[Fan Fiction] Flashlight || Part4

flashlight4

Title : Flashlight-Part4 || Author : Jung Hye Rim || Main Cast : Kim Ryeowook – Shin Yeonmi ||Support Cast : Cho Kyuhyun, Kim Jae in, Lee Donghae, Kim Jong Woon || Genre : Romance, Sad, Angst, Hurt || Rating : PG 17+ || Disclaimer : Plot and Story is mine, All the main character is belong to God and their parent. Just leave this blog if you don’t like it. Don’t bashing me because the story just a fan fiction 🙂

==Happy Reading==

Mencintaimu, seperti berpegangan pada akar yang berduri. Memilih jatuh kedasar jurang, atau bertahan dengan rasa perih yang teramat sangat,”

Yeonmi baru saja mendudukan tubuhnya di sebuah halte untuk menunggu bus yang akan membawanya pulang. Ia menghela nafasnya beberapa kali sebelum akhirnya menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi halte. Malam sudah semakin larut, dan Yeonmi sudah semakin lelah. Ia memejamkan matanya, tangan kanannya terangkat untuk memijat pelipisnya. Perkerjaan memadat akhir-akhir ini, walaupun hanya perkerjaan sederhana tapi jika harus terus berpindah-pindah tempat mencari sebuah objek yang menarik, itu semua cukup melelahkan, jadi sekarang, ia merasa tubuhnya sudah hampir remuk karena kelelahan. Dan hari ini ia masih memiliki janji dengan seseorang. Seseorang yang membuatnya hampir gila akhir-akhir ini.

Yeonmi mengangkat tangannya untuk melihat alrojinya. Jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang 5 menit. Ia seharusnya cepat pergi dari tempat ini jika ia tidak ingin terlambat. Tapi entah mengapa kakinya seolah enggan untuk melangkah pergi. Ia takut untuk pergi menemui pria itu malam ini. Yeonmi berdecak, hati dan pikirannya sedang berdebat hebat sekarang, antara diam dan tidak berangkat atau pergi sekarang sebelum terlambat.

Setelah berdebat cukup lama Yeonmi akhirnya memutuskan untuk pergi. Ia kembali melihat alroji nya yang sudah menunjukkan pukul delapan kurang satu menit. Ia menghela nafasnya, ini pasti akan terlambat, pikirnya. Langkahnya berubah cepat begitu didepannya sudah terdapat sebuah taxi yang kebetulan melintas. Segera memasuki mobil dan berangkat menuju tempat yang akan ditujunya. Apartemen Ryeowook.

Tak perlu waktu sepuluh menit agar ia bisa sampai ke tempat Ryeowook. Kebetulan apartemen Ryeowook terletak tidak jauh dari tempatnya duduk tadi. Ia segera mempercepat langkahnya, memasuki sebuah lift untuk segera menuju ketempat dimana apartemen Ryeowook berada.

Langkahnya perlahan berhenti saat matanya sudah dapat menangkap pintu apartemen Ryeowook. Mendadak saja jantungnya berdegup dengan hebat, ia kembali melirik alroji ditangannya. Jam delapan lebih lima belas menit. Astaga,, ia telat lima belas menit?! Menarik nafas dalam-dalam ia kemudian mengulurkan tangannya hendak mengetuk. Gerakannya terhenti saat tiba-tiba perasaan ragu menyergapnya. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kenapa ia harus menemui pria itu?

Ia hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu dan kembali pulang jika saja ia tidak penasaran dengan apa yang pria itu lakukan. Dengan banyak keraguan dan rasa penasaran yang tinggi, Yeonmi akhirnya kembali menarik nafas dan kemudian menggerakkan tangannya untuk mengetuk pintu sebanyak tiga kali. Dan detik berikutnya ia dapat merasakan pintu terbuka dan tubuhnya tertarik kedalam selanjutnya ia merasakan punggungnya terbentur tembok dan dihimpit sesuatu. Dia membuka matanya perlahan dengan ringisan pelan dan langsung berhadapan dengan wajah tampan Ryeowook yang berada sangat dekat dengannya.

Ryeowook menyeringai saat melihat wajah Yeonmi yang terkejut, namun wajah datarnya tetap saja terlihat hingga membuat Ryeowook sedikit geram, “Kau terlambat 16 menit 23 detik..” Ucapnya dengan nada tertahan tepat didepan wajah Yeonmi. Getar suaranya mengalirkan getaran geli dibibirnya yang nyaris bersentuhan.

“Aku tidak tahu kalau ternyata kau sangat menghitung waktu”. Suara Yeonmi tak kalah lirih, dia menatap Ryeowook datar. Nafasnya tertahan saat Ryeowook merapatkan tubuh mereka, merasakan tekanan dada keduanya yang membuat Ryeowook menyeringai, “Kenapa kau terlambat? Apa kau menghindariku?” Tanya Ryeowook.

“Siapa yang menghindarimu? Kau salah jika berfikiran seperti itu..” Yeonmi masih berdiri diam dengan kedua tangan yang masih berada dikedua sisinya, membiarkan Ryeowook yang semakin menpersempit jarak diantara keduanya. Pria itu kembali menyeringai, ia dapat merasakan jantung Yeonmi yang berdegup hebat bahkan getarannya mampu menggetarkan tubuhnya.

Ryeowook menatap tepat pada mata Yeonmi, gadis itu sedikit gugup jika ia berhadapan langsung dengan mata Ryeowook membuatnya seketika menunduk menghindari tatapan Pria itu yang seperti sedang mengintimidasinya. Ryeowook menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya perlahan tangannya kemudian terulur untuk memeluk pinggang gadis itu yang kemudian menyerukkan kepalanya pada leher gadis itu dan bernafas disana. Membuat gadis itu semakin menegang, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat dengan mata yang memejam dan nafas yang tertahan. Sedikit terasa geli karena Ryeowook bernafas disana. “Jadi, kenapa kau terlambat?” tanyanya dengan berbisik tepat ditelinga Yeonmi.

“Aku..” Ia menjeda sejenak, merasa lega karena Ryeowook sudah menjauhkan kepalanya, pria itu menatapnya lekat meminta penjelasan. “Bukankah setiap orang memiliki kesibukan masing-masing?” Tanyanya dengan sedikit nada kesal yang terselip disana. Memang benarkan? Setiap orang memiliki kesibukan masing-masing dan ia berhak untuk terlambat beberapa menit dari waktu yang ditentukan.

