[Fan Fiction] Flashlight || Part2

flashligh3t

Title : Flashlight-Part2 || Author : Jung Hye Rim || Main Cast : Kim Ryeowook – Shin Yeonmi ||Support Cast : Cho Kyuhyun, Kim Jae in, Lee Donghae, Kim Jong Woon || Genre : Romance, Sad, Angst, Hurt || Rating : PG 17+ || Disclaimer : Plot and Story is mine, All the main character is belong to God and their parent. Just leave this blog if you don’t like it. Don’t bashing me because the story just a fan fiction 🙂

==Happy Reading==

 

Ketika Aku bertemu denganmu, Mungkin saat itu dunia berhenti begitu saja. Aku nyaris lupa bagaimana caranya Aku menarik nafas hanya dengan memandang matamu yang sebening air digelas kaca.

Busan, 2008

Yeonmi baru saja mendudukkan tubuhnya disalah satu kursi-kursi yang dibiarkan begitu saja diatas atap sekolahan. Ia menghela nafasnya beberapa kali sebelum akhirnya mengeluarkan sebuah note kecil berwarna biru muda dan juga beberapa makanan ringan yang terletak ditas kecil miliknya. Bersantai diatas atap sembari menikmati semilir angin dan juga mengemili makanan ringan yang dibawa adalah kebiasaannya semenjak ia bersekolah disini,, Ah Ani.. tapi semenjak sahabatnya yang bernama Kim Jong Woon yang sering ia panggil Yesung itu memutuskan untuk pergi ke Seoul.

Menyendiri adalah hobi barunya sekarang, tak ada lagi Shin Yeonmi yang cengeng, manja, dan juga jahil yang tak jarang dimarahi guru atau ketua kelas. Kebiasaan aneh itu seolah lenyap begitu saja sepeninggalnya Yesung. Ia sendiri heran mengapa seperti itu, namun yang jelas dirasakannya adalah ia kesepian..

Selain menyendiri, menulis sesuatu juga adalah hal menjadi hobi baru yang tiba-tiba dimilikinya. Hanya menulis tentang perasaannya saja, bagaimana hal yang dialaminya dan curahan hati lainnya. Ia bukanlah orang yang mudah mempercayai seseorang, hanya ada satu orang yang dipercayainya yaitu Yesung. Pria itu sudah berperan lebih dari apa yang dinamakan Ibu, Ayah atau Kakak. Pria itu selalu tahu cara mengendalikannya dan memang hanya ia yang bisa memahaminya, bahkan dirinya sendiripun ia rasa sulit memahami diri sendiri. Dan ia ingin sekali memperbanyak tulisannya untuk mengingatkan dirinya sendiri untuk bercerita pada Yesung nanti. Karena dalam dirinya ia bertekad ingin menemui Yesung setelah sekolah SMU nya disini selesai dan tabungan yang dimilikinya sudah cukup.

Drrrtt..

Suara dering ponselnya berhasil mengalihkan konsentrasinya. Menghela nafas sebelum membaca sebuah pesan masuk. Akhir-akhir ini banyak sekali orang yang mengirimi pesan pesan aneh. Namun untuk kali ini ia terpaksa harus membulatkan matanya dengan jantung yang berdebar kuat begitu sebuah kalimat yang entah mengapa sulit dicerna otaknya menghiasi layar ponselnya.

Apa kau merindukan Orang tuamu, Yeonnie-ya?

Kalimat pendek yang sukses membuat jantungnya hampir copot begitu ia membacanya. Bagaimana bisa orang yang mengirimi pesan ini mengetahui namanya? Bahkan bukan hanya sekedar nama biasa yang ia tahu.. nama itu, adalah nama panggilan sayang Yesung dan nama itu juga adalah nama panggilan disebuah surat yang dibawa bersamanya sewaktu ia kecil.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia mulai menggunakan jari-jarinya menjawab pesan singkat yang dikirimi seseorang itu. Dan tak perlu waktu lama untuknya menunggu jawaban yang seseorang itu balas untuknya karena setelahnya suara dering ponsel kembali terdengar.

Aku Han Yoo Jin, Seseorang yang begitu sangat mengenalmu dan tahu tentang kisahmu.. Orang tuamu ada di Seoul sekarang, aku bertemu dengannya beberapa hari lalu..

Air matanya entah mengapa saat ini lolos begitu saja mendengar itu, entah mengapa ada sedikit kelegaan baginya kalau ternyata kedua orang tuanya masih hidup. Tapi perasaan apa yang harus ia rasakan sekarang, Sedih ataukan bahagia? Bukankah kedua orang tuanya sudah membuangnya? Dan bukankah itu artinya mereka tak menginginkan dia lagi?

Yeonmi jelas tak ingin memikirkan itu sekarang, seberapa bencinya mereka padanya atau mungkin seberapa kesalnya ia pada mereka, mereka tetaplah kedua orang tuanya dan ia sangat ingin menemui mereka. Setidaknya memberikan mereka kesempatan kedua tak ada salahnya kan? Walaupun yang berjuang untuk bertemu adalah dirinya, ia tak ingin mempermasalahkannya.

Dan sejak pesan singkat pertama itu ia sering mendapat kabar dari pria yang bernama Han Yoo Jin itu mengenai orang tuanya, dan sejak itu tekadnya untuk pergi ke Seoul semakin kuat demi apapun ia ingin sekali bertemu dengan kedua orang tuanya.

Yesung Oppa.. Aku akan segera bertemu dengan kedua orang tuaku..

[Flashlight]

Ryeowook menjalankan mobilnya dengan tenang disepanjang jalanan Seoul, ditemani dengan music jazz yang mengalun merdu di radio. Ia menghela nafasnya sebelum akhirnya menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati seorang wanita yang masih tertidur pulas di sampingnya. Ia kembali menghela nafasnya, beberapa menit yang lalu ia baru saja menyelamatkan gadis itu dari serangan seorang pria yang tidak dikenalnya. Ia bahkan juga tidak tahu siapa gadis ini..

Dan entah mengapa mengingat itu, mengingatkan hal lain yang baru saja terlintas dipikirannya. Apa yang harus ia lakukan dengan gadis ini? Ryeowook sontak menghentikan laju mobilnya begitu saja dan beruntung jalanan sedang sepi malam ini jadi ia tak perlu mendapatkan masalah baru.

