[Fan Fiction] Flashlight || Part3

flashligh3t

Title : Flashlight-Part3 || Author : Jung Hye Rim || Main Cast : Kim Ryeowook – Shin Yeonmi ||Support Cast : Cho Kyuhyun, Kim Jae in, Lee Donghae, Kim Jong Woon || Genre : Romance, Sad, Angst, Hurt || Rating : PG 17+ || Disclaimer : Plot and Story is mine, All the main character is belong to God and their parent. Just leave this blog if you don’t like it. Don’t bashing me because the story just a fan fiction 🙂

==Happy Reading==

When I first saw you, I was afraid to meet you. When I first met you, I was afraid to kiss you. When I first to kissed you, I was afraid to Love you. But now that I Love you, I was afraid to lose you..”

Hidup normal seperti layaknya manusia biasa.

Satu hal yang selalu dipikirkan oleh Ryeowook selama ini. Bukankah kehidupan memiliki dua kubu yang berlawanan? Banyak jalan yang bisa mengantarkan kita pada puncak pilihan hidup. Terkadang hidup yang telihat mudah akan menghadirkan penyesalan dan dosa setelahnya, dan kebalikannya, hidup yang terkesan terjal dan bebatuan bukankah akan mengantarkan kita pada kebahagaan dan kesenangan nyata tanpa ada penyesalan?  Dibalik masa lalu hanya akan ada dua kepastian, Kenangan atau kah penyesalan. Tergantung dari rencana hidup dan cara kita melakukannya. Dan disinilah Ryeowook berdiri, Disebuah ujung jalan buntu kegelapan yang ia jalani. Hanya dengan berbalik mungkin saja ia akan keluar dari kegelapan itu bukan? Tapi siapa sangka merubah arah jalan tidak akan semudah seperti apa yang terlihat, karena nyatanya saat ini ia sudah terperangkap jauh didalam kegelapan.

Hidup dengan penuh penyesalan dan juga kegelapan bukanlah yang Ryeowook inginkan selama ini. Ia ingin hidup layaknya seperti manusia normal, mencintai semampunya bahagia seadanya dan ingin hidup dikelilingi oleh warna setiap harinya. Dulu, Ryeowook bukanlah seseorang yang hanya ada kegelapan dihidupnya. Ia adalah seorang laki-laki yang dicintai oleh ibunya. Laki-laki bertanggung jawab yang memiliki seseorang untuk dilindungi. Hidupnya masih indah bahkan setelah ia memiliki seorang wanita yang menambah kebahagiaan hidupnya. Satu-satunya alasan untuknya agar tetap berada dijalan yang benar.

Dan sesuatu hal terjadi. Sesuatu yang mengantarkannya pada sebuah perubahan yang sama sekali tak dimengertinya. Ibunya, satu-satunya wanita penyemangat dalam hidupnya tewas akibat kecelakaan beruntun di jalan tol. Sejak saat itu hidupnya perlahan berubah, Ayahnya yang semula tak pernah menyakiti siapapun kini perlahan berubah. Hanya wanita-wanita pemuas nafsu yang ada dipikiran ayahnya setelah ibunya meninggal. Pria yang paling Ryeowook sayangi yang menjadi panutannya perlahan menghilang, menjadi pria kasar yang selalu berkehendak tanpa berpikir sebab akibatnya. Ia hancur, tapi beruntung masih ada yang menahannya untuk mendekati kegelapan. Gadisnya, Baek Ji Hye. Wanita yang paling ia cintai setelah ibunya berhasil menahannya untuk tidak terjatuh. Gadis itu masih berada disisinya menyadarkannya bahwa perubahan tak selamanya mengantarkan kita pada kegelapan. Tapi ternyata gadis itu pula yang mengantarkannya pada apa yang dinamakan kegelapan. Gadis itu menghilang entah kemana setelah mengatakan itu, ia tidak mengerti, Sudah berhari-hari ia berusaha mencari namun keberadaan gadis itu tak kunjung ditemuinya hingga membuatnya menyerah. Dan seperti inilah dia sekarang, berada ditengah-tengah kegelapan yang mencengkamnya. Hidup tanpa membercayai, menikmati dunia dengan sesukanya. Ia tidak lebih dari seorang pria brengsek yang gila wanita. Ia tidak tak lebih dari Ayahnya yang sempat dibencinya karena perubahannya hanya karena seorang wanita. Ia bahkan lebih brengsek dari itu. Dan semua itu membuat hatinya tertutup, tak ingin mencintai atau bahkan mencoba untuk memutar balikkan setir yang ia pegang.

Tapi sekarang, bagaimana jika sebuah cahaya memasuki dunia gelapnya?

“Aku benarkan?” Ryeowook tersadar dari lamunannya saat suara nyaring menyapa indra pendengarannya. Ia menatap bingung seorang gadis didepannya yang sedang menatapnya antusias. “Kau tak mendengarkanku?” Tanyanya dan kemudian bibir gadis itu mengerucut lucu. Ryeowook sendiri bingung harus menghadapi gadis didepannya seperti apa. Gadis didepannya ini sangat tidak terduga. Begitu menarik dan penuh kejutan.

“Aku bilang, Kegelapan itu membutuhkan cahaya, walaupun sangat sedikit tapi bagi kegelapan cahaya itu sangat berharga. Iya ‘kan?” Gadis itu berucap bangga sembari menyeruput Coffee latte miliknya.

Ryeowook terdiam, ucapan polos gadis itu menohok hatinya, seperti menyindir kehidupannya. Ya.. ia membutuhkan cahaya, dan bagaimana jika ia mengangganggap gadis didepannya adalah cahaya kecil yang selama ini kegelapan mencarinya? Dengan ragu ia mengangguk menyetujui ucapan gadis itu.

“Hhh~ Aku senang bertemu denganmu, lagi..” Gadis itu menghela nafasnya, menatap lurus kearah jendela dan mengabaikan tatapan Ryeowook yang bingung dengan ucapannya.