Ryeowook mengernyit, ia menatap Yeonmi sedikit ragu sebelum akhirnya memiringkan kepalanya. Tangan kanannya yang semula berada di pinggang Yeonmi kini mulai terangkat membelai surai hitam milik Yeonmi dan mengenyampingkan anak rambut yang menghalangi wajah cantik gadis dihadapannya. Gerakan Ryeowook tiba-tiba terhenti ketika ia melihat tanda lahir yang berwarna coklat berada dibawah telinganya. Mata sipitnya mendadak saja membulat terkejut, tubuhnya menegang saat mengetahui hal yang ingin ia pastikan ternyata memang benar adanya. Dan didunia ini hanya ada satu gadis yang memiliki tanda lahir bebentuk lingkaran tak beraturan dibawah telinganya. Dan gadis itu..

Ryeowook segera menatap Yeonmi dengan tatapan terkejut yang sulit diartikan. Yeonmi mengeryit heran begitu ia merasa Ryeowook sedikit memundurkan tubuhnya dengan tatapan yang entah seperti apa ia dapat mengartikannya. Tatapan itu sarat akan kerinduan, dan juga.. kebencian. Tapi kenapa?

“Kau sepertinya sedang tidak baik, lebih baik aku pulang.. Istirahatlah”. Ujar Yeonmi begitu melihat Ryeowook yang tiba-tiba mendudukkan tubuhnya disofa dengan tatapan kosong. Gadis itu tersenyum canggung sebelum akhirnya melangkahkan kakinya hendak keluar. Namun suara Ryeowook berhasil mengintrupsinya dan membuat langkahnya terhenti.

“Kau mau kemana?” Tanya Ryeowook. Yeonmi membalikkan tubuhnya menatap pria itu heran. “Pulang, mau kemana lagi?” tanyanya balik.

“Pulang? Bukannya kau akan tidur disini? Kita bahkan belum melakukan apapun..” Ujarnya, membuat Yeonmi membulatkan matanya. Apa yang pria itu maksud? Belum apanya? Yeonmi hanya menghela nafasnya kasar dan kemudian kembali berbalik, benar-benar ingin meninggalkan pria itu.

“Kau benar ingin pergi?” Ryeowook bangkit dan berjalan menuju Yeonmi. menggendongnya ala bridal style dan dibawanya kedepan pintu sebuah kamar yang dulu pernah Yeonmi tempati. Yeonmi hampir saja memekik keras saat Ryeowook menggendongnya tadi. Pria itu menurunkannya dan kembali menatapnya. “Kau bisa tidur disini..” Ucapnya dan kemudian memajukan tubuhnya hingga ia berada pada jarak yang sangat dekat dengan Yeonmi, bahkan gadis itu mampu merasakan deru nafas Ryeowook yang tenang.

Detik berikutnya suara khas pintu terbuka menyadarkan Yeonmi bahwa Pria itu sedang membukakan pintu untuknya. Ryeowook menjauhkan tubuhnya dan tanpa mengatakan apapun ia segera pergi meninggalkannya sendiri. Yeonmi menghela nafasnya dengan kelegaan luar biasa begitu Ryeowook meninggalkannya. Pria itu.. benar-benar membuatnya kelimpungan setengah mati. Apa maksudnya ia bertingkah seperti itu. Aigoo.

Yeonmi menggelengkan kepalanya pelan dan kemudian memilih untuk membiarkannya lalu masuk kedalam kamar yang beberapa waktu lalu ditempatinya. Ia tersenyum begitu sudah sampai didalam kamar yang masih sama seperti beberapa waktu lalu. Ia lantas mendudukkan tubuhnya di pinggiran kasur dan membuka mantelnya dan pakaian luarnya yang menyisakan kaos putih pendek yang dipakainya. Ia segera merebahkan tubuhnya dan juga menyelimuti dirinya sendiri dengan posisi senyaman mungkin untuk segera memejamkan matanya dan beristirahat. Ia akan pulang nanti pagi sebelum berangkat ke Jeju. Karena saat ini sepertinya Ryeowook tak akan membiarkannya pulang. Entah apa yang membuatnya berfikir seperti itu, tapi mengingat hal tadi pasti memang benar.

***

Yeonmi terhenyak dari tidurnya saat ia menyadari sebuah tangan melingkar diperutnya. Mata cantik sedikit membulat dan ia pun segera membalikkan tubuhnya. Dan betapa terkejutnya Yeonmi saat mengetahui bahwa yang memeluknya selama ia tidur adalah Ryeowook. Karena setahunya sebelum ia tidur tadi, ia masih sendiri kan?

Ryeowook sedikit menggeliat pelan namun kelopaknya tidak terbuka, tangannya yang masih melingkar dipinggangnya menariknya hingga ia berada dijarak yang sangat dekat dengan Ryeowook. Yeonmi hampir saja memberontak jika saja ia tidak terpesona lebih dulu pada wajah damai Ryeowook yang sedang tertidur, Bukannya menjauhkan pria ini dari hadapannya ia justru mengulas sebuah senyum manis. Tangannya terangkat untuk mengusap pipi Ryeowook dengan lembut. Rasanya sangat nyaman bisa berada dipelukan Ryeowook, apa ini yang gadis itu rasakan? Yeonmi menghentikan gerakannya. Ia merasa bodoh berada disini, bukankah Ryeowook sudah memiliki kekasih? Ya Tuhan.. kenapa ia sekarang merasa cemburu?

Tak lama setelah itu Ryeowook tampak gelisah dalam tidurnya. Membuat Yeonmi panic melihatnya tapi itu berlangsung tak lama karena belum sempat Yeonmi membangunkan, pria itu sudah lebih dulu membuka matanya. Tetesan keringat nampak jelas berada dikeningnya. “Kau bermimpi buruk?” tanya Yeonmi, ia mengusap pipi Ryeowook dengan lembut seolah memberikan ketenangan bagi pria itu. Ryeowook mematung ditempatnya, Ani.. lebih tepatnya terkejut dengan apa yang gadis itu lakukan.  Ia tak mengatakan apapun dan hanya membawa gadis itu kedalam pelukannya. Dan sekali lagi gerakan Ryeowook membuat Yeonmi menegang. Ini pelukan hangat yang pernah Yeonmi rasakan selama ia mengenal pria. Yeonmi tak mengatakan apapun untuk menolak pelukan Ryeowook, ia hanya diam dan perlahan-lahan mulai menikmati. Bagaimana ini, kenapa Ryeowook bisa berada diranjangnya dan memeluknya? Hanya ada satu hal yang dia pikirkan sekarang. Bagaimana jika kekasih Ryeowook mengetahui ini semua?