Ryeowook menepuk jidatnya ringan. Bagaimana dengan gadis ini? Apa harus ia membawanya pulang ke apartemennya? Tsk.. kenapa tak terpikirkan olehnya untuk bertanya dimana alamat rumah gadis itu dan dengan begitu ia mudah membawanya pulang. Ah.. Lupakan, jika pun ia masih diberi kesempatan bertanya mustahil bagi gadis itu menjawabnya. Toh Sejak tadi pun Ryeowook sudah bertanya bagaimana  keadaannya saja tak dijawab.

Ia kembali menolehkan kepalanya menatap gadis itu, sesaat ia tertegun mengamati wajah damai yang baru ia sadari dimiliki oleh gadis itu. Ia sedikit meringis pelan melihat beberapa luka lebam diwajah gadis itu dan juga sedikit darah yang membekas disudut bibirnya. Bagi seorang wanita yang rapuh, ia rasa luka seperti itu sangatlah menyakitkan. Ia berdecak pelan sebelum akhirnya kembali menjalankan mobilnya menelusuri jalan menuju rumahnya.

Ia tidak ingin banyak ambil pusing untuk masalah ini. Biarkan saja gadis itu menginap dirumahnya dan keesokan harinya ia akan mengantarnya pulang atau pergi kerumah sakit. Yang jelas hari ini ia terlalu lelah dan sepertinya malas memikirkan hal yang seperti itu.

***

“Ahh.. Appo..”

Mian..”

Mata Yeonmi membulat seketika begitu bola matanya bertemu pandang dengan pria yang berada dihadapannya dengan tatapan bersalah, dengan cekatan ia segera memundurkan tubuhnya kebelakang berniat melindungi diri dan menghindar. Takut-takut jika pria itu adalah pria yang sama dengan pria yang baru saja menyakitinya.

“Jangan takut, aku pria yang menyelamatkanmu..”

Yeonmi sedikit menyipitkan matanya menyelidik, tapi jika dipikir-pikir pria ini memang bukan pria yang memukulnya tadi, dan jika ia tak salah mengingat, bukankah seseorang berhasil menyelamatkannya kan?

Jinja? Kau bukan pria yang tadi?” Tanya Yeonmi memastikan.

Aniya.. Kau salah jika menganggapku sebagai pria yang tadi, aku hanya ingin menyelamatkanmu dan berusaha menyembuhkan luka dan memar disudut bibirmu dan lenganmu..” Ucapnya dengan ramah dan kemudian Yeonmi mengangguk mengerti. Ia bahkan tak melakukan apapun saat dengan tidak sopannya pria itu kembali mendekat kearahnya dan kembali mengompres sudut bibirnya dengan handuk dan air hangat.

“akh..”

“Tahan sebentar heum?”

Entah apa yang dipikirkannya kali ini. Karena sepertinya ada yang sedang tidak beres didalam dirinya. Ia bukanlah seorang gadis yang dengan mudahnya mempercayai seseorang begitu saja apalagi terhadap seorang pria walaupun seseorang itu adalah seseorang yang sudah menyelamatkannya seperti ini. Tapi sepertinya hal itu tak berlaku pada pria ini. Apa alasannya pun Yeonmi sepertinya tidak tahu, apa karena jantungnya yang sedang berdegup kencang? Entahlah.

Tapi jujur, ini pertama kalinya ia seperti ini, Jantungnya yang tiba-tiba saja berdegup dengan hebat tanpa ia sadari saat mata cantiknya bertemu dengan caramel cerah yang teduh itu. Ia bahkan tak berkedip sama sekali ketika pria itu menyentuh bagian tubuhnya yang terkena pukulan dengan mengkompresnya perlahan. Seperti yang dikatakannya bahwa ia tak merasakan sakit kecuali hanya degupan jantung yang tak dimengertinya. Apa mungkin karena ini pertamakalinya ia bertemu dengan seorang pria dan berada dalam jarak yang dekat? Mungkin saja, dan ia berharap memang seperti itu.

“Selesai..” Ucap Pria itu tenang dan kemudian menjauhkan tubuhnya sedikit. “Kau harus banyak istirahat..” Imbuhnya dan hanya dijawab dengan anggukan kepala sedikit bingung. Pria itu tersenyum dan kemudian berjalan keluar kamar setelah menggumamkan ‘Selamat malam’.

Sepeninggal pria itu, Yeonmi hanya bisa tersenyum tipis dengan pandangan yang masih mengarah pada pintu yang baru saja dilewati pria itu. Dan sesaat kemudian ia berusaha menidurkan tubuhnya yang memang terasa sedikit nyeri dibeberapa bagian tubuh. Ia ingin tidur malam ini dan tak ingin memikirkan apa yang baru saja dialaminya, tentang mungkin saja pria itu memang sedang membohonginya selama 5 tahun terakhir ini. Atau memang tak akan ada jalan untuknya bertemu dengan kedua orang tuanya. Atau mungkin memikirkan bagaimana besok pulang dan berbicara pada pria itu yang sama sekali tak dikenalnya. Atau apalah itu, ia tidak ingin memikirkannya.

***

Mata cantik Yeonmi terbuka saat sinar mentari pagi menorobos masuk kedalam celah kamar yang ditempatinya dan menusuk kornea matanya perlahan. Ia sedikit mengerjapkan matanya berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang menyilaukan matanya. Ia bangun dengan sedikit lebih segar pagi ini, walau denyutan sakit yang dirasakannya masih belum menghilang, tapi sungguh ia merasa lebih baik sekarang.

Yeonmi berniat beranjak dari tempatnya dan mencuci wajahnya lalu segera berpamitan pulang, memberi ucapan terimakasih yang tulus karena sudah bersedia menyelamatkannya dan memberikannya tempat untuk tidur yang sangat nyaman dan juga telah mengompresnya semalam. Ya.. sebaiknya ia cepat pulang karena perkerjaannya dan juga mungkin kehadirannya yang mengganggu pria itu.

Yeonmi melangkah keluar setelah membersihkan badannya dan juga membereskan barang-barangnya. Begitu ia keluar dari kamar itu, ruangan yang ditemuinya adalah ruangan yang menurut Yeonmi adalah ruangan tamu, tapi sayangnya ruangan itu tampak sepi dan sepertinya tidak ada tanda-tanda bahwa pria yang baru saja menyelamatkannya itu ada.