Shin Yeonmi, Ia menatap jendela yang memperlihatkan langsung dengan jalanan itu dengan lurus, senyum menghiasi bibirnya saat mengucapkan itu. Ia benar-benar senang bisa bertemu lagi dengan Ryeowook, entah apa yang terjadi tapi selama ini ia merasa kesepian jika Ryeowook tak berada dihadapannya. Walaupun tidak sering tapi setidaknya pria itu selalu bertemu dengannya diakhir pekan kan? Seperti 2 minggu lalu saat ia hendak jatuh kedanau.. atau mungkin 3 minggu lalu saat ia diserang dengan seseorang yang mengerikan. Ia hanya sedang merindukan mata teduhnya, yang entah mengapa membuat Yeonmi tertarik walau hanya satu kali melihat. Oh Tuhan.. ini gila!

Pertemuan kali ini juga tanpa disengaja, saat Yeonmi sedang menunggu hujan reda dan kebetulan Ryeowook melintas dihadapannya dan menyadari keberadaannya. Dan disinilah mereka berakhir, di café Mouse rabbit untuk berbincang, walau sejak tadi hanya Yeonmi yang berbicara. Karena seperti biasa pria itu yang hanya akan diam walau sesekali berbicara menanggapi, ia mengerti sifat Ryeowook yang dingin.

Yeonmi kembali menolehkan kepalanya untuk menatap pria itu yang saat ini juga melakukan hal yang sama dengannya, ia tersenyum manis kearah Ryeowook. Ini sudah terlalu lama untuknya bersama Ryeowook hari ini. Dan ia harus segera mengakhirinya sebelum letupan dihatinya memberikan efek besar bagi kinerja otaknya. “Ryeowook-ssi.. Sepertinya aku harus segera pulang, kau juga bukankah harus berkerja? Terimakasih sudah menemaniku hari ini..” Ucapnya dan kemudian menunduk.

Ryeowook menggulum senyumnya, tingkah aneh gadis itu selalu saja membuatnya tersenyum. Bukankah ia senang jika Ryeowook bersamanya? Dan kenapa sekarang ingin cepat pergi?

“Kita akan bertemu lagi kan?” Yeonmi mendongakkan kepalanya mendengar ucapan Ryeowook barusan. Ia kembali tersenyum sebelum menjawab, “Jika ditakdirkan bertemu, kenapa tidak?”

“Kita sudah 3 kali bertemu, apa itu bukan takdir?” Yeonmi terkekeh, ia menatap lekat pria didepannya dan kemudian mengangguk.

Ya.. Aku harap begitu..

 [Flashlight]

Ryeowook menatap datar seseorang yang baru saja memasuki ruangannya. Seorang wanita yang sudah didekenalnya kurang lebih hampir satu tahun yang lalu berjalan mendekat kearahnya. Menggunakan rok pensil ketat dan juga kemeja berwarna putih melekat ditubuhnya juga sepatu high heels yang ia gunakan menjadi satu-satunya yang bersuara diruangan ini. Ryeowook hanya tersenyum singkat saat gadis itu memberikan senyum manisnya dan duduk di kursi tepat didepan meja Ryeowook.

Pria itu masih terdiam ditempatnya dan hanya menopang dagunya dengan sebelah tangan kanannya dengan mata yang masih focus memperhatikan wanita didepannya, menunggu hal yang akan dikatakan gadis itu padanya. Selama ini—selama ia mengenal gadis itu, Ryeowook sama sekali belum pernah mengajak bicara gadis itu duluan. Ia tak pernah melakukannya kecuali hal-hal penting seperti perkerjaan.

Hee Jin kembali tersenyum, mendadak saja dirinya gugup ketika harus berbicara dengan Ryeowook. Ia mengalihkan pandangannya menatap papan nama acrylic yang terbuat dari kaca bening yang bertuliskan nama Ryeowook disana, hanya sebagai pengalih konsentrasi karena saat ini ia bingung harus berbicara apa pada Ryeowook. Padahal sebelum ia kemari banyak kata yang ia ingin sampaikan mengenai hubungan keduanya. Ryeowook bukanlah seorang pria yang akan memulai pembicaraan duluan, karena itulah ia merasa gugup sekarang.

“Kapan kita menemui Appaku?” Hee Jin bertanya.

Ryeowook menghela nafasnya, ia tahu gadis ini pasti akan bertanya soal itu lagi. “Bukankah kita akan membicarakannya lain kali?”

Kini giliran Hee Jin yang menghela nafasnya, ia tak pernah habis pikir mengenai hal yang dipikirkan pria itu, “Kenapa kau selalu ingin membicarakannya lain kali? Hanya bertemu dengan Appaku maka semua masalah selesaikan?”

“Jika alasan untukku menemui Appa mu karena masalah perkerjaan, kapanpun itu asalkan waktuku kosong aku siap. Tapi alasan kali ini berbeda, ini pasti menyangkut masalah perjodohan iya ‘kan?”

Wae? Apa kau tak menyetujui perjodohan ini? Bukankah kedua orang tua kita sudah sepakat?” Tanya Hee Jin sembari mencibikkan bibirnya.

Ryeowook tersenyum, “Tidak semua apa yang orang tua kita sepakati membuatku juga ikut menyetujui. Aku memang belum menolak, tapi aku tidak ingin tergesa-gesa.. Kita hanya baru mengenal beberapa hari, apa itu tidak masalah untukmu?” Ryeowook bertanya dengan tenang sembari kembali memeriksa laporan-laporan yang harus ditanda tanganinya.

“Tidak masalah, Karena aku menyukaimu.” Ryeowook menghentikan kegiatannya dan beralih menatap Hee Jin yang sedang menatapnya tajam, “Aku tidak masalah walaupun perjodohan ini dilaksanakan dengan cepat dan bahkan terkesan terburu-buru, asalkan orang itu kau aku tidak masalah..” Imbuhnya. Ryeowook hanya terdiam mendengar kata-kata yang dilontarkan Hee Jin padanya. Tapi sungguh, ia terdiam bukan karena terkesan atau semacamnya melainkan ucapan Hee Jin barusan hanya ia anggap sebagai kalimat menyatakan perasaan yang terdengar berlebihan.

“Aku akan coba memikirkannya,,” Ucapnya kemudian yang tentu membuat gadis itu menghela nafasnya sedikit kasar. Ia tidak bisa terus seperti ini, sesuatu harus dilakukannya agar Ryeowook bisa bertemu dengan Appanya. Orang tuanya akan menyetujui pernikahannya dengan pria itu jika saja Ryeowook dengan senang hati bertemu dengannya. Tapi kenapa rasanya sulit sekali untuk membawa pria itu? Pria itu tetap akan terus mengulur waktu jika ia tidak mengajaknya dengan sedikit paksaan.

