Gwaenchana,, ada apa kau menghubungiku heum?” tanya nya kemudian.

Sedang ada pertemuan keluarga, mereka meminta kita untuk segera menentukan tanggal pertunangannya..”

Ryeowook terdiam dan terkejut saat mendengar perkataan Jae in disana, ia lantas melirik Yeonmi yang tengah diam sembari menunduk entah karena menangis atau lelah. Ia terdiam cukup lama hingga suara manis disebrang sana kembali mengintrupsinya.

“Nde~ Aku mengerti,, aku akan segera kesana, kau tak perlu khawatir..” Akhirnya ia berucap setelah sebelumnya diam agak sedikit lama. Ia mendengar helaan nafas lega dari sana, dan itu sukses membuatnya semakin merasa bersalah, ia kembali terdiam mendengar kan kata-kata yang gadis itu keluarkan untuknya hingga ia menjawab “Nado Saranghae Jae in-ya” dengan datar namun sukses membuat Yeonmi menoleh dengan tatapan terkejut dan juga.. Sakit.

Kedua duduk dibawah pohon maple yang cukup rindang dan tua, semilir angin berhembus dengan lembut menerpa wajah menawan diantara keduanya. Tak ada satupun yang berniat memulai percakapan pertama, semua larut dengan pikiran masing-masing, ego masing-masing dan kesalahan masing-masing.

Hingga untuk pertama kalinya Ryeowook menoleh menatap gadis yang masih setia memejamkan matanya menikmati semilir angin itu dalam diam. Gadis yang dengan sungguh-sungguh ia cintai selama 10 tahun ini. Tak peduli seberapa besar kekacauan yang telah ia perbuat karena tetap memilih gadis yang disampingnya ini untuk dicintainya sepenuh hati. Ia kemudian melirik jam tangan nya yang masih setia bertengger manis di pergelangan tangan kekarnya, waktunya semakin menipis dan ia harus mengatakan sesuatu untuk memastikan semuanya, sebelum benar-benar terlambat.

“Aku memintamu untuk bersamaku..” Ucapnya kemudian. Gadis yang sebelumnya tengah asik memejamkan matanya kemudian terbuka dengan cepat, menatap penuh protes pada pria yang berada disampingnya itu.

“Aku tak bisa..” Lirihnya. “Ada seseorang yang lebih mencintaimu..” sambungnya. Pria itu terdiam.

“Apa kau bahagia?” tanya pria itu pelan. Yeonmi dengan tegas menggelengkan kepalanya “Tidak, tapi aku akan mencoba bahagia..” Jawabnya. Ryeowook tersenyum.. pahit.

“Permintaanmu akan segera terwujud Yeonnie-ya” ujarnya lirih. Yeonmi menoleh cepat saat Ryeowook mengatakan hal itu, ia terdiam menunggu Ryeowook melanjutkan perkataannya.

“Kita akan benar-benar berpisah setelah hari ini. Tapi kembalilah padaku jika kau tak bahagia, aku.. masih menunggumu..” ucapnya, Yeonmi sedikit terkejut dengan perkataan Ryeowook barusan, namun tak terlalu kentara karena setelah nya ia justru tertawa garing.

“Dan menjadikanku sebagai monster yang ditakuti semua orang begitu? Ohh itu tidak akan terjadi Ryeowook-ah, Jae in mencintaimu dan kau juga harus membahagiakannya dengan kau yang juga mencintainya.. Aku akan mencoba bahagia walau aku rasa akan sangat sulit.. tapi inilah kenyataan yang harus kita hadapi bukan? Tuhan rupanya telah membuat garis takdir yang sama sekali tak bisa diubah, dan aku bukan salah satu yang berada digaris takdir itu. Aku bukan takdirmu dan kaupun bukan takdirku..” ucapnya dengan nada yang dibuat senormal mungkin, walau getaran ingin menangis dan juga jeritan hati yang tak rela.