Yeonmi menelusuri ruangan itu dengan perlahan berusaha mengamati keadaan sekitar takut-takut ada pria itu. Yah.. jika dilihat-lihat ia memang seperti pencuri yang diam-diam masuk kedalam rumah seseorang. Tapi sebenarnya ia sungguh tak berniat seperti itu. Ia hanya ingin mencari pria itu untuk segera berpamitan pulang.

“Eoh? Kau sudah bangun?”

Ia hampir saja terjungkal kebelakang jika saja ia tak merasa bahwa itu tindakan bodoh. Suara seseorang yang tiba-tiba menyapa pendengarannya tanpa disadarinya sedikit membuatnya terkejut. Kepalanya menoleh dan mendapati pria yang sama dengan pria yang semalam sedang berdiri menatapnya didepan pintu yang Yeonmi kira adalah sebuah kamar. Ia mengangguk lalu menegakkan tubuhnya dan menghadap pria itu. Tanpa mengatakan apapun dan hanya tersenyum pria itu lantas kembali melangkahkan kakinya melewatinya dan memasuki sebuah ruangan yang memang terlihat jelas bahwa itu sebuah dapur. Yeonmi juga tak mengatakan apapun dan hanya menghela nafasnya lalu mengekori pria itu.

“Duduklah,, Kita sarapan bersama..” Ucap pria itu tenang dan kemudian menoleh kearahnya sekilas kemudian tersenyum tipis, sangat tipis bahkan bisa saja Yeonmi tak menyadari jika tidak memperhatikannya dengan baik-baik. Dengan perasaan canggung ia pun segera mendudukkan tubuhnya disebuah kursi yang kebetulan hanya ada satu kursi yang tersisa. Awalnya Yeonmi bingung mengapa hanya ada satu meja makan disini yang dilengkapi hanya dua kursi, namun setelah menerka-nerka sepertinya pria itu memang tinggal sendiri, jadi wajar jika seperti itu kan?

Yeonmi tak langsung menyantap sarapannya dan memilih untuk melihat kearah pria itu yang kini sudah menyentuh sarapannya sendiri. Ia pasti bangun kesiangan karena pria itu yang sekarang sudah lengkap dengan jas kerjanya juga sarapan yang mungkin juga disiapkannya. Ia heran sekaligus merasa kagum saat melihat seorang pria yang tinggal sendiri dan mampu melakukan semua perlengkapannya dengan mandiri. Memikirkan itu perlahan membuat senyumnya menggulum otomatis.

“Jadi, Kau tinggal sendiri?” Yeonmi bertanya berusaha memecahkan keheningan diantara mereka dan juga melepas rasa canggung yang dimilikinya. Namun pria itu sepertinya tak berniat untuk melakukan itu semua karena yang dilakukannya hanya mengangguk dan makan.

“Terimakasih..” Ucapnya akhirnya. Pria itu kemudian menoleh kearahnya sekilas lalu kembali mengangguk, Yeonmi yakin pria itu sudah mengerti maksudnya mengatakan hal itu jadi ia tak perlu menjelaskan ulang.

“Hn..” Pria itu hanya mengangguk sekilas dan kembali suasana hening itu tercipta. Yeonmi tak memiliki banyak pilihan kecuali menyentuh sarapan yang telah pria itu siapkan.

Yeonmi tak menyadari bahwa pria itu kini sudah bangkit dari tempatnya duduk setelah sebelumnya meneguk air putih dan kemudian kembali berlalu meninggalkannya sendiri. Yeonmi mendengus, sedikit kesal dengan sikap pria itu yang sangat dingin dan juga cuek. Apa ia selalu memperlakukan tamunya seperti itu? Yahh.. Walau Yeonmi menyadari bahwa ia disini bukan tamu, melainkan hanya orang asing yang kebetulan diselamatkan pria itu. Tapi tetap saja, tak ada salahnya ia menerima perlakuan seperti seorang tamu..

Menghela nafas, akhirnya Yeonmi beranjak dari tempatnya duduk setelah sebelumnya ia juga meminum air putih sebagai penutup. Ia segera melangkahkan kakinya menuju ruang tengah yang kebetulan ada pria itu yang masih sibuk sendiri.

“Kau sepertinya terburu-buru ya?”

“Eoh..”

Yeonmi terpaksa kembali menelan ludahnya dengan kesal saat lagi-lagi pertanyaan yang ia lontarkan hanya dijawab oleh pria itu dengan ‘Ya’ ‘Eoh’ dan ‘Hn’

Yeonmi tak ingin bertanya lagi setelah itu dan memilih untuk menyandarkan tubuhnya yang masih sedikit linu itu ketembok lift.  Walaupun ia mencoba untuk bersikap biasa saja, tapi entah mengapa sudut matanya selalu memperhatikan pria itu. Sedikit mengagumi ciptaan tuhan pada wajah pria itu yang memang terlihat jauh lebih mempesona jika sedang diam seperti itu.

“Namamu siapa?”

Yeonmi menolehkan kepalanya begitu sebuah suara mengintrupsinya. Jantungnya mendadak berdegup hebat saat matanya kembali bertemu dengan caramel cerah itu. Ia hanya tersenyum sekilas sebelum akhirnya menjawab, “Shin Yeonmi..”

Pria itu terlihat mengangguk sembari tersenyum.. Manis, “Kim Ryeowook” Ucapnya dan setelahnya keadaan kembali hening. Yeonmi sibuk dengan jantungnya sementara pria itu sibuk dengan ponselnya yang bahkan saat ini sudah kembali bebicara dengan seseorang didalam telepon. Yeonmi sama sekali tak memperdulikan itu, hanya diam sembari memandangi sepatunya. Dan beruntung tak lama dari itu pintu lift terbuka dan ia dengan pria yang mengaku Kim Ryeowook itu segera melangkahkan kakinya keluar.

Ia membiarkan Ryeowook melangkah lebih dulu darinya sementara ia sendiri melangkahkan kakinya keluar, membiarkan Ryeowook yang kali ini sudah menghilang entah kemana. Kembali menghela nafas dan kali ini lebih kasar hingga poninya menari diatas udara. Entah mengapa ia merasa sedikit kesal tadi saat pria itu tak berpamitan padanya saat keluar dari lift. Setidaknya seorang pria harus berbasa-basi pada perempuankan? Ya.. misalnya mengatakan, ‘Aku pergi dulu, kau berhati-hatilah,,’ atau mungkin, ‘apa perlu kuantar sampai rumahmu?’ atau juga, ‘Bagaimana lukamu, apa sudah lebih baik?’ Ya.. Setidaknya basa-basi seperti itulah. Walaupun ia sama sekali tak mempermasalahkan itu, ia hanya sedikit kesal saja.. lagi pula, sifat orang lain berbeda-beda kan? Mungkin Ryeowook memiliki sifat yang cuek dan cenderung tak peduli dengan hal yang disekitarnya atau memang sulit bergaul dengan seseorang, entahlah..