***

Hee Jin menghempaskan tubuhnya disalah satu sofa yang terdapat diruangan Ayahnya. Sang Ayah yang melihat tingkah putri semata wayangnya hanya mampu menggelengkan kepalanya maklum. Menghembuskan nafasnya beberapa kali sembari memijit pelipisnya pelan. Beberapa kalipun ia melakukannya, rasa lelah yang didera Hee Jin tetap tak akan menghilang, tidak sampai semua masalahnya dengan pria itu terselesaikan. Ia lantas menegakkan tubuhnya dan menatap ayahnya yang masih setia dengan beberapa laporan dimejanya.

Appa..  Kenapa kau tak langsung membuat kesepakatan dengan Kim ahjussi untuk menetapkan tanggal pertunangannya?” Hee Jin menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan itu.

Ayahnya yang sejak tadi terfokus pada berkas-berkas dihadapannya kemudian mendongak, menatap heran pada Putri semata wayangnya itu. “Apa kau benar-benar ingin menikah dengannya?” Kedua tangannya saling bertaut untuk menopang kepalanya setelah mengucapkan pertanyaan itu.

Hee Jin tampak gusar, ia jelas ingin menikah dengan pria itu, bukankah sejak awal pria itu memang menarik perhatiannya? “Nde~ Appa.. Apa kau tak akan membantuku? Bukankah kalian sudah sepakat untuk menikahkan kami?”

“Kami memang sepakat untuk menjodohkan kalian berdua, tapi semua keputusan ada ditangan Ryeowook, Jinnie-ya.. Sejak awal bukankah Kau yang meminta?”

Hee Jin menghela nafasnya, ia tahu Appa nya akan mengatakan hal seperti itu padanya, “Jika kau benar-benar ingin mendapatkannya, masuki hatinya dan buat dia mencintaimu.. Appa juga ingin melihat putri kesayangan Appa menikah dan hidup bahagia, jika hanya cinta sepihak, Apa kau akan berjanji pada Appa untuk bahagia?” Ayahnya kembali menambahkan, ia terdiam.. kenapa rasa nya sakit sekali mendengar kata ‘cinta sepihak’ yang dilontarkan Ayahnya..  ia tak menjawab apapun setelahnya, hanya menundukkan kepalanya dengan tangan yang menutupi. Apa memang seperti itu? Apa itu artinya selama apa yang ia lakukan, masih belum memasuki hati pria itu?

“Apa jika aku membawanya kehadapanmu, kau akan segera menikahkan aku dengannya?” tanyanya.

Ayahnya tersenyum, “Asalkan dia datang dan benar-benar mencintaimu.. Appa akan melakukan apapun yang kau minta sayang..”

[Flashlight]

Yeonmi menghela nafasnya lega saat langkah kakinya telah berhenti disebuah taman yang tak jauh dari perusahaan tempat ia berkerja, Taman kecil yang dikelilingi oleh beberapa pohon palem kuning, setinggi 5 meter dan beberapa rumpun tumbuhan Azalea yang belum bermekaran menghiasi beberapa bagian taman. Cahaya taman yang berwarna keemasan nampak menyinari dari empat titik sudut taman, dibawahnya terdapat sebuah kursi taman panjang berwarna coklat tua yang berjejer dengan rapi, alas taman dihiasi oleh Paving block dengan campuran warna yang membentuk sebuah bintang ditengah taman.

Jika dimusim semi akan banyak orang yang berkunjung untuk menyaksikan bunga Azalea bermekaran, atau musim gugur taman akan selalu dipenuhi oleh sepasang kekasih yang menghabiskan waktu bersama, atau mungkin musim panas taman akan dipenuhi orang untuk olah raga malam. Malam ini, malam salju pertama turun taman tampak sepi hanya mungkin beberapa orang yang memiliki kebiasaan yang sama seperti Yeonmi yang berada diluar rumah. Menyaksikan salju pertama turun adalah satu-satunya hal yang paling menarik bagi Yeonmi. Ia tak seperti orang-orang yang justru tidak tertarik dengan salju yang dingin, Yeonmi berbeda, ia justru tak pernah melewatkan salju pertama turun.

Ia tersenyum saat disalah satu taman sudah ada Yesung yang menunggunya. Pria itu juga yang mengiriminya pesan singkat bahwa malam ini akan ada salju pertama turun. Ia melangkahkan kakinya mendekat kearah Yesung sembari mengeluarkan camera DSLR milik nya dan langsung memotret Yesung begitu ia sudah dekat dengan pria itu. Wajah Yesung yang terkejut membuat hasil fotonya tampak menggemaskan.

Ige mwoya?” Yesung bertanya pada Yeonmi begitu ia menunjukkan hasil foto tadi. Yeonmi tertawa, Oppa nya itu akan selalu terlihat menggemaskan jika terkejut.

Oppa sudah lama menungguku?” Yeonmi bertanya, Pria itu menggeleng dan kemudian membuka syalnya untuk dipakaikan pada Yeonmi karena gadis itu tampak kedinginan hanya dengan memakai mantel.

Aniya.. Oppa juga baru datang. Jadi bagaimana? Apa kau senang hari ini?” Yeonmi mengangguk setuju dengan apa yang Yesung katakan padanya, ia senang karena hari ini salju pertama turun.

Geuromyo… Sudah lama sekali Oppa  tak menemaniku melihat salju pertama turun..” Yeonmi mempotkan bibirnya lucu. Rasanya memang sudah sangat lama sekali, hampir lima tahun ia melewati hari tanpa Yesung, termasuk melihat salju pertama turun, satu-satunya rutinitas yang menyenangkan bagi Yeonmi dan wajib dilakukan setiap tahunnya. Yesung dengan gemas mengusap ujung kepala itu, ia tahu, rasanya memang sudah sangat lama sekali, dan selama itu juga ia merasa tercekik rindu saat ia tak melihat gadis ini secara langsung.

Yesung memeluk Yeonmi sekilas, mengucapkan betapa rindunya ia selama ini tanpa ada gadis itu dihadapannya melalui pelukan hangat dan singkat itu yang rasanya mampu menggetarkan seluruh tubuh Yesung. Ia sedikit melonggarkan pelukannya menatap gadis itu dan mencubit hidungnya pelan. “Malam ini kau harus memberkanku foto terbaik salju yang turun.” Yeonmi terkekeh mendengar itu. “Permintaanmu terdengar seperti tantangan Oppa..” Ucapnya dan kemudian mereka terkekeh bersama. Yesung mengangguk dan dengan cepat Yeonmi melepaskan pelukannya untuk segera mencari objek yang menarik tentang salju yang perlahan turun itu.