“Sekarang pergilah,, Aku benar-benar sudah melepasmu, hal seperti ini tak pernah terpikirkan apa lagi terencanakan dalam otakku, jadi kumohon mulai saat ini jangan pernah ada pertemuan diantara kita,, Jae in membutuhkan mu. Buat keadaan yang sudah kacau ini seperti normal kembali, kumohon..” Ucap gadis itu sedikit bergetar dan membuat Ryeowook khawatir. Bukan.. Bukan ini yang ia inginkan, ia tidak ingin berpisah sepenuhnya pada gadis itu..

“Kenapa kita harus benar-benar berpisah?” tanyanya kemudian, Yeonmi tersenyum, “Karena jika kita masih bertemu, Aku khawatir tak bisa melepasmu..” Ucapnya yang kini matanya mulai berkaca-kaca. Ia menunduk, mencoba menyembunyikan matanya yang mulai memerah.

[Flashback Off]

Yeonmi menghela nafasnya perlahan, mengisi ruang paru-paru nya yang tampak kosong. Ia tersenyum sembari mengusap air matanya yang tiba-tiba saja terjatuh. Semuanya sudah berakhir sekarang, dan memang harus seperti ini. Ia dan Ryeowook benar-benar sudah terpisah, tidak ada lagi alasan untuknya bertemu dengan pria itu, apa lagi mengharapnya. Cintanya,, ia biarkan terpendam jauh-jauh dilubuk hatinya. Cukup dalam kisah cinta ini hanya ia dan Ryeowook yang terluka.. Karena jika ia tetap memilih untuk bersama pria itu, maka akan banyak hati yang terluka, dan ia tidak cukup egois untuk menyakiti mereka semua..

Ia beranjak dari kasurnya, mengambil koper miliknya dan mulai membenahi barang-barangnya, paling tidak ia harus pergi dulu dari rumah ini sebelum semua kemungkinan yang tak ia ketahuinya terjadi. Setelah ia keluar dari tempat ini, maka langkah selanjutnya adalah meninggalkan Negara ini setelah semua urusan miliknya telah selesai.

[Between Us]

Jae in baru saja sampai dirumahnya dengan pria itu yang mengantarkannya pulang. Ia tersenyum menatap Ryeowook, “Kau tak ingin masuk? Diluar sangat dingin..” Ucapnya menawarkan. Ya.. malam ini memang terasa sangat dingin sekali, ia sendiri bahkan sampai memakai mantel yang Ryeowook gunakan. Pria itu tersenyum, berniat menolak namun di urungkannya niat itu saat tiba-tiba sesuatu terlintas diotaknya.

“hn.. Hanya sebentar, apa tak apa?” tanya Ryeowook memastikan, Jae in tersenyum cerah mendengarnya. Ini kali pertama Ryeowook mengunjungi rumahnya, setidaknya sebelum mereka menikah bukankah lebih baik mengetahui rumah kekasihnya? Ini hanya pendapatnya saja, entah orang lain bagaimana.

Dengan senyum yang mengembang Jae in segera mengamit tangan Ryeowook dan menariknya masuk. Tapi belum saja ia membuka pintu, seseorang sudah lebih dulu keluar. Jae in terkesiap saat melihat sahabatnya itu keluar dari Rumah dengan dua koper yang digeretnya. Keterkejutan itu tak berbeda jauh dengan Ryeowook, pria itu bahkan sempat mematung saat melihatnya. Dan Yeonmi? ia justru tercengang dengan apa yang terjadi, dan baginya yang mengetahui semua masalahnya dan penyebabnya justru lebih gugup dan takut setelah semuanya berkumpul seperti ini dengan tak sengaja, ia takut jika tak mampu mengontrol emosinya atau tidak pria itu yang tak dapat menahannya.