Yeonmi menghentikan langkahnya begitu sebuah mobil berhenti tepat didepannya, Ia sedikit mengerjapkan matanya terkejut. Bukan karena adanya sebuah mobil yang berada didepannya namun seseorang yang kini tengah menatapnya. Pria itu, kenapa ada disini?

“Masuklah, Kau tak akan membiarkan lukamu semakin parahkan karena berjalan jauh?” Dan kalimat itu berhasil mengembalikan kesadarannya namun ia tak langsung masuk kemobil pria itu, ia hanya ingin memastikan saja..

“Tunggu apa lagi? Masuklah..” Belum saja ia mengeluarkan suara untuk bertanya, pria itu sudah kembali menyuruhnya masuk. Dan melihat tatapan pria itu tiba-tiba saja kerja otak Yeonmi menjadi tidak beres, hingga tanpa mengatakan apapun ia langsung memasuki mobil mewah pria itu.

“Kau akan membawaku kemana?” Tanya Yeonmi akhirnya saat mobil yang ia tumpangi sudah mulai berjalan.

“Tentu saja mengantarmu pulang, memangnya mau kemana lagi?” Tanya Ryeowook dengan begitu santainya, dan Yeonmi hanya mengangguk menanggapinya. Dengan senyuman manis tiba-tiba saja tersungging di bibir ranumnya. Entah perasaan apa itu yang jelas saat ini ia begitu senang sekali. Pria itu memang bersikap dingin, tapi ia tak menyangka bahwa ternyata pria itu masih memperdulikan seorang tamu dadakan sepertinya.

“Kau bisa menunjukkanku arah rumahmu..”

***

Pesta itu terlihat sangat mewah, diadakan disalah satu lantai teratas sebuah hotel termewah dikorea, yang dihadiri oleh seluruh kolega yang merangkap  sebagai pemilik kedudukan tinggi diperusahaan yang tersebar entah dimana saja. Pesta yang dibuat oleh Shin’s Group memang tak bisa dianggap remeh, pesta menakjubkan yang selalu mengundang sensasi itu kembali dilaksanakan untuk yang ke 36 kalinya sejak perusahaan yang berkerja dibidang pariwisata dan hotel itu didirikan. Ryeowook menghela nafasnya,  sedikit bosan dengan keadaan pesta yang masih cukup ramai. Hari ini, entah mengapa tubuhnya terasa lelah sekali sejak seharian penuh ia berkerja dengan sangat keras mengatur laporan-laporan dan juga rapat-rapat mendadak yang diterimanya.

Tanpa mengatakan apapun, ia lantas beranjak dari tempatnya duduk dan melangkahkan kakinya kebalkon hotel yang kebetulan terletak tak jauh dari tempatnya duduk. Disini cukup sepi dan ia rasa akan lebih nyaman berada ditempat ini sendirian. Angin malam menerpa wajahnya, memainkan rambutnya yang tanpa ia sadari membuat para wanita disana berdecak kagum. Ia memejamkan matanya berusaha menikmati angin malam dan juga melepaskan rasa lelahnya.

“Kau disini rupanya..”

Ryeowook menoleh kesampingnya begitu suara merdu sampai ditelinganya, Dan mendapati Shin Hee Jin yang sedang berdiri disampingnya dengan dress panjang ketat berwarna biru sapphire yang terlihat pas ditubuhnya yang sintal dengan pandangan lurus kedepan yang membiarkan wajahnya diterpa angin malam.

Ryeowook tak menjawab dan lebih memilih diam dan kembali pada posisinya sembari bergumam sedikit memberikan respon pada gadis itu sebagai tanda bahwa ia menyadari kehadirannya. Tak ada hal yang dibicarakan kedua orang itu, baik Ryeowook ataupun Hee Jin memilih untuk larut dalam pikiran masing-masing.

Appa.. Ingin kita menemuinya..” Ucap Hee Jin tiba-tiba hingga membuat Ryeowook menoleh cepat. Menatap Gadis itu yang juga menatapnya.

“Kenapa harus Kita?”

Hee Jin nampak menghela nafasnya pelan sebelum melangkahkan kakinya mendekati Ryeowook, “Kau tidak lupa dengan perjodohan itu kan?” Hee Jin balik bertanya. Ryeowook menghela nafas dan kemudian kembali pada posisinya yang awal, berusaha menghindari tatapan menggoda yang dilontarkan Hee Jin untuknya. Ia tidak lupa, tak pernah lupa masalah itu. Ia tahu semua perjodohan ini gadis itu yang melakukannya. Gadis itu meminta Ayahnya untuk menjodohkannya dengan Ryeowook, hingga perjodohan itu tak dapat terelakkan baginya karena gadis itu selalu memiliki cara agar ia menyetujuinya.

Ryeowook kembali menghela nafasnya dan menatap Hee Jin, “Kita bicarakan ini lain kali saja Hee Jin-ssi.. Karena sepertinya aku harus segera pergi..” Ucapnya seramah mungkin dan tanpa meminta persetuan ia segera melangkahkan kakinya menjauh dari gadis itu. Kepergian Ryeowook rupanya telah membuat Hee Jin berdecak kesal. Tapi ia tak pernah menyerah begitu saja karena saat ini ia bahkan lebih berambisi untuk mendapatkan hati Ryeowook. Ia tak pernah mengerti pada dirinya sendiri yang selalu menginginkan Ryeowook untuk berada didalam pelukannya. Sejak awal, pria itu sudah membuatnya tertarik dengan mudahnya. Walaupun Ryeowook mungkin belum melihat kehatinya tapi ia yakin tak ada pria satupun yang tidak tertarik dengan pesonannya. Dan ia yakin Ryeowook pasti akan segera didapatkannya. Ia hanya perlu berusaha ‘kan?

***

Yesung tersenyum senang saat bola matanya kembali melihat tingkah-tingkah manis gadis masa kecilnya yang selalu kekanakan. Selama hampir 2 hari ia dibuat khawatir tentang keadaan gadis ini yang baru saja ditipu seseorang. Tapi dengan melihatnya tersenyum seperti ini sudah cukup bagi Yesung untuk meyakinkan diri sendiri bahwa rupanya gadis itu masih terlihat baik-baik saja. Walaupun masih ada luka memar yang terlihat tapi ia cukup tenang sekarang.