Yeonmi menghela nafasnya, ia  sedikit mendorong tubuh Ryeowook untuk menjauh, tapi pria itu seperti tak mengijinkannya dan hanya membawanya semakin lebih dekat. Dan membuat Yeonmi tak bisa melakukan apapun selain diam dan menikmatinya. Ia kemudian tersenyum miris lalu diam-diam mencoba untuk tidur kembali. Jujur saja, tidur didalam pelukan Ryeowook sangat-sangat membuatnya merasa nyaman dan tenang.

“Jangan bergerak atau berusaha untuk melepaskan diri. Karena jika kau melakukannya, aku tidak akan segan-segan menerjangmu sekarang..” Gumamnya dengan suara serak yang sexy.

“Jangan membuatku takut..” Gumam Yeonmi kemudian, Ryeowook mengerutkan dahinya tak mengerti, ia kembali melonggarkan pelukannya dan menatap Yeonmi lekat-lekat meminta penjelasan. “Jangan membuatku takut karena perasaanku padamu..” Imbuhnya dan entah apa yang dipikirkannya karena sekarang Yeonmi sedang menyerukkan kepalanya pada dada bidang Ryeowook mencari tempat yang paling nyaman disana dan kemudian kembali memejamkan matanya.

Sejujurnya Ryeowook tidak mengerti dengan apa yang Yeonmi katakan barusa, tapi ucapan itu diam-diam membuat senyumnya terbentuk. Shin Yeonmi, gadis menarik yang membuatnya terjerat begitu saja didalam pesonanya, dan tidak dapat dipungkiri kalau ia cukup bergairah dengan gadis yang satu ini. namun entah mengapa Ryeowook tak berani untuk menyentuhnya, entah karena gadis itu adalah gadis masalalunya atau mungkin Ryeowook yang tidak ingin terburu-buru?

***

Yeonmi mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan diri dengan sinar matahari yang menerobos masuk melewati celah gorden sebuah kamar yang sedang ditempatinya. Ia menghela nafasnya dan tangannya dengan sendirinya bergerak meraba disamping tempat tidurnya. Dan seketika matanya terbuka dengan lebar, Ryeowook sudah tidak ada disampingnya dan entah mengapa itu sedikit membuatnya kesal.

Yeonmi beranjak dari tempat tidurnya dan benar-benar tak mendapati Ryeowook dikamar ini. Ia  mendesis kesal, kenapa Ryeowook seperti itu? Membuatnya bingung dengan perasaannya sendiri karena Ryeowook yang selalu memperlakukannya berbeda. Untuk apa ia tidur dikamarnya semalam? Memeluknya possessive. Apa Ryeowook tak pernah mengerti dengan apa yang dirasakannya? Apa ucapannya semalam tak menyadarkannya?

Yeonmi memasuki kamar mandi yang terdapat dikamar ini untuk membersihkan tubuhnya dan setelah lima belas menit kemudian ia selesai dengan kegiatan itu, Yeonmi berjalan menuju kasur sembari mengeringkan rambutnya yang basah. Namun belum saja ia mendudukkan tubuhnya dikasur, seseorang sudah menariknya dan mengambil alih kegiatannya yang sedang mengeringkan rambut. Yeonmi tak mengatakan apapun, walaupun tadi ia sempat hampir memekik karena terkejut. Ia tahu siapa yang sedang melakukan itu padanya dan tanpa bisa disanggah olehnya kalau ia menyukainya. Yeonmi sama sekali tidak bisa melihat wajah pria itu karena memang matanya yang tertutup handuk. Ia kemudian menarik handuknya yang menghalangi matanya kebawah hingga menutupi hidung dan bibirnya. Dan tepat saat matanya kembali bisa melihat, ia lantas terdiam, kedua bola mata mereka bertemu dan Ryeowook berada dijarak yang sangat dekat dengannya, Pria itu seperti sedang akan mencium bibirnya.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Jadilah wanitaku..” Entah itu sebuah permintaan atau perintah, Yeonmi sama sekali tak mengerti. Mata bulatnya mengerjap lucu melihat Ryeowook yang sedang menyeringai kearahnya dan tanpa dapat diantisipasinya Pria itu menarik handuk yang masih menutupi wajah dan hidungnya lalu setelah itu ia dapat merasakan bibir Ryeowook mencium ujung bibirnya dan kembali menatapnya. “Aku tidak menerima penolakan Nona Shin, jadi kuharap kau menyetujuinya.” Ujarnya dan kemudian melepaskan pelukannya, Yeonmi mengerjap, pria itu.. sebenarnya apa yang diinginkannya?

Yeonmi menatap tak percaya punggung Ryeowook yang menghilang saat pintu kamar itu kembali tertutup. Tangannya kemudian terangkat menyentuh ujung bibirnya yang baru saja dikecup oleh Ryeowook. Jantungnya kembali bergemuruh. Pria itu.. Baru saja mengecupnya dan memintanya untuk menjadi wanitanya.. Apa ini sebuah karunia atau justru bencana? Yeonmi tidak tahu harus melakukan apa, ia seharusnya senang karena Ryeowook memintanya menjadi wanitanya, tapi ia juga tidak mungkin menjatuhkan harga dirinya sendiri karena menjadi seorang wanitanya pria itu yang jelas-jelas sudah memiliki kekasih. Walaupun otaknya pas-pasan untuk masalah pelajaran, tapi ia masih cukup pintar untuk menyadari siapa dirinya dan siapa Kim Ryeowook.

[Flashlight]

Sebuah mobil Audi a4 hitam terparkir di sebuah ujung jalan tepat didepan sebuah kedai ramen kecil yang berada didaerah Mokpo. Sebuah kedai ramen yang kebanyakan dikunjungi oleh anak sekolahan menengah pertama sebagai ajang tempat untuk berkencan. Kim Dong Woon. Menegakkan tubuhnya seketika saat ia melihat seorang wanita paruh baya tampak keluar dari kedai itu untuk membuang sampah.