“Eo.. Yeonmi Eodiga?” Tanya Jae in yang seketika itu juga memecahkan suasana yang mencengkam bagi Yeonmi. Gadis itu mencoba tersenyum, “Aku akan pergi keapartemenku yang baru, terlalu lama disini pasti akan membuatmu terbebani..” Ujarnya santai, Jae in terkekeh sembari menggelengkan kepalanya, “Kau terlalu berlebihan, tapi ini sudah malam..” Ucapnya sedikit khawatir, Yeonmi menggeleng meyakinkan gadis itu bahwa ia tidak apa-apa. Dan bukan hanya Jae in yang merasa khawatir tapi juga Ryeowook yang justru sangat khawatir. Masalahnya ini sudah malam dan malamnya pun telah larut, akan bahaya bagi gadis seperti Yeonmi yang keluar sendiri seperti ini.

Eo.. Yeonnie.. Ini Kim Ryeowook, kekasihku..” Ucapnya memperkenalkan Ryeowook saat ia menyadari bahwa sahabatnya itu mungkin belum mengenalnya.

Yeonmi tersenyum lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengajak Ryeowook bersalaman, “Shin Yeonmi..” Ucapnya dan sesegera mungkin ia melepaskan tangannya. “Kim Ryeowook..” Jawab Ryeowook dengan nada datar.

Yeonmi tersenyum dan kembali menatap Jae in, lama-lama menatap Ryeowook membuatnya selalu dilanda kegugupan. Terlebih pria itu yang terus menatapnya datar seperti tengah kesal, tapi kenapa?

“Aku pergi dulu Jae in-ya dan terimakasih atas tumpanganmu selama ini..” Ucap Yeonmi berusaha mengakhiri pertemuan diantara mereka.

“Tapi kenapa harus terburu-buru? Kau kan bisa pergi besok pagi, ini sudah malam Yeonnie dan terlalu berbahaya perempuan untuk keluar..” Sergah Jae in, Yeonmi terdiam. Sahabatnya benar, keluar malam memang bukanlah ide yang baagus. Ia sendiri juga merasa takut jika harus keluar malam-malam. Tapi apa yang harus ia lakukan? Berdiam diri dengan Jae in selalu membuatnya dirundung rasa bersalah. Ia juga tidak bisa berlama-lama berada dirumah itu, ia yakin karena setelah ini Ryeowook pasti akan lebih sering berkunjung kerumah Jae in.

Gwaenchana.. Aku akan baik-baik saja, kau tak perlu khawatir..” Ucap Yeonmi akhirnya. Ia kemudian membungkuk memberikan salam lalu segera beranjak dari tempatnya, namun baru beberapa langkah ia berjalan suara gadis itu kembali mengintrupsinya. “Apa kau mau diantar Ryeowook?” tanya gadis itu tiba-tiba. Dan tentu pertanyaan sederhana itu berhasil membuat baik Ryeowook ataupun Yeonmi menoleh kearahnya. Ryeowook menatap Jae in tak percaya namun senang sedangkan Yeonmi justru melayangkan tatapan protesnya.

Aniyo.. Akan ada taxi yang menjemputku..” Dustanya, namun langsung dipercaya begitu saja oleh Jae in. Gadis itu mengangguk, “Benarkah? Berhati-hatilah kalau begitu Yeonnie-ya.. Sering-seringlah berkunjung..” Ucap Jae in yang terakhir kalinya dan dijawab dengan anggukan mantap Yeonmi

[Between Us]

Yeonmi berjalan gontai sepanjang perjalanan, ia bingung harus menaiki apa untuk cepat sampai di apartemen barunya. Malam ini memang benar-benar sudah sangat larut. taxi pun sepertinya jarang ada yang melintas pada malam seperti ini. Sedikit ada rasa penyesalan saat menyadari kenyataan bahwa malam ini begitu sangat sepi. Ia merutuk dalam hati, seandainya saja ia berangkat lebih awal, pasti ia tidak akan bertemu dengan Ryeowook ataupun Jae in tadi, dan saat ini pun mungkin ia sudah berada diapartemen barunya untuk bersiap-siap tentang kepulangannya ke paris minggu-minggu ini.

