[Fan Fiction] Flashlight || Part5

flashlight4

Title : Flashlight-Part5 || Author : Jung Hye Rim || Main Cast : Kim Ryeowook – Shin Yeonmi ||Support Cast : Cho Kyuhyun, Kim Jae in, Lee Donghae, Kim Jong Woon || Genre : Romance, Sad, Angst, Hurt || Rating : PG 17+ || Disclaimer : Plot and Story is mine, All the main character is belong to God and their parent. Just leave this blog if you don’t like it. Don’t bashing me because the story just a fan fiction 🙂

==Happy Reading==

Incheon, South Korea 1998

Matahari bersinar cerah pagi itu. Semua anak tampak asik bermain ditengah taman yang indah. Seorang anak laki-laki dengan tubuh yang tidak terlalu tinggi menatap datar teman wanita yang berada dihadapannya. Hari ini cuaca begitu cerah dan mendukung untuk bermain tapi wanita dihadapannya sejak tadi pagi hanya ingin mengajaknya bermain Rumah-rumahan dan sialnya selalu ia yang menjadi Ayah dirumah kecil yang dibuat gadis itu.

“Aku boleh pergi ya?” Ryeowook, anak kecil itu meminta izin pada sang gadis yang sedang sibuk memasakkan sarapan untuk pagi ini. Gadis itu mendongakkan kepalanya menatap Ryeowook kesal dan kemudian dengan tegas menggelengkan kepalanya tak menginjinkan apa yang Ryeowook inginkan.

“Tidak boleh! Kau harus bermain denganku Ryeowook-ah..” Ujarnya dingin dan kemudian menyajikan masak-masakan tak berbentuk keatas meja makan buatan mereka sendiri.

Ryeowook berdecak, “Yaa! Panggil aku ‘Oppa’ Lagi pula umurku 2 tahun lebih tua dari mu. Tsk” Ucapnya dan seketika membuat gadis itu melongo tak percaya. Haruskah dia memanggil pria menyebalkan dihadapannya ‘Oppa’?

Shirreo!”

“Yaa! Aku kan suamimu? Kalau kau tak memanggilku ‘Oppa’ Aku akan pergi dari sini dan berhenti bermain denganmu..” Ancamnya. Gadis itu kembali berdecak kesal namun diam-diam ia mengulas senyum. “Arraseo Ryeowookie Oppa..” Ucapnya dengan malu-malu, dan kemudian Ryeowook terkekeh sembari mengusap ujung kepalanya dengan lembut.

“Apa kau mau pergi kerumah pohonku?” Tawar Ryeowook dan kemudian gadis itu tampak berfikir sebelum menjawabnya. “Kau mau mencoba lari ya?” Tanya gadis itu alih-alih menjawab pertanyaan Ryeowook. Pria itu kembali berdecak mendengar tuduhan tak beralasan Gadis manis dihadapannya. “Kita bisa bermain disana..” Ujar Ryeowook lemah dan kemudian gadis itu tertawa ringan.

“Eumm.. Kajja..  Aku pun sepertinya mulai bosan berada disini..” Ajak Gadis itu dan kemudian menarik Ryeowook ikut bersamanya meninggalkan taman bermain dirumah mewah gadis itu.

Langkah keduanya terhenti didepan sebuah rumah pohon yang Ryeowook katakan tadi, Gadis itu yang melihatnya bahkan tak kuasa menahan rasa kagumnya melihat Rumah pohon milik Ryeowook yang sangat menarik dan memang cocok untuk dijadikan tempat bermain kesukaannya. Begitu lama menyelami keindahan rumah pohon itu membuat gadis itu tak menyadari kalau Ryeowook sudah berada lebih dulu diatas.

“Yeonmi-ya! Kau tidak akan naik?” Tanya Ryeowook mengalihkan sejenak konsentrasi Yeonmi. Gadis manis itu mendongak dan tau-tau sudah mendapati Ryeowook yang sedang tersenyum bocah kearahnya. Ryeowook menjulurkan tangannya menyuruh gadis itu segera naik keatas. Yeonmi menelan air liurnya dengan susah payah melihat tangga yang akan membawanya pada rumah pohon diatas. Ia tak menyangka kalau ia akan setakut ini untuk naik kesana. Ya Tuhan.. Apa harus ia melakukan itu?

Ppalliwa! Kau akan diam disitu sampai matahari tenggelam heh?”

“Sebentar! Aku sedang memikirkan sesuatu.” Ujarnya pelan.