Yesung tak pernah berhenti memperhatikan gadis dihadapannya ini, pandangan matanya seolah terpaku oleh sosok Shin Yeonnmi-nya yang menakjubkan itu. Gadis itu sudah berubah, ia tampak lebih dewasa dan kuat walau sebenarnya Yesung tahu dia sangat rapuh. Dia tumbuh dengan cantik sekaligus menggemaskan, kebiasaannya yang lama memang belum hilang tapi entah mengapa gadis ini seolah berubah, dan sepertinya hatinya juga ikut berubah, berubah karena telah mencintai Yeonmi bukan sebagai adik perempuan seperti saat itu, tapi sebagai wanita dewasa yang cantik.

Oppa.. Lihat!” Yeonmi berjalan cepat menghampirinya, menunjukkan sesuatu dibalik DSLR yang dimilikinya. Tanpa mengatakan apapun Yesung meraih DSLR itu dan melihatnya. Sebuah gambar terlihat disana. Satu butir salju yang tampak sedang jatuh di bunga Azalea dan Yeonmi mengambil gambarnya sangat cantik. Cantik seperti yang memotretnya.

“Kau selalu berbakat dalam pengambilan gambar, Johae.. Aku ingin gambar ini menjadi milikku..” Ucap Yesung memuji dan Yeonmi tersenyum, satu-satunya senyum yang mampu menggetarkan jiwanya.

[Flashlight]

Yeonmi merebahkan tubuhnya dikasur miliknya dengan sebuah selimut yang membalutnya hingga bagian dada atas, tatapannya menerawang jauh kelangit-langit kamarnya. Kamar yang sedikit gelap karena ia mematikan lampunya dan hanya diterangi cahaya bulan karena ia sengaja membuka tirai jendela kamarnya sedikit membuatnya merasa nyaman. Pikirannya kembali pada kejadian tadi pagi dimana ia untuk yang ke tiga kalinya bertemu dengan pria itu lagi. Oh Tuhan.. kejadian tadi pagi memang tanpa kesengajaan. Ia yang memang sedang melakukan rutinitas setiap harinya untuk berangkat berkerja yang kebetulan hujan dan juga bus sangat lama sekali untuk melintas, dan tiba-tiba pria itu datang menyuruhnya masuk kedalam mobilnya dan tanpa diduga mengajaknya pergi ke café bersama.

Ia tersenyum membayangkan pertemuan tadi, ini pertama kalinya ada seorang pria yang berhasil membuat dunianya teralihkan selain Yesung. Dulu, pria itu adalah pria pertama yang selalu membuat terfokus. Yang ia rasa mungkin hanya pria itu yang sudah mengambil hatinya. Dan pria itu juga kan yang membuatnya datang ke Seoul? Karena ia menyukai Yesung, Ia ingin ditatap oleh pria itu bukan sebagai anak perempuan kecil yang nakal tapi cengeng. Ia ingin ditatap oleh Yesung sebagai Wanita dewasa yang cantik ya.. yang sepertinya cocok untuk dijadikan pendamping hidup. Tapi semua itu seolah hilang dari kamus kehidupannya hanya karena hadir seorang pria dingin bernama Kim Ryeowook. Pria itu bahkan jauh dikatakan sebagai pria normal pada Umumnya yang selalu bersikap manis pada perempuan. Pria itu malah lebih terlihat dingin menyebalkan dan yah.. tidak enak ditemani. Sikap dingin dan kakunya itu membuat orang lain disekitarnya merasa tidak nyaman. Tapi siapa sangka kalau dibalik semua itu ternyata dia adalah pria yang baik hati? Ia tidak tahu argument ini benar atau tidaknya. Tapi yang jelas mengingat pria itu yang menyelamatkannya hampir 2 kali berturut-turut ternyata mampu mengeluarkan argument seperti itu. Ia juga pria yang lucu, Sikapnya pernah berubah satu kali saat ia dan dirinya jatuh kedanau, saat itu wajahnya begitu menggemaskan dengan tingkah kekanak-kanakan yang baru diketahuinya. Dan ia yakin, Ryeowook adalah orang yang hangat, ramah pada siapapun. Dan entah mengapa sejak saat itu hatinya selalu dibuat penasaran dengan bagaimana sikap pria itu. karena dibalik sikap seseorang pasti ada alasannya kan?

Dan mulai saat itu, ia memutuskan untuk menyukai pria itu. Mencaritahu bagaimana kepribadiannya, latar belakang hidupnya dan ia ingin menjadi orang yang dipercaya pria itu untuk berbagi cerita. Rasanya pasti sangat menyenangkan bisa berbagi cerita dengan Ryeowook. Entah rasa suka jenis apa ini. yang ia ketahui adalah ia ingin bertemu dengan pria itu setiap harinya.

Ia menghadapkan tubuhnya kesamping, melihat ponselnya untuk membuka gallery telepon miliknya. Ia mendapatkan satu foto pria itu saat dia sedang serius entah memperhatikan apa dicafe tadi. Dia tampan dan Yeonmi selalu tersenyum setiap kali memperhatikannya. Setelah melihat hampir beberapa detik, berusaha merekam dimemori otaknya untuk dia bawa kealam mimpi, Yeonmi memutuskan meletakkan kembali ponselnya dan memejamkan matanya. Ia ingin cepat malam berganti siang. Ingin cepat melihat lagi pria itu walau kecil kemungkinannya untuk melihat.

[Flashlight]

Matahari pagi ini mulai menampakkan sinarnya setelah beberapa hari bersembunyi di peraduannya karena salju yang terus menerus turun. Hee Jin tersenyum, pagi ini begitu hangat dari pagi-pagi sebelumnya yang terasa dingin karena salju yang melebat. Ia menengadahkan tangannya, membiarkan telapak tangan cantiknya dihangatkan oleh matahari pagi. Beberapa saat kemudian ia kembali memasukkan tangannya kedalam saku mantel tebalnya saat seorang pria datang menghampirinya.