Langkahnya terhenti ketika bola mata miliknya menangkap segerombolan pria-pria aneh bertubuh besar tengah berjalan berlawan arah dengannya. Masih jauh memang, tapi cukup menyadarkannya bahwa pria-pria itu tidak terlihat baik, bagaimana tidak? Mereka semua berjalan gontai dengan asap Rokok yang mengepul juga ada beberapa yang membawa sebuah botol minuman keras. Yeonmi semakin panic saat menyadari bahwa salah seorang diantara mereka melihatnya dan menunjuk-nunjuk kearahnya seolah memberitahu pada rekan-rekan nya bahwa ada seorang gadis yang berjalan sendirian.

“Hey~ Gadis manis!” Teriak salah seorang diantara mereka, Yeonmi terkejut dan keterkejutannya bertambah saat ia merasa tangan kanannya dicekal oleh seseorang.

“Ikutlah denganku..” Ucap seseorang itu dan dengan gerakan cepat ia membawa gadis itu bersama dengan koper nya. Yeonmi duduk dibagian depan samping pengemudi. Sementara seseorang yang menolongnya duduk dibalik kemudi setelah sebelumnya menyimpan kopernya di jok belakang.

“Kau bodoh!” Yeonmi tersadar dari keterkejutannya saat seseorang disampingnya membuka suara. Ia menatap pria disampingnya dengan mata membulat. Sungguh ia baru menyadari bahwa seseorang yang baru saja menyelamatkannya adalah Kim Ryeowook, pria yang tak ingin ditemuinya.

“Bukankah Jae in sudah mengatakan padamu bahwa malam adalah waktu yang tidak tepat?” Ucap pria itu dengan nada marahnya. Gadis itu kembali dibuat terkejut, ini pertama kalinya Ryeowook berucap dengan sedikit berteriak pada seorang gadis. Ia terdiam, tak berniat untuk mengatakan sesuatu atau menyanggah sesuatu. Ia hanya menunduk takut, antara menyesal dan juga takut dengan kemarahan Ryeowook sekarang.

Ryeowook menghela nafas kasar dan kemudian menghentikan mobilnya dipinggir jalan. “Bagaimana jika aku tak menemukanmu tadi, Apa yang akan kau lakukan heum?” tanya Ryeowook lagi. Tidak peduli seberapa takutnya gadis itu karenanya sekarang, karena ia khawatir dan ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika ia tidak datang barusan.

Dilihatnya kembali gadis itu, ia terlihat tengah menautkan kedua jarinya dan meremasnya lembut. Kemudian menghela nafas beberapa kali, dan setelahnya gadis itu mengangkat kepalanya untuk menatap Ryeowook, “Bagaimana bisa kau menjemputku? Bukankah kau tadi sedang bersama Jae in?” tanya Yeonmi dengan wajah tenang yang dibuat-buat.

“Kenapa kau seperti ini?” tanya Ryeowook frustasi, “Kenapa kau masih menganggap semuanya baik-baik saja?” sambungnya. Bukannya menjawab Yeonmi justru tersenyum. Tapi Ryeowook tahu kalau gadis itu sebenarnya tengah dilanda ketakutan.

“Terimakasih sudah meyelamatkanku..” Ucap Yeonmi dan kemudian hendak membuka pintu mobil, namun kegiatannya terhenti saat Ryeowook menahannya, Yeonmi menatap Ryeowook penuh protes karena telah menghentikan kegiatannya, “Aku tak akan membiarkanmu jalan sendiri lagi..” Ucapnya lalu berniat kembali menjalankan mobilnya.

“Bukankah tak seharusnya kita bertemu?”

Ryeowook terdiam tak berniat sama sekali menjawab pertanyaan Yeonmi, ia hanya menganggap ucapan gadis itu hanyalah angin lalu. “Turunkan aku sekarang Ryeowook-ssi” pinta Yeonmi lagi saat mobil mulai berjalan.