Mata sipitnya sama sekali tak pernah berhenti mengawasi gerak gerik wanita paruh baya seumurannya itu. Bahkan ketika wanita itu sedang menolong seorang anak perempuan yang tersandung kemudian ice cream ditangannya tumpah semua. Semua itu tak luput dari pandangan Dong Woon.

“Dia tetap sama, selalu menyayangi anak kecil.” Ucapnya dan seketika itu ingatan-ingatan mengenai wanita itu saat bersamanya kembali teringat. Bagaimana wanita itu menyayangi putra tunggalnya dan mengurusnya sepenuh hati tanpa membedakan rasa kasih sayangnya terhadap putrinya sendiri.

Begitu puas dengan apa yang ingin ia lihat hari ini. Dong Woon kemudian menyuruh sekertarisnya untuk kembali melajukan mobilnya meninggalkan kedai ramen berserta seorang wanita paruh baya itu.

[Flashlight]

 Yeonmi menyesap jus Jeruknya tanpa semangat. Pikirannya sejak tadi pagi tak terfokus ia bahkan sering di tegur oleh Jae in karena terlalu banyak melamun. Jae in bahkan terus menannyakan ada apa dengan dirinya, tapi Yeonmi tak menjawabnya karena sejujurnya ia juga tidak tahu kenapa dia bereaksi seperti ini hanya karena ucapan gila Ryeowook tadi pagi. Seharusnya ia merasa senang karena dengan begitu ia bisa terus bertemu Ryeowook. Tapi kenapa sekarang ia menjadi bingung dan takut seperti ini?

Yeonmi mendongakkan kepalanya. Dihadapannya ada Yesung yang mengajaknya pergi makan siang ditempat ini dan Yeonmi sama sekali tak menyentuh makanannya, pikirannya melayang entah kemana. Tapi Yesung seolah mengerti keadaannya hingga pria itu diam tak menanyakan apapun padanya walau Yeonmi yakin ada banyak hal yang ingin pria itu tanyakan.

Yeonmi menghela nafasnya sebelum akhirnya menggerakkan tangannya menyentuh sendok dan memasukkan sesuap makanan yang dipesannya. Lagi pula serumit apapun hidupnya ia harus mengisi perutnya yang kosong. Akan lebih rumit lagi hidupnya jika ia sakit karena tak mengkonsumsi makanan kan?

“Ada yang ingin kau ceritakan Yeonmi-ya.. Sejak tadi kau hanya melamun..” Akhirnya.. Untuk sekian lama Yesung mengeluarkan pertanyaannya juga.

Yeonmi menggeleng, ia tidak mungkin mengatakan pada Yesung tentang apa yang Ryeowook katakan padanya kan? “Aku.. Hanya sedang memikirkan, Apa Han Yoo Jin tahu tentang keberadaan kedua orang tuaku?” ucapnya. Ya.. Selain masalahnya dengan Ryeowook ia juga masih memikirkan dimana keberadaan kedua orang tuanya sekarang, apakah masih hidup atau memang sudah tiada.

“Bukankah sudah kukatakan.. Han Yoo Jin itu hanya pria yang memiliki kelainan jiwa Yeonnie.. Dia adalah psikopat wanita, dan dia hanya menginginkanmu..”

“Tapi mungkin saja dia mengetahui dimana keberadaan kedua orang tuaku..” Elak Yeonmi. Menurutnya pria jahat itu mungkin saja mengetahui, kita tidak tahu kan apa yang direncanakannya dan rasanya Yeonmi ingin sekali menemui Han Yoo Jin sekali lagi untuk benar-benar memastikan dimana keberadaan orang tuanya.

Yesung tersenyum lirih melihat Yeonmi yang tetap yakin pada pendiriannya. Bagaimana caranya untuk menyadarkan gadis itu bahwa bertemu dengan kedua orang tuanya adalah hal yang sangat tidak mungkin? Ketika Orang tua kita menempatkan kita dipanti asuhan, bukankah mereka memang tak menginginkan kehadiran kita diantara mereka. Yesung tidak mau Yeonmi terus menerus memikirkan bagaimana orang tuanya. Ia hanya takut jika Yeonmi terus bersedih tentang hal itu.

“Yeonmi-ya..”

“Hmm?” Panggilan Yesung barusan hanya dijawab oleh gumaman harus dari bibir tipisnya. Yeonmi kembali menyuapkan makanannya dan kemudian menatap Yesung menunggu apa yang akan diucapkannya lagi.

Oppa ingin mengatakan padamu sesuatu..”

Mwotte?”

“Apa kau memiliki seseorang yang kau sukai?” Pertanyaan Yesung membuatnya terdiam. Orang yang disukai? Tiba-tiba saja bayangan Ryeowook terlintas dipikirannya saat Yesung menanyakan hal itu padanya. Yeonmi memang menyukai Ryeowook, entah rasa suka seperti apa yang ia maksud tapi setiap mengingat itu sebagian hatinya selalu merasakan sakit.

Eobseo..” Lirihnya.

“Bagaimana jika aku menyukaimu?”

Nde? Haha Bagaimana bisa? Bukankah Oppa selalu menganggapku anak kecil?” Tanyanya diiringi dengan tawa garing. Yesung tersenyum miris mengingat itu. “Itu dulu.. Tapi sekarang berbeda..” Suara Yesung terdengar lemah. Yeonmi tersenyum melihat sahabat tersayangnya itu, dulu.. Ia juga ingin Yesung mengatakan hal itu padanya, tapi kenapa disaat Yesung sudah mengatakannya ia justru merasa biasa saja?

“Simpan saja perasaan Oppa.. Aku pikir, perasaan itu hanya rasa sayang seorang kakak pada adiknya.” Ucapnya, Yeonmi menggigit bibir bawahnya gugup, ia takut jika Yesung salah tanggap dengan apa yang baru saja diucapkannya.

Aniya.. Oppa menyukaimu lebih dari rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya. Oppa menyukaimu, Ah Ani.. Oppa mencintaimu sebagai seorang wanita dewasa..”