“Kau menunggu lama?” Tanya Ryeowook begitu ia sudah sampai tepat dihadapan Hee Jin.

Hee Jin kembali tersenyum, ia menyerongkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Ryeowook. “Aniya.. Aku juga baru datang beberapa saat lalu..” Ia masih tersenyum pada Ryeowook. Pria itu mengangguk lalu menghadapkan tubuhnya pada pemandangan alam yang berada dihadapannya. Beberapa orang tampak sedang bermain di sebuah lapangan pagi ini. Pemandangan yang jarang dilihatnya saat musim dingin. Tak banyak orang hanya beberapa tapi cukup membuat suasana pagi ini sedikit berbeda.

“Ada apa kau memanggilku ketempat ini?” Ryeowook menolehkan kepalanya sejenak untuk melihat gadis itu.

Ia menunduk, memainkan kakinya pada rerumputan yang berada tepat dihadapan mereka “Hanya ingin bersamamu..” Ucapnya dengan nada sepelan mungkin. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi sejak beberapa hari terakhir ini ia begitu sangat ingin menemui Ryeowook, bersama pria itu walau pada kenyataannya kehadirannya mungkin tak dianggap. Jadi ia mengajak pria itu bertemu ditaman ini. Ia.. ingin berkencan dengan Ryeowook.

“Apa kau sedang sibuk?” Ia kembali bertanya saat tak mendengar Respon yang Ryeowook keluarkan. Pria itu tersenyum “Sebenarnya aku sedang sibuk, tapi aku akan menemanimu hari ini..” Jawabnya.

“Terimakasih..”

Ryeowook mengernyit, tak biasa gadis itu bersikap manis seperti ini. Dia adalah gadis yang banyak bicara. Masalah apapun itu, termasuk tentang pertunangan yang dia rencanakan sendiri. Tapi hari ini Ryeowook dibuat banyak berfikir hanya karena gadis itu bertingkah lebih diam, seperti ada sesuatu yang tengah dipikirkannya.

“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Ryeowook tiba-tiba, gadis itu menoleh sesaat dan kembali tersenyum.

“Boleh aku meminta sesuatu padamu?” Tanya Hee Jin, mengabaikan pertanyaan Ryeowook barusan. Pria itu kembali mengernyit, memposisikan tubuhnya menghadap Hee Jin menunggu lanjutan perkataan dari Hee Jin barusan.

Gadis itu tak melanjutkan ucapannya, ia kemudian mendekatkan tubuhnya agar lebih dekat dengan Ryeowook dan kemudian menyandarkan kepalanya pada dada bidang Ryeowook dan memeluknya. Memejamkan matanya untuk menikmati aroma khas tubuh Ryeowook yang disukainya. Ryeowook sedikit terkejut dengan perlakuan gadis ini. Sedikit memundurkan tubuhnya sebagai bentuk penolakan kecil yang halus.

“Hee Jin-ssi—”

“Kumohon! Biarkan seperti ini untuk beberapa saat..” Ucapnya dan kembali mengeratkan pelukannya. Ryeowook kembali terdiam. Ia tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan gadis ini begitu saja. Menghela nafas, ia kemudian mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Hee Jin, mengusap-usap puggung sempit miliknya berusaha menenangkannya. Ryeowook tahu, ada sesuatu yang sedang dipikirkan gadis itu hingga ia berubah sikap seperti ini. Ryeowook memang tidak menyukai gadis itu, ia tak memiliki perasaan apapun, tapi setidaknya ia masih punya hati nurani yang mengerti kalau tindakannya mungkin saja menyakiti gadis ini.

“Ryeowook-ah..” Hee Jin sedikit melonggarkan pelukannya dan menatap Ryeowook lembut.

“Hmm??”

“Belajarlah untuk mencintaiku.. Kumohon..” Ryeowook terkejut dengan apa yang yang gadis itu katakan. Keterkejutannya bertambah begitu gadis itu menarik tengkuknya dan menempelkan bibirnya tepat pada bibir miliknya.

***

Pagi ini terlihat begitu cerah, walau sebenarnya udara masih sangat dingin sekali. Pemandangan terlihat begitu indah dengan sinar matahari yang perlahan menyinari sebagian wilayah di Seoul. Meskipun tidak akan lama, tapi ia merasa sangat senang bisa merasakan hangatnya sinar matahari walau hanya sesaat. Yeonmi menolehkan kepalanya kearah Yesung. Pagi ini pria itu menemaninya jalan-jalan menikmati panas matahari yang hanya sesaat.

Yeonmi baru saja akan mengajak bicara Yesung. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkahnya, Nafasnya mendadak tertahan begitu pemandangan yang mendadak dibencinya terpampang jelas dihadapannya. Tiba-tiba kakinya mendadak melemas melihat pemandangan itu, matanya mengerjap beberapa kali berusaha memastikan kalau apa yang dilihatnya sekarang adalah kesalahan besar. Tapi seberapa keraspun ia mencoba, kenyataannya akan tetap sama, bahwa Pria itu-pria yang berhasil mencuri hatinya tengah berciuman dengan seorag gadis ditengah taman.

“Yeonnie-ya.. Gwaenchana?” Suara Yesung berhasil menyadarkannya saat itu, ia menatap Yesung dengan mata yang sialnya hampir mengeluarkan air mata. “Eoh?” tanyanya.

“Apa kau menangis?” Yesung mengedarkan pandangannya kesegala arah mencari sebuah objek yang memungkinkan menjadi penyebab gadisnya menangis. Cepat-cepat Yeonmi tersenyum, mencoba bersikap biasa saja agar tak membuat Yesung khawatir. “Aniyaa.. Tiba-tiba saja aku mengantuk..” Ucapnya yang disambung dengan helaan nafas singkat dan berpura-pura mengucek matanya.

Jinja?” Yesung bertanya memastikan.

Yeonmi mengangguk, ia kembali melirik pria itu lagi yang saat ini tautan keduanya telah terlepas sedikit memberi kelegaan bagi Yeonmi. Tak seharusnya ia memiliki perasaan pada Pria itu kan? Dia sudah memiliki kekasih, dan seharusnya Yeonmi tahu kalau itu berarti akan menyakiti hatinya.

Oppa.. Aku ingin pulang, Kajja” Ajak Yeonmi sambil menarik lengan Yesung. Pria itu sedikit mengangguk ragu dengan pandangan Yang masih mengitari kesekiling mereka. Tak ada yang aneh selain sepasang kekasih yang sedang berduaan. Yeonmi tak akan menangis karena sepasang kekasih itu kan?