“Ryeowook—

“Bisakah kau diam?” tanya Ryeowook dengan sedikit nada keras membuat gadis itu terkejut, tak hanya itu, Ryeowook juga menghentikan mobilnya mendadak hingga membuat gadis itu menyentuh dashboard mobil. Ryeowook menghela nafas beberapa kali untuk meredam amarahnya. Ia lantas menatap gadis itu yang kini tampak berkaca-kaca. Membuat sedikit ada rasa menyesal karena telah membuat gadis itu takut.

“Aku hanya mengantarmu, dan setelah ini kau bebas melakukan apapun..” Yeonmi menoleh kearah Ryeowook dengan cepat, kenapa mendengar hal itu giliran ia yang merasa tak rela?

Tanpa mampu diduga dan dihentikan, liquid bening itu menetes begitu saja dari sudut mata cantiknya. Dan saat itu terjadi tak ada yang bisa Ryeowook lakukan selain menarik gadis itu kedalam pelukannya. “Maafkan aku..” Ucap gadis itu dengan nada menyesal.

Ryeowook menggeleng, “Jangan meminta maaf, tak ada yang salah disini.” tukas Ryeowook. Gadis itu mengangguk, mengiyakan jawaban Ryeowook dan membalas pelukannya. Jujur saja ia sangat takut sekarang, setelah kejadian beberapa menit yang lalu masih membuatnya bergetar karena ketakutan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi jika Ryeowook tidak berada disana menjemputnya.

“Jangan menangis lagi heum?” ucap Ryeowook setelahnya sembari melonggarkan pelukannya, menghapus air mata Yeonmi dengan kedua ibu jarinya.

“Jangan pergi malam-malam lagi.” Ryeowook kembali berucap, tadi ia begitu emosi karena telah mengetahui bahwa gadis itu hampir saja terluka jika ia tidak datang tepat waktu. Beruntung instingnya benar saat ia mencari gadis itu. Jika ia terlambat satu menit saja dan kemudian ia mengetahui bahwa gadis itu terluka, ia benar-benar tak bisa memaafkan dirinya sendiri.

“Jangan pergi, kumohon..” Kalimat itu tertahan diujung lidah Yeonmi, ia tak bisa mengatakannya. Entah apa sebabnya yang jelas rasanya sulit sekali mengatakan kalimat itu. ia tak bisa berbuat apa-apa selain mengangguk mengiyakan nasihat Ryeowook dan menikmati setiap detik, terakhir yang bisa ia lakukan bersama pria itu.

Ada banyak kata yang ingin kuungkapkan untukmu, ada banyak perasaan yang ingin kusampaikan padamu, tapi kenapa rasa nya sulit sekali? Bahkan untuk mengatakan bahwa aku merindukanmu rasanya susah. Semua kalimat itu seolah berhenti ditenggorokannku dan setelahnya hilang entah kemana. Aku mencintaimu Kim Ryeowook-ssi

-CUT-

Advertisements

5 thoughts on “[Fan Fiction] Between Us || Chapter 7

  1. wookpil

    Ini makin galau aja ceritanya. saling menyakiti diri sendiri dan org lain pdahal kalau move on udh pasti deh mreka bahagia. Wkwk *idup ga segampang ngomong ya* XD
    Lanjuuut… jangan bikin mereka sakit hati lagi dong yaaaa. Bikin mereka yg penuh cinta *ceileh*

    Like

  2. ersaariestastories

    jadi semakin complicated aja.. wook emg karakter nya egois di satu sisi dia mau memiliki yeonmi tp dia juga gak mau ninggalin jae in.. kasian mereka bertiga sama-sama tersakiti.. wook jadi orang tegas napa #marahinWookpa hehehe xD

    jangan lama2 di lanjut nya ya 🙂 keep writing 😀

    Like

  3. uchie vitria

    makin galau aja kan jadinya
    ryeowook mau ambil keputusan apa sici
    jangan sampai bikin yeonmi bertindak diluar akalnya ya
    semua sama” tersakiti

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s