Yeonmi terdiam mendengar perkataan Yesung, tidakkah semuanya terlalu cepat? Kenapa ia harus dibuat pusing untuk kedua kalinya? Apa ini hari sialnya??

“Jadi bagaimana?”

“Apanya?”

Yesung tersenyum, “Jadilah kekasih Ku..”

***

Yeonmi mengurung dirinya sendiri dirumahnya sudah lebih dari dua hari. Pernyataan Yesung dua hari lalu semakin membuatnya tak bersemangat. Ia bahkan cuti dari perkerjaannya hanya karena masalah itu, Jae in tentu saja melarangnya, namun Ia ijin dengan alasan lain, sakit. Yah kiranya seperti itu lah asalannya tempo lalu dan tanpa babibu lagi Jae in mengijinkannya begitu saja. Sebenarnya Yeonmi hanya ingin menghindari Yesung agar pernyataan itu tak perlu dijawabnya karena Yesung mungkin saja lupa.

Ia bisa saja langsung menolaknya begitu saja, tapi saat itu pikiran dan hatinya sedang tak sejalan dengan baik hingga ia tidak mampu memutuskannya langsung. Dan akhirnya ia meminta waktu pada Yesung, dan pria itu dengan berat hati memberinya waktu selama tiga hari. Ia juga meminta Yesung untuk tidak menghubunginya selama tiga hari itu dengan alasan bahwa ia ingin memikirkannya dengan baik-baik.

Dan sampai dua hari ini ia tidak bisa memutuskan apapun, kenapa? Karena pikirannya selalu dipenuhi oleh seorang pria menyebalkan bernama Kim Ryeowook. Ia tidak tahu apa yang dipikirkannya mengenai pria itu tapi yang jelas, entah sejak kapan ia merindukan pria itu. hatinya dengan terang-terangan meminta Ryeowook untuk memaksanya agar ia mau menjadi wanita pria itu, paling tidak pria itu menunjukkan padanya kalau dia benar-benar menginginkan Yeonmi. Walaupun rasanya tak mungkin setiap ia mengingat Ryeowook sudah memiliki kekasih dan setiap kali ia mengingat itu, entah mengapa pikirannya selalu mengatakan bahwa dua hari lalu saat Ryeowook memintanya sebagai wanitanya. Itu hanya karena pria itu menginginkan tubuhnya.

Helaan nafas kembali keluar dari hidungnya. Dan sesaat kemudian ia bangkit dari tempat tidurnya, melangkahkan kakinya kekulkas miliknya mengambil sebotol minuman dingin dan kemudian meneguknya hingga habis lalu kembali pada kasur tercintanya. Kiranya hanya seperti itulah kegiatanya selama tiga hari ini. Sesekali keluar flat nya melihat-lihat pemandangan mengusir jenuh yang menderanya, kemudian makan, minum, mandi. Namun selebihnya ia lebih memilih diam di atas tempat tidurnya merenungkan sesuatu yang tak dimengertinya.

[Flashlight]

Malam semakin larut, dan suasana bising didalam sebuah club mewah itu tidak pernah berhenti dan akan semakin ramai akan pengunjung. Di sebuah ruangan VVIP Ryeowook duduk dengan sebotol cairan memabukkan yang menemani malamnya. Ryeowook tersenyum dan melambaikan tangannya kearah seorang wanita sexy yang sedang melambaikan tangannya kearahnya dan kemudian berjalan menghampirinya. Wanita itu memakai mini dress tanpa lengan berwarna hitam dan menunjukkan sedikit belahan didadanya.

Ryeowook kembali meneguk segelas minuman beralcohol miliknya dengan sekali tenggak saat Wanita sexy itu duduk disampingnya. “Kau sendiri?” Tanya wanita itu begitu melihat Ryeowook selesai meneguk minumannya.

“Hmm..” Jawabnya singkat.

Seringaian nampak muncul diwajah cantik gadis itu. Pria dihadapannya adalah pria tampan yang kaya. Siapa yang tidak tertarik pada pria itu, dan ia bisa menjamin bahwa teman-temannya disana sedang iri padanya kalau saat ini bisa kembali menghabiskan waktu bersama pria itu untuk yang kedua kalinya. Yoon Ji Young, gadis itu tersenyum pada Ryeowook dengan percaya diri. “Keure.. Kalau begitu aku akan menemanimu malam ini Ryeowook-ssi..” Ucapnya dan hanya dijawab oleh senyuman singkat Ryeowook.

Tujuan Ryeowook mengunjungi club malam ini setelah selama tiga hari ia sudah menghabiskan waktu untuk bisnisnya adalah untuk menyampaikan hasrat dan juga rindu yang sudah dipendamnya selama tiga hari ini yang ditunjukkan entah untuk siapa. Tapi begitu ia datang ketempat ini dan sudah menghabiskan waktu selama hampir kurang lebih satu jam, hanya beberapa botol vodka yang justru dinikmatinya. Ia sama sekali tak bergairah walaupun wanita-wanita sexy disini menggodanya. Termasuk Yoon Ji Young, ia sama sekali tak bergairah melihat wanita sexy itu mendatanginya dengan pakaian yang luar biasa panas.

Ryeowook kembali meneguk minumannya tanpa memperdulikan Ji Young yang bahkan saat ini sudah bersandar padanya seperti sedang menggodanya. Ia hanya focus pada minumannya dan pikirannya yang sekarang melayang-layang entah memikirkan apa, Hingga tanpa sadar minuman itu sudah membuatnya mabuk.

“Ryeowook-ssi.. sepertinya kau sudah mabuk.” Ujar Ji Young pada Ryeowook saat ia melihat mata pria itu yang memerah. Ryeowook tersenyum dan kemudian menggeleng, “Aniya.. Aku tidak mabuk Ji Youngie..” Ujarnya yang kemudian berdiri.

“Kau mau kemana?” Tanya Ji Young lagi.

“Pulang, mau kemana lagi?” Ryeowook balik bertanya pada Ji Young dan kemudian melangkah kan kakinya dengan terhuyung, Ryeowook hampir saja terjatuh jika saja Ji Young tak bergerak cepat untuk menangkap tubuh Ryeowook.

Wanita itu membawa Ryeowook kesebuah kamar yang disediakan di club mewah itu, walaupun beberapa kali Ryeowook menolaknya dan kembali jalan berbalik, tapi Ji Young cukup pintar untuk membawa Ryeowook kedalam perangkapnya sendiri.