“Jangan katakan kau takut menaiki tangga ini.” Ejek Ryeowook yang sialnya sangat benar. Yeonmi berdecak dengan kedua tangannya yang berada dipinggangnya, menatap Ryeowook sebal dengan mulut yang mengerucut lucu. Membuat Ryeowook ingin mengecup bibirnya sekarang juga.

“Kau mengejekku?”

Aniya.. Aku hanya mengataimu saja..”

Tsk.. Itu sama saja bodoh!” Kini giliran Ryeowook yang berdecak. Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang mengatainya bodoh. Disaat semua orang memuji dan berlomba-lomba untuk menjadi kekasihnya kenapa hanya Dia yang sudah diberi anugrah menjadi sahabatnya dan bisa berdekatan terus dengannya sering mengatainya bodoh.

“Kau mau naik tidak? Aku akan membantumu kalau kau ingin..” Tawar Ryeowook, ia tidak ingin melanjutkan perdebatan mereka karena sudah pasti kekeras kepalaan gadis itu pada akhirnya membuatnya mengalah, jadi dari pada ia mengalah diakhir dengan tenaga yang sudah habis lebih baik ia mengalah sekarang kan?

Yeonmi mengangguk dan Ryeowook tersenyum melihat itu. “Cha.. Kau tinggal naik begitu sampai aku akan memegangimu..” Ujar Ryeowook memberi pengarahan. Gadis itu mengangguk namun masih ada raut wajah ragu melihat tangga yang menjulang tinggi itu.

“Kau yakin ini aman?” Tanyanya sembari mendekati tangga dan mulai memegangi pinggirnya, bersiap untuk naik.

“Kau bisa memegang ucapanku..” Ujar Ryeowook meyakinkan. Yeonmi terdiam untuk beberapa saat, melihat tatapan Ryeowook padanya juga senyuman manis pria itu membuat Yeonmi yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan dengan semangat yang tinggi Yeonmi akhirnya mulai menaiki anak tangga dan begitu ia sudah sampai diatas segera mungkin ia menjangkau tangan Ryeowook sebagai pegangannya karena ia masih terlalu takut untuk menaiki tangga setinggi ini. Ryeowook menarik Yeonmi hingga gadis itu berada diatas dengan selamat. Keduanya berpandangan dan kemudian terkekeh bersama.

Keduanya memasuki rumah pohon milik Ryeowook yang didapatnya ketika ia berulang tahun di umur yang kesepuluh tahun. Didalam rumah pohon milik Ryeowook dilengkapi dengan sebuah sofa kecil dan juga karpet disana yang sangat cocok menjadi tempat bermain mereka berdua. Begitu mereka sampai diatas tadi, keduanya memilih untuk tidur-tiduran menikmati semilir angin yang dirasakan begitu jelas ditempat ini.

Ryeowook memiringkan tubuhnya dengan siku yang menopang kepalanya, ia tersenyum melihat Yeonmi yang masih asik memejamkan matanya disampingnya. “Berani kau menciumku.. Akan kupastikan kau menjadi suamiku nanti!” Ujar Yeonmi dengan nada dingin dan masih dalam keadaan mata yang terpejam.

Ryeowook terkekeh pelan lalu memajukan tubuhnya dan kemudian mengecup bibir Yeonmi dengan lembut dan segera menjauhkan tubuhnya saat gadis itu dirasa menegang. “Ya! Apa yang kau lakukan?!” Tanyanya dengan tatapan kesal, namun hanya ditanggapi oleh kekehan Ringan oleh Ryeowook yang kini sudah kembali menormalkan tidurnya. “Dengan begitu aku akan benar-benar menjadi suamimu nanti..” Ujarnya santai dan entah mengapa membuat wajah Yeonmi memerah. Astaga.. Bagaimana bisa anak kecil umur 8 tahun bisa merona hanya karena ucapan Ryeowook yang manis?

“Kalau kau ingin menjadi suamiku kelak, jangan pernah meninggalkanku.. Sampai kapanpun itu.” Ujarnya sembari membenahi tidurnya dan kemudian memejamkan matanya. Ryeowook kembali terbangun ia kembali melirik gadis disampingnya dan kemudian tersenyum, “Aku berjanji untuk itu Yeonmi-ya..” Ucapnya pelan dan kemudian mereka terlelap bersama.

***

Ryeowook terbangun, dan kemudian ia mengerjapkan matanya beberapa kali. Tangannya dengan reflex meraba samping tempatnya ia terlelap tadi untuk memastikan gadis keras kepala itu masih disisinya. Namun ia terpaksa harus membuka matanya dengan cepat saat ia menyadari gadis itu tak lagi berada disampingnya. Ryeowook bangkit dari tempatnya duduk dan segera keluar dari rumah pohon miliknya dengan mulut yang terus menggumamkan memanggil nama Yeonmi.