“Kau yakin baik-baik saja?” Tanya Yesung lagi. Yeonmi kembali mengangguk meyakinkan Yesung bahwa ia memang benar baik-baik saja. Tadi itu ia hanya terkejut hingga ia sulit menahan emosinya. Sesuatu berhasil menyadarkannya kalau dia dengan pria itu hanya sebatas teman yang beberapa kali ditemuinya. Hanya itu tidak lebih dan kurang.

Ketika memutuskan untuk menyukai seseorang, maka saat itu juga aku harus bersiap dengan kemungkinan yang akan terjadi. Tentang kenyataan bahwa ia mungkin tidak menyukaiku..

[Flashlight]

Drrt.. drrrt..

Yeonmi menghela nafasnya, ia lantas melihat ponselnya yang baru saja bergetar karena sms masuk. Sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Jae in padanya. Ia mengernyit, membaca rentetan pesan yang gadis itu kirim untuknya. Sesaat Ia terdiam sejenak, menimbang-nimbang permintaan temannya itu yang secara mendadak mengajaknya pergi kepesta nanti malam. Pesta yang diadakan untuk para kolega-kolega bisnis di Seoul. Jae in mengajaknya karena nanti malam Kyuhyun tak bisa menemani temannya itu. Menyebalkan, pasalnya Yeonmi sangat tak suka sekali pergi kepesta. Lagi pula dia siapa? Mengerti bisnis pun tidak. Hey! Ia hanya seorang wanita photographer biasa yang kebetulan kenal dekat dengan Jae in yang notabene nya adalah seorang putri pembisnis. Jadi, apa kata dunia jika ia berada dipesta itu? Aigoo

Aku tidak akan pergi,  Kau kan memiliki banyak teman Jae in-ya..

Yeonmi mendudukkan tubuhnya dihalte bus begitu ia telah selesai membalas pesan Jae in. Sore ini angin bertiup lebih kencang hingga membuatnya menggigil. Ia mengeratkan mantelnya, tepat ketika ia hendak menyandarkan tubuhnya di sandaran halte, ponselnya kembali berbunyi.

Kau harus datang! Aku ingin pergi bersamamu.. Sekarang, kau bisa ketempatku untuk bersiap? Aku sudah menyiapkan gaun yang cantik untukmu.

Yeonmi sedikit membulatkan matanya. Temannya itu benar-benar.. ia tak menjawab pesan itu dan hanya menyimpan ponselnya kembali kedalam tas. Ia tidak ingin pergi ke pesta dengan merepotkan orang lain seperti itu. Ini acara untuk orang-orang seperti Jae in, bukan untuk orang sepertinya.

Tapi sepertinya ia tak bisa berbuat apa apa karena beberapa saat setelah itu sebuah pesan kembali diterimanya.

Kau harus datang, jika tidak! Jangan berharap kau masih berkerja ditempatku 😀

Yeonmi berdecak. Apa katanya? Ia mengancam? Aigoo.. Kenapa ia bisa memiliki teman seperti itu heh? Teman yang sialnya menjadi bosnya, yang mau tak mau ia harus mengikuti apa perintahnya jika ia tak ingin kehilangan perkerjaannya yang membantunya hidup. Sepertinya tak ada pilihan lagi karena mungkin ia memang harus pergi ketempat Jae in jika ia tidak ingin kehilangan perkerjaannya.

***

Dan disinilah ia sekarang, didalam lift yang akan membawanya pada lantai teratas hotel mewah ini dimana pesta itu dilaksanakan. Beberapa orang disekitarnya terlihat tengah sibuk dengan urusan masing-masing. Ia hanya diam walau sejak tadi Jae in mengajaknya berbicara. Ia menggunakan Dres panjang berwarna merah marun dengan desain elegan yang Jae in sengaja siapkan untuknya. Dress tanpa lengan yang memperlihatkan leher dan lengannya yang indah dengan beberapa hiasan bagian dadanya dan perutnya semakin membuat penampilannya malam ini terlihat berbeda. Rambutnya yang digerai bebas dengan make up natural semakin membuatnya tampak cantik berbeda dari biasanya. Jae in juga tak kalah cantik, malam ini ia menggunakan dress berwarna ungu tanpa lengan dengan renda dibawahnya. Ia yang memang sudah terlihat sangat cantik dan elegan menggunakan pakaian seperti itu semakin membuat dirinya terlihat sangat-sangat berbeda. Ia yakin, jika Kyuhyun berada disini. Pria itu pasti akan sangat terpesona dengan penampilan Jae in malam ini.

Lift berhenti, dan setelah itu pintu terbuka. Beberapa orang yang berada di dalam lift kemudian keluar hanya menyisakan dirinya dengan Jae in dan Juga beberapa orang yang hendak masuk kedalam lift. Namun tepat saat itu, Jantung Yeonmi terpaksa memompa dengan cepat begitu ia melihat siapa saja orang yang baru memasuki lift yang dinaikinya..

Seseorang itu juga tampak sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya. Yeonmi menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya dari salah seorang pria yang sedang menatapnya sedikit bingung. Ryeowook berada disana, dengan beberapa orang yang Yeonmi yakin adalah temannya dan juga seorang gadis yang cantik seperti gadis yang dilihatnya tempo hari lalu sedang bersama pria itu disebuah taman. Hatinya mencelos, seharusnya ia sudah tahu kalau pesta ini diadakan untuk para pembisnis yang berada disekitar Seoul, dan sudah pasti besar kemungkinannya pria itu juga berada disana. Tapi ini sangat mengejutkannya karena ia berada didalam lift yang sama. Dan sialnya ia harus terpaksa menahan sakit dibagian dadanya saat melihat Ryeowook dengan gadis itu yang terlihat sangat dekat.

Ia mengangkat kepalanya saat Jae in menyentuh tangannya, “Kau baik-baik saja? Apa kau gugup?” Tanya temannya itu dan dijawab senyuman oleh Yeonmi. “Hn.. aku baik-baik saja..” Jae in balas tersenyum pada Yeonmi.