“Yeonmi-ya..” Gumam Ryeowook di luar kesadarannya. Kini ia sudah berbaring disebuah kasur berukuran King size disebuah kamar hotel dimana Ji Young membawanya. Ji Young yang mendengar gumaman tak jelas Ryeowook hanya mengernyit heran sebelum akhirnya ia ikut duduk disamping pria itu dan membuka dasinya pelan.

“Yeonmi.. Nuguya?” Tanyanya.

Ryeowook membuka matanya, ia masih dalam keadaan mabuk sekarang dan sudah dapat dipastikan kalau ucapan yang keluar dari bibirnya tanpa disadarinya. “Yeonmi?.. Ahh, dia adalah sahabat kecilku, Sahabat terbaik yang kemudian menghilang bersamaan dengan kemunculan berita perselingkuhan Appa ku dengan ibunya.” Ryeowook berucap sinis. Ia memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya kembali terbuka membiarkan Ji Young membuka kancing kemeja atasnya. “Setelah bertahun-tahun dia menghilang, aku menemukannya kembali. Dan kau tahu bagaimana dia sekarang? Dia tampak lebih cantik dan mempesona. Tapi sikap keras kepalanya tidak pernah hilang. Oh Tuhan.. dia bahkan tak langsung menyetujui permintaanku yang memintanya untuk menjadikannya wanitaku. Oh God” Ryeowook berucap dengan raut wajah kesal.

“Apa aku kurang mempesona? Sehingga dia tak langsung menjawab ‘iya’?” Tanya Ryeowook lagi. Ji Young yang sudah terdiam sejak tadi kemudian menatap Ryeowook yang kini sudah kembali memejamkan matanya. “Kau terlalu mempesona Ryeowook-ssi, bahkan aku sendiri pun sulit menolak pesonamu..” Lirihnya. Ia menghela nafasnya sebelum akhirnya memajukan tubuhnya untuk mengecup bibir Ryeowook lama. Ryeowook kembali membuka matanya dengan alis yang beratut bingung. “Kau menciumku?” tanyanya dan hanya dijawab dengan senyuman oleh Ji Young.

***

Ryeowook membuka matanya saat merasa hangat sinar matahari menerpa wajahnya. Mengerjap beberapa kali sebelum bangun dengan menopang kedua sikunya untuk menahan beban tubuhnya, matanya mengedar, memeriksa sebuah kamar yang tampak asing baginya. Sesaat ia terdiam, berusaha mengingat apa yang dilakukannya semalam. Karena seingatnya ia masih didalam club sembari meminum minuman beralcohol bersama seorang wanita, Yoon Ji Young. Mengingat itu Ryeowook segera memeriksa kondisi tubuhnya dan sedetik kemudian ia menghela nafasnya saat menyadari ia masih memakai pakaian lengkap, hanya saja Jas serta dasinya terbuka, tapi walau begitu sedikit membuat kelegaan padanya kalau ia tidak melakukan apapun pada gadis bermarga Yoon itu.

Ryeowook kemudian bangkit dari tidurnya berniat untuk segera pulang karena ia juga harus kembali berkerja. Walaupun pening dikepalanya masih belum hilang tapi ia harus segera pergi dari tempat ini. Namun belum saja Ia hendak keluar, secarik kertas yang ditempelkan di pintu keluar membuatnya terdiam. Ia mengulurkan tangannya mengambil kertas itu dan membacanya.

Gadis yang bernama Yeonmi.. Ah, Dia membuatku iri Ryeowook-ssi. Aku benci mengatakannya tapi, semoga kau berhasil menjadikan gadis itu wanita mu..

Ryeowook mengernyitkan matanya membaca selembar surat itu. Kenapa ia tahu soal Yeonmi? Apa yang ia katakan tadi malam? Ryeowook kembali menghela nafasnya dan kembali melanjutkan langkahnya mengabaikan pikiran-pikiran buruknya tentang semalam.

[Flashlight]

Yeonmi berjalan santai menuju sebuah halte yang akan membawanya ke studio tempatnya berkerja. Sesekali ia meneguk Hot Chocolate yang baru saja dibelinya untuk menghangatkan tubuhnya yang menggigil akibat cuaca yang cukup dingin. Walaupun matahari tetap bersinar dengan terang tapi ia rasa masih kurang cukup menghangatkan tubuhnya. Setelah tiga hari ini ia mengurung dirinya di flatnya akhirnya ia kembali memutuskan untuk beraktifitas seperti semula.

Langkahnya terhenti begitu dihadapannya berdiri sosok Yesung yang sedang melangkahkan kakinya menghampirinya. Walaupun ia sudah menyiapkan jawabannya tapi tetap saja ia merasa gugup jika harus bertemu Yesung sepagi ini.

Oppa..” Panggilnya.

Yesung tersenyum begitu ia sudah berdiri dihadapan Yeonmi, “Kau mau berkerja?” tanyanya lembut seperti biasa. Yeonmi menganggukkan kepalanya dengan tatapan yang masih mengarah pada Yesung. Sebelum akhirnya Yesung mengajaknya untuk berangkat bersama, dan Yeonmi tanpa basa basi menyetujuinya.

Selama di dalam mobil tak ada pembicaraan yang Yeonmi lakukan, ah.. sebenarnya Yeonmi yang tidak terlalu merespon ucapan Yesung dengan cerewet seperti biasa, ialebih banyak terdiam sekarang mempersiapkan dirinya kalau-kalau Yesung menyinggung hal yang dibicarakan mereka tiga hari lalu.

Studio tempatnya berkerja sudah semakin dekat, bahkan Yeonmi sudah bisa melihat tempat itu yang berada dipersimpangan jalan dan hanya beberapa detik lagi ia akan sampai dan beruntung sejauh ini Yesung sama sekali tak menyinggung hal itu.

Mobil berhenti tepat didepan studionya. Ia menatap Yesung untuk mengucapkan terimakasih dan setelah dijawab oleh pria itu, Yeonmi segera keluar. Tapi sepertinya tidak akan mudah karena sekarang Yesung menahan tangannya untuk tidak keluar.

Wae?” Tanya Yeonmi masih berusaha bersikap untuk normal.