“Jangan memperhatikanku seperti itu Oppa, Aku tau aku mempesona..” Ucapnya diakhiri dengan kekehan ringan sembari menyantap Ice Cream nya. Yesung yang kemudian tersadar dari lamunannya hanya terkekeh sesaaat sebelum akhirnya mengangguk membenarkan.

“Kau benar, kau memang mempesona..” Ujarnya dan disusul dengan masuknya sesendok Ice Cream kedalam mulutnya.

Yeonmi tak bisa menahan senyum gelinya melihat itu semua. Namun senyum itu tak bertahan lama karena setelahnya ia mengingat sesuatu, “Oppa.. Apa kau mendapatkan informasi mengenai Han Yoo Jin?” Tanyanya pelan. Membuat Yesung terpaksa harus menghentikan kegiatan makan Ice Creamnya. Ia lantas menatap Yeonmi dengan lembut, dan Yeonmi merasa sangat tenang melihat tatapan Yesung padanya. Tatapan hangat dan lembut itu seolah mengatakan pada Yeonmi untuk kuat.

“Kau tak perlu memikirkan Han Yoo Jin lagi, heum? Dia sudah mendapatkan hukuman yang seharusnya.”

Yeonmi tersenyum tipis menanggapi pernyataan Yesung tadi, ia senang dengan apa yang Yesung katakan bahwa pria itu mungkin tak akan mengganggunya lagi. Tapi, apa itu artinya tidak akan ada Orang Tua dalam hidupnya?

“Kau yakin? Maksudku.. Apa kau yakin dia tidak memiliki rahasia apapun tentang orang tuaku? Bukankah mungkin saja pria itu memang menyimpan rahasia mengenai kedua orang tuaku?” Yeonmi bertanya, berusaha memastikan Yesung untuk lebih bertindak hati-hati. Ya,, Hati-hati karena mungkin pria itu memang sedikit tahu tentang kedua orang tuanya.

“Dia bukan pria baik-baik Yeonmi, tak ada hubungan dia dengan kedua orang tuamu..”

Yesung menahan nafas ketika ia melihat Yeonmi menghela nafasnya sedikit kasar, ia sedikit takut jika perkataannya mungkin menyinggung gadis itu.

“Tapi kenapa dia menghubungiku selama ini?”

“Dia memang mengincarmu sejak dulu, aku juga tidak tahu apa alasannya mengapa ia ingin sekali mendapatkanmu. Yang aku tahu, dia hanya orang jahat yang selalu menjadikan wanita sebagai korbannya. Beruntung ada seorang pria yang kebetulan menyelamatkanmu saat itu..” Yeonmi kembali menyunggingkan senyumnya mendengar pernyataan Yesung barusan. Entah mengapa bibirnya selalu tersenyum otomatis saat ia meningat hari dimana pria itu menyelamatkannya. Memang tak ada hal istimewa tapi cukup membuatnya senang.

“Hhh~ Aku tahu ini pasti akan terjadi, Seharusnya aku tak langsung percaya begitu saja pada setiap orang ‘kan?”

Keure.. Mulai sekarang, jangan mudah mempercayai seseorang Yeonmi-ya.. Karena tak semua orang selalu bersikap baik dan jujur..”

Joa.. Aku akan selalu mengikuti saranmu..” Ucapnya dengan senang. Ia senang, karena masih ada satu orang yang berada disampingnya, menyemangatinya dan kemudian melindunginya. Walaupun ia sangat ingin bertemu dengan kedua orang tuanya dan dengan begitu ia masih mempercayai pria itu, ia akan berusaha melupakan semuanya. Jika memang tuhan mengijinkannya untuk bertemu dengan Ibu dan Ayahnya pasti akan banyak cara untuk bertemu kan? Meskipun hanya kecil kemungkinannya. Ia memang benci mengakuinya, tapi bukankah jika kedua orang tua nya memang sengaja membuangnya, bukankah itu artinya mereka memang tak menginginkan keberadaannya kan? Yeah.. Ia tidak ingin memikirkan hal itu. ia hanya ingin berfikir Possitive bahwa kedua orang tuanya mengirimkannya kepanti asuhan, pasti karena alasan tertentu. Semoga saja begitu..

***

Ryeowook terhenyak dari tidurnya karena mimpi buruk yang baru saja dialaminya. Keringat dingin dengan jelas menghiasi keningnya. Ia menarik nafasnya dan berniat untuk bengun dari tidurnya. Namun sesuatu lebih tepatnya seseorang menahan pergerakannya. Ia menolehkan kepalanya kesamping dan mendapati seorang wanita yang tengah tertidur dengan lelap dalam pelukannya. Ia mengerjapkan matanya sesaat ketika melihat wanita cantik tertidur disampingnya hanya menggunakan selimut.

Ryeowook menghela nafasnya dan kembali merebahkan tubuhnya, masih dengan lengan yang menjadi bantal wanita itu. Ryeowook sama sekali tak berniat menyingkirkan perempuan itu dari lengannya ia sedari tadi hanya memijit pelipisnya memikirkan sesuatu. Sesuatu tentang mimpi buruknya selama ini.

Beberapa saat kemudian ia merasakan seseorang yang disampingya terusik dan melakukan gerakan kecil dan tak lama kemudian ia sebuah tangan meraba dada bidangnya. “Kau sudah bangun?” tanya wanita itu dengan suara serak khas bangun tidurterdengar sexy dan menggoda ditelinga Ryeowook. Ryeowook tak menjawab apapun pertanyaan yang dilontarkan wanita itu, ia bahkan tak menolak sama sekali saat wanita itu beranjak dan bahkan saat ini sudah berada diatasnya sembari menatapnya penuh. Hingga detik berikutnya ciuman lembut menyapa bibirnya dengan mungkin sedikit bernafsu.

Setelahnya ia tidak tahu apa yang terjadi, mungkin karena ia belum benar-benar tersadar dari pengaruh alcohol yang semalam ia minum atau karena wanita itu yang terlampau menggodanya hingga akal sehatnya hilang entah kemana. Yang pasti saat ini ia membutuhkan seseorang untuk melampiaskan nafsu nya.