“Yeonmi-ya Kau dimana?” Teriaknya dan nihil tak seorang pun yang menjawab pertanyaannya. Matanya mengedar mengelilingi daerah sekitar rumah pohon itu dan ia sama sekali tak menemukan Yeonmi. Ia mulai panic, masalahnya Yeonmi sangat takut dengan ketinggian, gadis itu tidak mungkin turun sendirian jika tidak ada yang mambantunya. Dan bagaimana bisa gadis itu menghilang saat ia terlelap?

Ryeowook segera menuruni tangga dan mencari-cari keberadaan Yeonmi. Rasa takut mulai menyergapnya. Takut jika gadis itu menghilang dan tanpa pernah ditemuinya lagi. Ia berlari, mencari keberadaan Yeonmi ditempat gadis itu sering bermain. Sinar matahari yang begitu terik seolah tak menghalanginya untuk mencari dimana keberadaan sahabat yang teramat sangat ia sayangi. Ryeowook menghentikan langkahnya didepan Rumah gadis itu, semuanya tampak sepi dan tidak ada tanda-tanda ada makhluk didalamnya. Ryeowook berusaha menekan bell dan memanggil Ahjussi Park yang berkerja disana, namun usahanya sia-sia karena tak ada yang berusaha menjawabnya.

Kali ini ia kembali berlari menuju rumahnya, siapa tahu Eomma nya mengetahui hal ini, mengingat kedua orang tuanya begitu dekat dengan Eomma Yeonmi. Namun begitu ia sampai dirumah, yang didapatinya bukanlah jawaban atau petunjuk dimana keberadaan gadisnya dan justru ia merasa masalah baru berdatangan. Eommanya, satu-satunya wanita yang paling dihormatinya tengah menangis tersedu-sedu didepan ruangan kerja Appanya dengan terduduk lemah dan berusaha meredam tangisnya dengan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.

Ryeowook membatu, nafasnya tercekat melihat Wanita yang disayanginya menangis. Ia hendak menghampiri Eommanya namun wanita itu langsung pergi begitu menyadari keberadaannya. Begitu Ibunya pergi, ia tak sengaja melihat selembar kertas dari tempat yang baru saja diduduki Eommanya. Dengan ragu ia mengambil kertas itu dan melihat isinya.

Dan matanya kembali membulat melihat apa yang sedang dibacanya, ayahnya terlibat perselingkuhan dengan seorang wanita pemilik Shin’s Group. Ryeowook menggelengkan kepalanya tak percaya, kenapa semua ini terjadi? Apa ibu nya menangis karena itu? Lalu, dimana sahabat kecilnya yang keras kepala itu?

[Flashlight]

Seoul, South Korea 2015

Ryeowook terbangun, dadanya naik turun akibat nafasnya yang terengah. Titik keringat Nampak jelas di keningnya, dia menoleh kesamping dan mendapati wajah pulas Yeonmi. Gadis itu tampak nyaman dengan tidurnya dengan lengannya sebagai bantal. Tubuhnya meringkuk dengan kedua tangan yang menyatu dan berada diantara tubuhnya dan tubuh gadis itu karena posisinya yang memiring. Ryeowook memandang langit kamar, menatap nyalang kesana. Mimpi buruk itu kembali datang lagi, kali ini dengan suasana berbeda dan kejadian yang berbeda pula. Tapi mimpi-mimpi itu selalu menakutkan baginya.

“Mimpi buruk?”

Ryeowook berjengit kaget mendengar suara Yeonmi yang lembut namun sedikit serak membuatnya terdengar lebih sexy. Wajahnya menoleh dan mendapati Yeonmi yang sedang mengucek matanya lucu, “Ehm.. Apa aku mengganggumu?” Tanya Ryeowook yang kemudian memiringkan kepalanya hingga mereka berdua bertatapan. Yeonmi menggeleng dan kemudian menurunkan pandangannya, ia gugup jika harus bertatapan dengan Ryeowok.

“Apa yang kau mimpikan?” Tanya Yeonmi sembari memberanikan diri kembali menatap Ryeowook. Ada sesuatu dimata itu, sesuatu yang ingin diungkapkannya namun selalu ditahannya entah alasan apa. Ryeowook menghela nafasnya dan kembali menarik gadis itu lebih dekat dengannya, “Hanya mimpi indah yang berakhir mengerikan..” Jawabnya.