“Soal pernyataanku tiga hari lalu, apa kau menerimanya?” Tubuh Yeonmi menegang, ia sudah tahu kalau akan seperti ini jadinya, Yesung tidak akan membiarkannya begitu saja walau selama diperjalanan tadi mereka tak melakukan banyak pembicaraan.

Yeonmi terdiam cukup lama hingga menimbulkan keraguan pada diri Yesung. Pria itu kembali tersenyum tulus dan kemudian mengangkat tangannya mengusap ujung kepala gadis itu dengan lembut. “Gwaenchana.. Mungkin kau memang belum bisa menerima ini. Tapi aku berharap kau menjadi milikku Yeonmi.. Menjalin hubungan bukan seperti kakak dan adik.” Ujarnya dan Yeonmi dapat melihat ada luka dibalik senyumnya yang tulus. Ya Tuhan.. Apa yang harus dilakukannya?

Oppa Mianhae..” Lirihnya dan Kembali Yesung tersenyum tulus padanya sembari menganggukkan kepalanya beberapa kali.

[Flashlight]

Di belakangnya Ryeowook berdiri menatap punggung Yeonmi dalam diamnya, mengikuti kemana langkah kaki itu pergi. Entah kenapa Ryeowook bisa melakukan hal seperti ini, sejak tadi pagi pandangannya tak pernah lepas dari sosok gadis yang berjalan 5 meter dihadapannya. Yang ia pikirkan hanyalah ia senang melihat kegiatan gadis itu. Walaupun ia sempat dibuat geram karena ada seorang pria yang mengantarnya dan tersenyum padanya. Tapi beruntung Ryeowook masih bisa menahan emosinya yang tidak menarik paksa lengan gadis itu agar pergi bersamanya.

Langkah gadis itu terhenti dihadapan sebuah lorong sekitar 50 meter dihadapannya. Ryeowook tampak mengernyitkan matanya melihat Yeonmi yang terlihat ragu melangkahkannya kembali menuju lorong gelap itu yang akan mengantarkannya langsung pada flatnya.

Yeonmi sangat takut untuk kembali melangkahkan kakinya melewati lorong panjang yang gelap itu. Kedua tangannya mencengkram kuat tali tas selempangan yang ia pakai hari ini. Berulang kali ia menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan mengusir ketakutan dan rasa gugup yang sedang dialaminya. Dengan langkah ragu ia mulai kembali mengayunkan kakinya menapaki jalan yang sudah sangat sepi itu. Hanya jalan itu yang menjadi satu-satu alat untuk mencapai pada flat yang ditempatinya dan Yeonmi tak ingin mengambil resiko tidur dijalanan hanya karena ia takut melewati lorong sempit itu.

Langkah kakinya kembali berhenti belum lama ia melangkah. Ryeowook kembali mengernyit bingung melihat itu namun beberapa saat kemudian suara orang bernyanyi didengarnya. Mulut Ryeowook terbuka membentuk huruf O menyadari itu dan ia kembali melangkahkan kakinya mengikuti gadis itu yang juga kembali melangkahkan kakinya. Suara langkah kaki Yeonmi dengan gumaman lagu yang Yeonmi keluarkan menjadi music mengantar mereka. Keduanya kembali menghentikan langkahnya dan kali ini mereka sudah hampir sampai di ujung lorong tersebut. Mata Yeonmi mengerjap saat ia mendengar suara gaduh dari arah depan. Gadis itu kembali memegangi tali tas selempangnya dengan erat berharap bukan para psikopat gila yang sedang melakukan kekerasan yang menjadi sumber dari suara gaduh itu.

Ia kembali melangkah namun dengan hati-hati, dan seketika saja Yeonmi kembali menghentikan langkahnya kala ia melihat segerombolan manusia sedang saling memukul satu sama lain. Tubuhnya mematung, perlahan ia memundurkan langkahnya melihat kejadian itu, tubuhnya bergetar hebat dan wajahnya seketika memucat. Ia memegangi dadanya yang sesak, mulutnya terbuka berusaha mengais oksigen yang tidak mencapai paru-parunya. Ingatan-ingatan saat ia disiksa oleh orang-orang seperti itu kembali terngiang dikepalanya, seperti roll film yang tak pernah berhenti memutar. Yeonmi memejamkan matanya, berusaha mengusir ketakutannya dan mencoba untuk berani. Tapi semuanya tak akan berubah rasa sesak yang semakin dirasanya. Ingin sekali ia pergi dari sana sekarang, namun tubuhnya kaku ia bahkan sulit menggerakkan kepalanya hanya untuk menoleh.

Ryeowook yang melihat itu ikut menegang, bukan karena perkelahian yang baru saja dilihatnya. Tapi kondisi gadis itu yang terlihat seperti sangat kesakitan. Tanpa mengatakan apapun Ryeowook segera menghampiri gadis itu dan berdiri tepat dihadapannya. Ryeowook berjengit kaget saat dengan tiba-tiba Yeonmi memegang kedua lengannya dengan erat, masih dengan nafas yang tak beraturan. Dan Ryeowook dapat melihat wajah pucatnya. Dengan ketakutan yang teramat sangat akan keadaan gadis itu Ryeowook segera menggendong gadis itu menjauh dari tempat itu.

Dia sebuah cahaya, tapi kenapa ia begitu sangat takut memasuki kegelapan? Bukankah seharusnya ia merasa senang karena berada didalam kegelapan yang sangat membutuhkan cahaya? Lalu bagaimana jika aku membutuhkannya? Kegelapan sepertiku sangat membutuhkan cahaya yang sepertinya. Apa ia akan tetap takut?

***

Yeonmi membuka matanya dengan perlahan, seketika aroma khas rumah sakit menyapa indra pendengarannya. Matanya mengerjap dan ia berusaha untuk membangunkan tubuhnya sendiri. Tapi genggaman erat ditangannya membuatnya mengurungkan niat itu dan kini matanya beralih menatap seorang pria yang sedang tertidur dengan tangannya yang digenggamnya erat. Yeonmi mengernyit bingung melihat pria itu, ia menyipitkan matanya berusaha mengingat pria itu dan Bingow! Sesaat kemudian ia tersadar kalau pria itu adalah Kim Ryeowook, pria yang selama tiga hari ini menghilang entah kemana.