Otak Ryeowook selalu memerintah untuk berhenti tapi tak ada satupun perintah yang mampu dilakukannya. Sepertinya Ryeowook sudah terlalu jauh terjebak dalam kegelapan. Ia bahkan tak pernah sekalipun merasa bahagia, kenangan masalalulah yang membuatnya seperti ini. Entah wanita ini adalah wanita yang keberapa yang pernah ditidurinya. Yang menyukainya dengan tulus namun dimata Ryeowook semua wanita itu hanya pemuas nafsu.

Ryeowook menyeringai dalam ciumannya dan sesaat kemudian ciumannya beralih pada leher jenjang gadis itu yang sudah ada tanda kemerahan akibat ulahnya, menghasilkan desahan-desahan lembut yang menggoda pendengarannya. Beberapa saat yang lalu ia kembali mengambil kendali atas gadis ini dan seperti inilah keadaannya. Bercinta untuk entah yang keberapakali malam ini.

[Flashlight]

Ryeowook mengerjapkan matanya saat sinar mentari menerobos jendela kamarnya hingga membuatnya terusik, ia mengacak rambutnya yang sudah berantakan dan kemudian mendudukkan tubuhnya di kasur king size miliknya. Matanya sedikit membulat karena terkejut saat melihat Hee Jin yang sudah berada diambang pintu kamarnya dengan hanya menggunakan kemeja soft blue yang kebesaran ditubuhnya dan sudah pasti itu miliknya. Ia menghela nafasnya sedikit lega karena ditubuhnya ia masih menggunakan pakaian yang lengkap.

“Kau mabuk berat semalam, dan Appa menyuruhku untuk mengurusmu…”

Ryeowook tersenyum sinis mendengar itu semua, tapi ia memilih diam dan melangkahkan kakinya menuju wastafel yang terletak kamar mandinya. Hee Jin tak bisa menahan senyum saat melihat penampilan Ryeowook yang menurutnya terlalu sexy dengan kemeja putih dengan 3 kancing yang terbuka dibagian atasnya dan juga celana denim hitam yang melekat dikaki jenjangnya, oh dan jangan lupakan rambutnya yang berantakan, membuatnya ingin mengacak rambutnya. Sial!

Hee Jin melangkahkan kakinya memasuki kamar Ryeowook yang kemudian mengambil ponselnya dimeja nakas, “Aku membuatkanmu sarapan..” Ujarnya dengan senang dan tatapannya kini beralih pada Ryeowook untuk menunggu responnya.

Ryeowook hanya mengangguk memberikan respon, masih dengan menggunakan pakaian yang tadi ia lantas melangkahkan kakinya keluar kamar menuju dapur minimalis miliknya dan Hee Jin mengikutinya dari belakang, gadis itu bahkan masih sempat menyambar celananya dan kemudian berlari kecil mengejar ketertinggalannya.

Hee Jin tersenyum senang saat pandangannya melihat Ryeowook yang sudah duduk manis didepan meja makan sembari meminum air putih. Ia mendekatkan tubuhnya untuk merangkul leher Ryeowook, “Kau suka Pancake kan?” tanya sembari mencium pipi Ryeowook lembut dan kemudian melepaskannya untuk duduk dkursi sebrang dihadapan Ryeowook.

“Aku membuatnya dengan Syirup madu..” Ryeowook kembali mengangguk dan kali ini diiringi dengan sulas senyuman. “Terimakasih Hee Jin-ssi..” Ucap Ryeowook dengan nada berterimakasih yang sangat hingga tanpa mampu membuat Hee Jin menahan senyumnya ia mengangguk sekilas sebelum akhirnya mengecek ponselnya saat suara dering SMS mengintrupisnya.

“Oh.. Ryeowook-ssi sepertinya aku harus segera pergi..” Ucapnya dengan nada menyesal lalu berdiri untuk memakai celananya. Ryeowook tersenyum melihat tingkah Hee Jin yang menurutnya terlalu berlebihan untuk menyita perhatiannya. Dia adalah gadis yang ceria menurut Ryeowook, bukan hanya ceria namun juga dewasa dan cenderung asik diajak berbicara. Walaupun hanya Hee Jin yang tertarik padanya ia mungkin akan mencoba walau sepertinya bagi dia yang takpernah mempercayai apa itu cinta dan selalu bermain wanita mungkin akan sulit iya kan?

Ryeowook kembali memakan sarapannya saat gadis itu sudah selesai memakai celana jeans ketatnya dan kemudian kembali berjalan menghampiri Ryeowook, Mengecup pipinya lagi, “Aku pergi dulu..” Ucapnya yang hanya dijawab dengan deheman pelan.

“Ryeowook-ssi!” Pekik gadis itu dan seketika membuat Ryeowook terkejut dan kembali menolehkan kepalanya kearah Hee Jin. “Kau belum pergi?”

“Kau tak lupa kan tentang pertemuan kita dengan Appaku?”  tanyanya dan kemudian membuat Ryeowok menghela nafasnya kasar. “Kita bicarakan ini nanti oke?”

Arraseo, aku akan menghubungimu nanti..” Jawabnya dan kali ini benar-benar pergi.

***

Sore ini Yeonmi memilih untuk menghabiskan waktunya dengan membaca novel terbaru yang ia beli untuk dibacanya ditepi danau buatan yang terletak tak jauh dari  taman kota. Yeonmi mendudukkan tubuhnya dikursi panjang taman yang terletak dibawah pohon maple yang besar. Angin musim dingin perlahan menyambutnya meniup lembut hingga ia merasa sedikit kedinginan, beruntung saat ini ia menggunakan mantel hangatnya hingga tak terlalu dingin baginya.

Ditemani dengan camilan dan juga hot chocolate yang dia bawa ia sampai lupa sudah menghabiskan waktu hampir satu jam ditempat ini hingga perlahan ia menyadari bahwa matahari sepertinya hendak kembali keperaduannya dan itu artinya ia harus segera pulang. Yeonmi mendesah, padahal ia belum puas menghabiskan waktu ditempat dengan pemandangan seindah ini. Tapi sepertinya memang ia harus segera pulang karena Yesung sudah mengiriminya pesan singkat menanyakan keberadaannya sekarang. Yahh,, sejak insiden beberapa hari lalu Yesung memberikan penjagaan ketat untuknya. Melarangnya pulang larut, menjemputnya jika memang perkerjaannya tak bisa ditunda hingga ia pulang larut dan bahkan tak membiarkan dia keluar sendirian meskipun itu masih sore hari. Menyebalkan memang, tapi Yeonmi menyukainya.