Yeonmi menghela nafasnya. Ia merasa seperti ada yang tengah memperhatikannya.. Oh tuhan, ia yakin tatapan pria itu tak lepas dari nya. Beberapa kali ia sudah kepergok melihatnya dan selama mata mereka bertemu jantungnya tak pernah berhenti berdegup dengan hebat.

Ryeowook memang memperhatikan Yeonmi. Jujur ia sedikit terkejut dengan kehadiran gadis itu dengan tampilan yang berbeda seperti ini. Sebenarnya, ia memang sedang terpesona dengan penampilan gadis itu yang jauh berbeda dari apa yang dia lihat sebelum ini, gadis itu terlihat lebih sexy dan cantik, selalu membuat Ryeowook bergairah. Pintu lift terbuka, gadis itu keluar lebih dulu dan Ryeowook serta teman-temannya dan juga Hee Jin keluar setelahnya. Tatapannya tak pernah terlepas dari sosok gadis itu yang terlihat tengah mengobrol bersama teman-teman Jae in. Ia bahkan tak menggubris apa yang Hee Jin katakan padanya. Biarkan seperti ini, Ryeowook senang bisa melihat apa yang gadis cantik itu lakukan.

Ditengah acara, Ryeowook melihat gadis itu yang tampak sedang berbicara dengan temannya seperti sedang meminta izin sesuatu dan kemudian pergi. Ryeowook berdiri dari tempatnya berniat untuk mengikuti kemana perginya gadis yang mampu mengetuk hatinya itu.

Yeonmi menghela nafasnya begitu ia sudah selesai mencuci tangannya. Ia mengangkat wajahnya, melihat pantulan dirinya sendiri dicermin. Sejak tadi, ia merasa seseorang memperhatikannya. Ani.. itu bukan perasaan lagi karena ia memang sangat yakin bahwa sejak tadi pria itu tak pernah berhenti memperhatikannya. Apa ada yang salah dengan penampilannya? Kenapa ia mendadak canggung melihat pria itu setelah kejadian kemarin? Ia merasa, ia harus menjaga jarak dengan pria itu. Pria itu terlalu berbahaya. Ia bisa saja terpesona terlalu dalam hanya karena menatap matanya. Oh Tuhan-_-

Setelah berhasil menenangkan dirinya sedikit, Yeonmi memutuskan untuk kembali kepesta agar bisa mengajak temannya itu segera pulang. Ia sudah lelah dan ingin segera tidur. Tapi sial, baru saja ia hendak melangkahkan kakinya keluar. Pria itu sudah berdiri tepat didepan pintu keluar toilet, menatapnya datar dan berjalan pelan menghampirinya.

“R..Ryeowook-ssi..” Panggil Yeonmi begitu pria itu sudah berdiri tepat dihadapannya.

Ryeowook sedikit mengerjapkan matanya, begitu aroma khas gadis ini menyapa indra penciumannya. “Aku tahu kau melihatku sejak tadi.. tapi kenapa tak menyapaku?” Mata cantik Yeonmi mengerjap. Jantung Yeonmi kembali berdegup hebat saat pria it uterus bergerak mendekatinya. Ia memundurkan langkahnya sembari menunduk menghindari tatapan Ryeowook.

“Aku.. Aku takut mengganggumu..” Yeonmi menelan ludahnya kelu begitu ia merasa punggungnya menubruk tembok. Ia mendongak, menatap Ryeowook sebentar lalu kembali menunduk, ia tidak bisa terus menatap mata pria itu, terlalu menggodanya..

“Kau menghindariku?”

Yeonmi kembali mendongak, mengeryit heran menatap pria dihadapannya “Aniya Aku—”

“Aku tidak suka kau menghindariku seperti tadi.. Jelas-jelas kau melihatku.. tapi kenapa kau tak menyapaku? Bahkan tersenyumpun tidak..”

“Kenapa aku harus melakukannya?”

“Karena kau-” Ryeowook menjeda sebentar, ia memejamkan matanya jengah. Aroma gadis ini.. kenapa membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih? Ia.. menginginkannya. Hanya karena ia menginginkannya membuatnya tak bisa berfikir kenapa juga gadis itu harus menyapanya? Walaupun kekesalannya memang benar terjadi saat gadis itu yang jelas melihatnya namun tak berusaha menyapanya walau hanya tersenyum. Ia memang benar-benar kesal sekarang.  “Mulai sekarang, jangan coba-coba menghindariku.. Karena aku..”

Wae?”

“Karena aku sepertinya menginginkanmu..” Mata Yeonmi membulat, nafasnya mendadak tertahan. Ia menatap pria yang berada dihadapannya dengan tidak percaya.. Apa yang baru saja dikatakannya? Pria itu menginginkannya? Menginginkan apa?

Nde?”

Ryeowook sedikit memundurkan tubuhnya, hanya sedikit karena saat ini pun ia masih bisa menghirup aroma yang memabukkan dari gadis didepannya ini. “Dua hari lagi aku akan pergi ke Jeju.. Aku ingin kita bertemu lagi..” Ucapnya dengan nada datar..

“Aku.. Aku tidak bisa..”

“Aku tak menerima penolakan. Temui aku di apartemenku jam 8 malam.. Ada sesuatu yang harus kupastikan..”

“Memastikan Apa?” Ryeowook memundurkan tubuhnya, ia tersenyum menatap gadis didepannya. Senyuman yang akhir-akhir ini membuatnya gila. “Kau akan mengetahuinya nanti.. Jangan buat aku menunggu Nona.. karena aku tak suka menunggu..” Ucapnya masih dengan senyuman. Ia kemudian berbalik meninggalkan Yeonmi yang masih terkejut dengan apa yang telah terjadi.

Ia mengerjap beberapa kali, menelan air liurnya dengan susah payah. Menghela nafas beberapa kali berusaha menenangkan dirinya. Kenapa pria itu selalu membuat jantungnya berdegup hebat? Kenapa ia seperti ini? Tapi entah mengapa ia justru menggulum senyum setelahnya. Entahlah.. tapi pria itu membuatnya senang hari ini. Aroma masculine pria itu memang sedikit membuat kepalanya pusing. Tapi ia menyukainya.. Dan apa maksud perkataan pria itu tadi? Apa yang diinginkannya dan apa yang ingin dipastikannya? Kenapa Yeonmi tidak boleh menghindarinya dan kenapa ia harus menemuinya besok malam? Aigoo.. Kenapa ia justru merasa takut sekarang?