Ia kembali mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi padanya, seingatnya ia sedang berada diujung lorong yang akan mengantarnya pada flatnya namun sebuah pertengkaran terjadi didepan matanya dan setelah itu ia kesakitan. Dan tak beberapa lama setelah itu ia merasa ada seseorang yang berdiri dihadapannya dan menolongnya. Mungkinkah itu Kim Ryeowook? Yeonmi bertanya pada dirinya sendiri sembari memandangi wajah damai itu yang sedang terlelap.

Yeonmi dengan hati-hati menarik tangannya untuk melepaskan genggaman ditangannya. Namun gerakan yang ditimbulkan rupanya mampu membuat Ryeowook terbangung. Pria itu kemudian mengangkat kepalanya dan megerjapkan matanya sebelum akhirnya ia melihat Yeonmi yang sedang terdiam menunduk.

“Kau baik-baik saja?” Tanya Ryeowook dan kemudian Yeonmi mengangguk membuat sedikit kelegaan bagi Ryeowook.

“Kau mengalami trauma berat akibat kejadian beberapa minggu lalu, dokter melarangmu untuk melihat hal-hal yang berupa kekerasan sementara ini..” Ucapnya dan diakhiri dengan helaan nafas setelahnya. Yeonmi mengangguk dan ia memberanikan diri menatap Ryeowook.

“Aku ingin pulang..” Lirihnya. Dan Ryeowook tanpa basa basi menyetujuinya. Yeonmi memang sudah diperbolehkan pulang oleh dokter setelah sadar nanti. Dan untuk kali ini Ryeowook tak akan membiarkan gadis itu kesakitan lagi. Entah perasaan apa itu, yang Ryeowook tidak mau terjadi sesuatu pada gadis ‘nya’.

Didalam mobil keadaannya sama seperti hal-hal yang mereka lakukan setiap kali terjebak didalam mobil yang sama. Suara mesin mobil yang tak terlalu jelas menjadi satu-satunya suara diantara mereka. Jalanan malam yang sepi semakin membuat keheningan diantara mereka. Yeonmi masih terdiam ditempatnya dengan kepala yang menoleh kearah jalanan disampingnya sementara Ryeowook masih terlihat focus dengan setirnya.

Yeonmi mengernyit saat ia merasa bingung dengan jalanan yang tampak asing baginya. Ini bukan jalan menuju kerumahnya, ya.. Yeonmi yakin itu. Kepalanya kembali menoleh kearah Ryeowook hendak menanyakan sesuatu, “Kau akan membawaku kemana?” tanyanya hati-hati.

“Kerumah..” Jawabnya singkat dan terkesan dingin.

“Rumahku tidak melewati ini Ryeowook-ssi

“Mulai sekarang kau akan tinggal dirumahku..” Yeonmi membulatkan matanya mendengar penuturan yang barusan diucapkan Ryeowook.

“Aku tidak mau..” Yeonmi jelas langsung menolak apa yang Ryeowook suruh padanya. Ia tidak mungkin menghabiskan waktu terus bersama pria itu sementara dirinya tidak tahu bagaimana perasaan pria itu padanya. Yeonmi tak ingin menyakiti hatinya sendiri.

“Sudah kubilang aku tak ingin mendengar penolakan.” Ujar Ryeowook lagi. Yeonmi mencibir, kenapa pria dihadapannya ini tak pernah mau mengalah?

“Aku tidak mau Ryeowook-ssi, dan kumohon turunkan aku sekarang.” Ucapnya dengan penuh penekanan. Tapi sepertinya Ryeowook masih terlalu keras kepala hingga pria itu tak ingin memberhentikan mobilnya dan menurunkannya. Dan Yeonmi cukup dibuat kesal karena itu.

Dan tak lama setelah itu mereka sudah sampai di basement dimana apartemen Ryeowook berada. Seusai memakirkan mobilnya Ryeowook kemudian turun dan membukakan pintu agar gadis itu bisa keluar. Namun Yeonmi masih terlalu bersikukuh dengan pemikirannya hingga ia menolak untuk turun. Dan tentu perlakuannya itu membuat Ryeowook kesal.

“Kenapa kau begitu keras kepalah ha?” Tanya Ryeowook dengan nada yang sedikit keras membuat gadis itu sedikit ketakutan. Ryeowook memejamkan matanya kesal dan mengusap wajahnya dengan sedikit kasar.

Ia kembali menatap gadis itu dan tanpa mengatakan apapun ia membuka seatbelt nya dan kemudian menarik lengannya dan membawa gadis itu bersamanya. Yeonmi ingin sekali memekik keras dan menuduh pria itu sebagai penculik, namun entah mengapa ia tidak melakukannya dan justru membiarkan Ryeowook melakukan hal yang diinginkannya. Hingga akhirnya mereka sampai diapartemen Ryeowook. Pria itu membawanya tepat dikamar yang berbeda dari sebelumnya ia pernah menginap.

“Jangan bersikap keras kepala, kau tinggal bersamaku mulai sekarang.” Ucap Ryeowook dan kemudian pria itu melepaskan tangannya lalu berlalu pergi kekamar mandi. Yeonmi mengerjap, Ryeowook tampak berbeda hari ini. Memangnya apa yang salah dengannya? Kenapa raut wajah pria itu tampak sangat khawatir?

CUT

 

Advertisements

4 thoughts on “[Fan Fiction] Flashlight || Part4

  1. wookpil

    Kyaaa aku baca pas awal2 penasaraaaan bngt sma masalalu mereka trutama ryeowook. Tapi pas tau ibunya yeonmi prnh brsma sma ayah ryeowook baru deh kejawab. Tapi masih pnsaran jga sih penasaran bngt malah.
    eumm aku baru nemu loh wanita di club malam kaya gitu sebaik jiyoung kkk merelakan ryeowook gitu aja :3
    ryeowook pesonanya emang ga nahan, selalu bikin jatuh cinta yg liat XD
    okee pokonya lanjut yaaa aku pnasaran bngt sma kisah mereka semua. Semoga update asap yaa 🙂

    Like

  2. tya

    prtama baca udah buat pnasaran ma masalalu wookie dan bkin gigit jari pas yeomi di apartemen wookie dngn pkiran gmna klanjutan nya ehh trnyata gk jdi aph2 🙂 bkin pnasaran di tunggu nex chapter ny

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s