Ia baru saja berdiri untuk segera pulang, namun sial.. mendadak saja jepit rambutnya jatuh hingga hampir masuk kedalam. Ia memekik tertahan sebelum akhirnya mulai melangkahkan kakinya mendekat ketepi sungai.

Entah ia yang ceroboh atau memang tanah sedang tak berpihak kepadanya. Tau tau tanah terasa ringan, tak ada rerumputan yang diinjaknya, hanya permukaan halus yang basah, Yeonmi menoleh kebawah dan saat itu juga ia tergelincir.

“Omo!” Pekiknya tertahan. Membiarkan kakinya tergelincir dan dirinya nyaris jatuh kedanau, tepat ketika sesorang menahannya hingga membuatnya tertahan, Yeonmi mendesah lega, ia membuka matanya untuk melihat kearah penyelamatnya yang kini hanya berjarak kurang dari lima senti darinya dan kembali mata bulat Yeonmi mengerjap terkejut hingga tanpa sadar ia melepaskan genggaman pria itu berniat menyingkir. Namun dasar Yeonmi yang memang ceroboh ia bahkan tak menyadari bahwa tempat yang sedang ia injak belum seluruhnya stabil hingga ia kembali terhuyung kebelakang dan tangannya reflex menarik ujung jas pria itu hingga sebagai bentuk pertahanan, namun yang terjadi sebaliknya. Mereka berdua justru sama sama jatuh kedalam danau.

“Astaga~” Pekik Yeonmi saat ia menyadari bahwa jepit miliknya sudah mengapung diatas permukaan danau. Sesegera mungkin ia merangkak untuk mengambil benda itu dan mendesah kecewa. Jika saja ini bukan jepit yang istimewa, ia tidak akan mempertahankannya dengan sedemikian rupa. Jepit ini pemberian Yesung, dan pria itu memintanya untuk menjaganya. Aishh! Yeonmi ceroboh.

“Hanya Jepit yang kau perhatikan?” Yeonmi menegang saat suara yang tidak bersahabat itu masuk kegendang telinganya. Ia menoleh kebelakang dengan ragu dan mendapati Ryeowook yang sedang terduduk sebal didanau. Danau ini memang tak terlalu dalam hanya sebatas mata kaki, tapi jika dalam keadaan terjatuh cukup membuat seseorang basah.

Yeonmi berusaha menahan tawanya saat melihat pria yang baru satu ditemuinya terduduk didanau dengan wajah yang merenggut kesal. Ini bukan Ryeowook yang dingin yang ia kenal sebelumnya. Dia adalah Ryeowook yang kekanakan dengan wajah yang jauh lebih menggemaskan.

Dengan dengusan kesal karena telah tercebur kedanau dan kemudian ditertawakan oleh Yeonmi ia pun lantas beranjak dari tempatnya duduk dan kemudian melangkah keluar dari danau setelah sebelumnya ia membantu Yeonmi yang juga hendak keluar dari danau.

“Mianhae..” Ucapnya dengan nada menyesal. Ryeowook hanya menghela nafas dan kemudian mengangguk, “Kau baik-baik saja?”

“Tentu..” Ucap Yeonmi singkat.

Ryeowook memandangi Yeonmi dengan lekat, “Bajumu basah dan kau akan kedinginan untuk membaca buku..” Ucapnya sembari melirik buku bacaan Yeonmi sekilas. “Ikutlah keapartemenku, disana kau bisa mengeringkan pakaianmu..” Ucap Ryeowook.

“Gwaenchana.. Aku pulang saja..”

“Dengan keadaan seperti itu? Kau mungkin saja ditertawakan. Ikutlah, aku tak akan membiarkanmu kedinginan dijalan..” Ucapnya lalu menarik tangan Yeonmi dengan cepat menuju mobil Audi S8 milik Ryeowook. Yeonmi menghela nafasnya dan menurut apa yang Ryeowook lakukan padanya.

Dan disinilah ia sekarang, ia kembali memasuki apartemen yang pernah ia kunjungi satu kali tempo hari lalu. Keadaannya masih tetap sama dan aroma rumah ini adalah aroma Ryeowook yang entah sejak kapan ia sukai. Yeonmi diam dibalik pintu kamar mandi dengan ragu, bingung harus keluar atau tetap berada didalam dengan pakaian yang terlalu terbuka. Bajunya sedang diurus oleh laundry dan Ryeowook hanya memberikannya kemeja putih yang kebesaran namun tetap saja hanya akan menutupi hingga bagian atas pahanya saja. Yeonmi tak biasa memakai pakaian dengaaan terbuka seperti ini, apa lagi jika dihadapan seseorang yang baru ditemuinya satu kali.

Sementara Ryeowook menunggu gadis itu dengan tenang, ia melihat ponsel Yeonmi yang tergeletak begitu saja dimeja, entah rasa penasaran apa yang menyergapnya ia lantas meraih ponsel itu dan membukanya. Beruntung gadis itu tak mengunci ponselnya.  Ia melihat foto foto yang berada di Gallery gadis itu, sesaat ia tersenyum saat melihat foto foto Selfi yang dilakukannya. Ia baru menyadari kalau gadis itu terlihat sangat menggemaskan dan cantik.

Ryeowook meletakkan ponsel itu asal ketika ia mendengar suara pintu terbuka dan menampilkan sosok Yeonmi dengan pakaian yang terlihat minim. Ia tertegun sejenak Ani.. lebih tepatnya terpesona dengan penampilan gadis itu. kemejanya yang hanya menutupi sampai batas paha atas dengan rambut yang diikat keatas hingga leher jenjangnya terlihat membuat gadis itu jauh-jauh lebih sexy dari yang Ryeowook pikirkan.

Ia memang sering melihat seorang gadis yang berpakaian jauh lebih sexy dibandingkan dengan apa yang Yeonmi kenakan sekarang, tapi entah mengapa ia merasa jauh lebih terpesona saat melihat gadis itu berpakaian seperti itu? mungkin bukan hanya soal pakaian yang Ryeowook pikirkan. Ia juga memikirkan dirinya sendiri yang tiba-tiba saja mendadak gugup dengan getaran hebat dihatinya. Ia tak pernah merasakan ini sebelumnya kecuali saat pada cinta pertamanya yang membuatnya terluka.