Menghela nafas beberapa kali, ia kemudian melangkahkan kakinya keluar. Beruntung ditempat ini tidak ada orang sama sekali.. Jika ada satu orang pun disana, ia tidak tahu apa yang terjadi setelah ini. Ryeowook seperti nya tak pernah berfikir panjang tentang sebab akibat perbuatannya. Hal gila mungkin saja teradi kalau Ryeowook tak mengontrol emosinya.. Ia terlalu cepat berubah sikap.. Sebenarnya, apa yang dinginkannya? Kenapa ia berkata seperti itu disaat ia sudah memiliki kekasih? Apa Ryeowook memang pria yang seperti itu? Ya Tuhan,, Ia pusing sekarang.

[Flashlight]

Tuan  Kim mendongakkan kepalanya saat seseorang mengetuk ruang kerjannya dan kemudian melangkah masuk kedalam. Sekertaris kepercayaannya melangkah masuk dan berdiri tepat didepan meja kerjanya. Sebuah ampop besar berwarna coklat ditangannya dan setelahnya Ia membungkukkan tubuhnya sebagai salam hormat.

“Ada apa?” Tanya Tuan Kim sembari melipat kedua tangannya didepan dada. Pria yang menjadi sekertarisnya kemudian meletakkan amplop itu diatas meja untuk dilihatnya.

Pria paruh baya itu kemudian mencondongkan tubuhnya untuk melihat isi didalam amplop itu yang rupanya berisi beberapa lembar foto. “Kau menemukannya?” Tanyanya kemudian saat ia melihat selembar foto seorang wanita paruh baya tengah membersihkan halaman.

Nde~ Dia sekarang tinggal didaerah terpencil di Mokpo.. Ia memiliki kedai ramen kecil sebagai biaya hidupnya.” Jelasnya dan pria yang sedang dia ajak berbicara kemudian mengangguk mengerti. Ia kemudian melanjutkan kegiatannya membuka lembaran-lembaran foto itu hingga sampai pada sebuah foto dimana dua orang yang begitu amat dikenalnya terdapat disalah satu foto itu.

“Kau bisa menjelaskan ini?” Tanyanya, sambil menunjukkan sebuah foto dimana seorang pria sedang tengah berbicara dengan seorang gadis. Dan beberapa foto lain dengan keadaan hampir sama namun berbeda tempat. Dan ia rasa disalah satu tempat itu ia mengenalnya. Sebuah apartemen yang dimiliki putranya.

“Yeonmi sepertinya sudah bertemu dengan putra anda tuan.. Mereka bertemu sekitar sebulan yang lalu dimalam hari. Ryeowook membawanya keapartemennya dan setelah itu mereka bertemu lagi. Kemarin saat acara perayaan keberhasilan Cho Corp pun mereka berdua berada disana..”

Tuan Kim memejamkan matanya jengah, kenapa dua orang yang selama ini mati-matian tidak akan pernah diketemukan kenapa bisa saling bertemu seperti ini?

“Bagaimana keadaannya? Gadis itu.. Apa dia baik-baik saja?” Tanyanya. Sekertarinya mengangguk. “Dia baik-baik saja.. Walaupun saat itu Han Yoo Jin pernah menyakitinya, beruntung Ryeowook berada disana dan membantunya..”

“Kau bisa pergi sekarang..” Ucapnya dan kemudian dijawab anggukan kepala oleh Oleh sekertarisnya.

Ia menyandarkan tubuhnya. Kejadian seperti ini sebenarnya tak boleh terjadi. Gadis itu seharusnya tak pernah bertemu dengan putranya sampai kapanpun itu. Dan kenapa ia sampai lepas kendali hingga gadis itu bertemu dengan putranya? Ia memejamkan matanya. Apa yang harus dilakukannya sekarang?

CUT

Anyyeong.. 🙂 Udah lama banget nggak nge post ff disini.. Bagaimana kabar kalian semuaaa 😀 Aku baik-baik aja kok #nggak nanya-_-

Ini tuh entah otak aku nya yang nggak beres atau memang lagi sibuk buanget.. jadi ide tuh nggak bisa ngalir dengan lancar.. Jadi aja update nya lama banget. Setiap buat, baru setengah jalan udah dihapus lagi karena gagal.. lagi banyak ide eh taunya waktunya nggak ada -_- sedih kan 😥

Sebenarnya ada banyak ide cerita yang ada diotak sekarang. Tapi entah mengapa nggak pernah ada waktu untuk buat dan akhirnya mendadak ngilang idenya 😦 yowes.. jadi mian kalau updatenya agak lama dan hasilnya tidak memuaskan.. Terimakasih bagi kalian semua yang masih menjadi reader di blog ini. Terimakasih juga bagi kalian yang selalu meninggalkan komentar 🙂 Selamat membaca dan hati-hati typo nya -_- Saraghae All xD

Advertisements

9 thoughts on “[Fan Fiction] Flashlight || Part3

  1. wookpil

    Yaampuuun ini bikin penasaran banget tau ga -_-
    Sebenernya siapa wanita paruh baya yg ada di foto itu dan knpa ayahnya kim ryeowook ga ngijinin ryeowook ketemu sama yeonmi?
    Ah satu lagi. Ryeowook mau mastiin apa yg?
    Eumm pokonya lanjut yaaa, jangan lama2 😀 *maksa*
    Fighting^^9

    Like

  2. Risa Ryeosomnia

    Part ini bikin aku penasaran bangett… kira kira siapa wanita paruh baya itu eon?? Terus kenapa ayah wookie nggak mau kalau wookie ketemu ama yeonmi?? AHh…. ini buat penasaran… jangan lama lama updatenya!!! Aku tunggu chap berikutnyaaa …

    Like

  3. tya

    sbenar nya siaph wanita paruh baya itu onnnie dan knp koq kliatan nya ayah ryeoowook gk suka klau ryeowook knal ma yeonmi aph ad rahasia bsar yg di sembunyikan sma ayah ny ryeowook??? di tunggu chapter selanjut nya 🙂 fighting

    Like

  4. latifa

    sbenar nya siaph wanita paruh baya itu onnnie dan knp koq kliatan nya ayah ryeoowook gk suka klau ryeowook knal ma yeonmi aph ad rahasia bsar yg di sembunyikan sma ayah ny ryeowook??? di tunggu chapter selanjut nya 🙂 fighting

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s