“Apa kau tak memiliki kemeja yang lebih panjang dari ini?” tanya Yeonmi sembari menggigit bibir bawahnya. Ryeowook kemudian hanya menggeleng dan berusaha menghindari tatapan Yeonmi, “Aniya.. Itu yang paling besar..” Ucapnya.

“Duduklah, jangan menyiksa kakimu sendiri..” Imbuh Ryeowook bahkan ketika Yeonmi belum menjawabnya. Yeonmi terlihat mengernyit sembari mengedarkan pandangannya kesegala penjuru arah mencari kursi yang Ryeowook maksud, karena tak ada lagi kursi yang terletak dikamar ini selain kursi yang diduduki Ryeowook.

“Dimana?”

Ryeowook menoleh sekilas lalu menepuk pahanya sendiri, “Disini?” Ucapnya kemudian. Tentu saja itu membuat Yeonmi terkejut, dimana? Kenapa harus ia duduk dipangkuan pria itu? Yeonmi tak menjawab pertanyaan Ryeowook dan memilih tersenyum canggung sebelum akhirnya kembali dalam posisinya.

“Duduklah.. Jika kau tak ingin kupaksa untuk duduk?” Ucapnya lagi dan kali ini nada printah yang memaksa terdengar. Yeonmi hanya menggeleng, mana bisa ia duduk dipangkuan pria itu yang bahkan hanya ditemuinya sekali?

“Kalau kau tak ingin duduk disini.. Kau boleh duduk disampingku, kursi ini terlalu besar, dan kurasa kakimu akan kesemutan jika kau masih menolak ajakanku..” Ucapnya dan kali ini Yeonmi menyetujuinya, Ryeowook benar kakinya sudah hampir mati rasa karena terus berdiri seperti ini. ia lantas melangkahkan kakinya perlahan dan kemudian mendekati Ryeowook dan berniat untuk duduk dipinggiran sofa. Namun entah apa yang terjadi, pria itu menarik tangan kanannya dengan keras sehingga membuatnya terjatuh begitu saja dipangkuan Ryeowook.

Yeonmi mengerjap saat jaraknya dengan pria itu yang semakin dekat, mendadak saja jantungnya berdegup hebat dan nyaris copot dari tempatnya, tangannya menahan tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan pria itu. namun rasanya percuma saat pelukan Ryeowook semakin mengerat dipingganggnya.

Ryeowook menyeringai menatap Yeonmi yang kini wajahnya bahkan sudah memerah. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa tidak mampu mengontrol diri seperti ini. Jujur jauh didalam hatinya juga merasakan gejolak yang berbeda, dan ia penasaran apa artinya itu. Aroma coklat yang berada ditubuh Yeonmi membuat kepalanya sedikit pusing hingga kesadarannya hilang entah kemana. Ryeowook mendekat bibir pria itu nyaris menyentuh bibir Yeonmi yang sedang mengerjap menormalkan degup jantungnya yang menggila.

Tepat ketika jarak antara Yeonmi dengan Ryeowook menipis saat itu seseorang menekan bel apartemennya yang langsung membuat Ryeowook mengumpat entah kepada siapa.

Sial!

Ia lantas menjauhkan tubuhnya dari hadapan Yeonmi dan tanpa mengatakan apapun keluar dari kamarnya sendiri, Yeonmi yang saat itu masih terkejut didalam tempatnya sendiri hanya menghela nafasnya lega. Apa itu tadi?

Dan kenapa jantungnya berdebar hebat?

Diluar kamar Ryeowookpun melakukan hal yang sama dengannya, ia tak habis pikir hanya melakukan hal seperi itu membuat jantungnya berdegup. Apa yang sebenarnya terjadi heh? Dan okee,, mulai saat ini sepertinya ia mulai penasaran dengan Yeonmi.

-CUT-

Anyeong^^ Aku bawa part 2 nya ini.. maaf kalau waktunya kelamaan buat nyelesaiin part duanya.. selalu ada halangan buat nerusin ff tuh, mulai dari kehilangan feel atau mungkin kehilangan ide. Disaat feel nya ada ide nya ada.. eh waktunya yang nggak ada. Jadi mianhae kalo ff ff ku lama banget dilanjutinnya. Dan part ini semoga aja kalian nggak kecewa dengan hasilnya.

Silahkan berikan komentar kalian ^^ terimakasih yang masih mau berkunjung ke blog absurd ini 🙂

Advertisements

9 thoughts on “[Fan Fiction] Flashlight || Part2

  1. wookpil

    Aiigo aku bacanya dag dig dug sndri looh XD suka sama karakter ryeong disini, berasa manly bangeeet gitu.
    Eh shin heejin itu kakaknya yeonmi kan? Kayanya bakal jadi kisah cinta segitiga deh atau malah mngkin segi empat *so’tau XD*
    Wookeee lanjut yaaa aku tnggu klnjutannya. Makin penasaran nih..

    Like

  2. wookpil

    Eh perasaan aku udh komen ya ko ga ada?
    Yasudah komen lagi.
    Ini shin heejinnya kakanya si yeonmi kah? Duh jgn2 ntar ada kisah cinta segitiga pula atau malah segiempat karna ada yesung juga :3
    Suka sma karakter ryeong dsni lebih keliatan manly manly gimanaaaaa gitu :3
    Lanjut yaaa aku tngguin next part sma ff ff yg lain nya juga ^^

    Like

    • BungaHarnum

      dududuhhh.. mianhae kalau nggak ada komentarnya.. Aku baru buka wordpressnya sekarang jadi maafkan dakuh yang belum menyetujui….
      .
      .
      Terimakasih banget ya udah mau berkomentar, disini hee jin nggak tau punya adik nggak tau enggak 😀 ya.. mungkin memang ada kisah cinta segitiga atau mungkin juga segi empat . silahkan ditunggu aja cerita absurd ini wookpil-ssi 🙂 dan sekali lagi terimakasih udah bersedia membaca 🙂

      Like

  3. wookpil

    Duuh hehe mianhae aku kira ilang komenannya –”
    Yeah. Aku bakalan ttep jdi reader di blog kmu kok. Selain ff ff nya bagus penulisan sma kata2 nya juga pas bnget 😀 keep writing ya^^9

    Like

  4. Risa Ryeosomnia

    Eoniieee… lanjuut lagi ceritanya… aku udah baca part satunya dan ini rame bingittzz..
    Aku suka sama karakternya wookie disini.. dia keliatan udah gedeee O.O pokoknya dilanjut yee.. cepet gak pake lama… #maksa
    Fighting eonnie 😉

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s