Ryeowook tersenyum samar, tangannya kemudian terangkat mengusap pipi gadis itu dengan lembut yang tentu saja membuat Yeonmi merona dalam gelap. “Bagaimana bisa aku membencimu tapi juga menginginkanmu heum?” Tanya Ryeowook dengan sangat pelan seperti sebuah bisikan dan bahkan Yeonmi tak bisa mendengarnya dengan jelas.

Nde?”

Ryeowook menggeleng, “Aniya.. Aku mengantuk.” Ucapnya kemudian dan kembali memejamkan matanya setelah sebelumnya merapatkan tubuh keduanya dan membawa Yeonmi kedalam pelukan hangatnya seperti tak ingin kehilangannya lagi.

Yeonmi bingung tak mengerti dengan apa yang Ryeowook lakukan. Pria itu aneh menurutnya, tapi Yeonmi tak ingin mengatakan apapun lagi karena sepertinya ia juga masih mengantuk, dengan perlahan tangan Yeonmi terangkat dan membalas pelukan Ryeowook. Rasa aman dan merasa terlindungi selalu dirasakannya saat Ryeowook memeluknya seperti ini. Dan ia cukup bersyukur karena itu.

[Fashlight]

Kesibukan disebuah kedai ramen yang terletak didaerah Mokpo itu seolah tak berarti. Terlihat bagaimana perkerjaan yang dilakukan oleh wanita paruh baya, Park Hwa Young. Ia hanya memberesi kedai yang terlihat sepi oleh pengunjung itu. Hwa Young menghela nafasnya, melihat-lihat keluar kedai yang juga tampak sepi. Kenapa semua orang seperti menghilang? Pikirnya, waktu makan siang bahkan sudah hampir berakhir namun hanya beberapa pengunjung yang datang. Biasanya akan banyak anak sekolahan yang akan berkencan disini. Sebenarnya Hwa Young tak pernah mempermasalahkan banyak atau tidaknya pengunjung yang datang, yang penting ia masih bisa menghidupi dirinya sendiri disini ia sudah merasa bersyukur. Ia hanya merasa senang kalau melihat anak remaja atau anak kecil yang berkunjung, karena semua itu akan mengingatkannya pada Putri kesayangannya.

Hwa Young menyunggingkan senyumnya kala melihat anak kecil berumur sekitar 5 tahun berlari kearahnya. “Ahjumma! Kau lihat kulsi disana?” Tanya anak lelaki itu. Hwa Young menjongkok berusaha mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan anak lucu dihadapannya. Ia tersenyum dan kemudian menganggukkan kepalanya pelan. “Ahjumma melihatnya, Waeyo?” Tanyanya.

Hwa Young mengernyit tak mengerti begitu melihat anak laki-laki itu mengeluarkan sesuatu dari balik saku hoodienya. Sepucuk surat sudah berada ditangannya. “Seolang Ahjussi membelikanku ini, Dia mengatakan padaku untuk membelikannya pada Ahjumma..”Ujarnya, Hwa Young tersenyum dan kemudian menggumamkan terimakasih sembari mengusap ujung kepala anak itu dengan gemas.

“Orang tuamu dimana heum?”

“Dilual, menungguku.. Kalena Ahjumma sudah tahu, aku pelgi dulu Nde??” Ucapnya lagi dan kali ini melangkahkan kakinya pergi meninggalkannya. Hwa Young tersenyum dan kembali berdiri, mengamati secarik surat yang diberikan anak kecil itu padanya.

Apa kau masih mengingatku Hwa Young-ah?

                                                                                       Kim Dong Woon                                    

Mata Hwa Young membelalak, terkejut dengan apa yang dia baca sekarang. Apa benar surat ini dari Kim Dong Woon, mantan suaminya? Dengan segera ia pun melangkahkan kakinya keluar kedai, kepalanya menoleh kekanan dan kekiri mencari seseorang yang patut dicurigainya. Namun semuanya tampak normal, ia bahkan tak menemukan sesuatu yang mencurigakan disana. Hwa Young kembali menghela nafasnya dan kemudian melangkah lemas kembali masuk kedalam kedainya.

Setelah pria itu pergi mencampakkan dirinya, membuatnya kehilangan semuanya tanpa mau bertanggung jawab, pria itu kembali menunjukkan kehadirannya? Apa maksudnya pria itu mengatakan seperti itu padanya? Dia ingin Hwa Young terkejut dan kembali mengemis padanya? Oh Ayolah,, Ia tidak ingin melakukan itu. Satu-satunya yang ingin ia pinta dari pria itu adalah menjawab semua pertanyaannya dengan jujur. Karena begitu banyak pertanyaan yang dipikirkan olehnya selama ini. Tentang kebahagiannya yang pria itu renggut secara paksa darinya.

[Flashlight]

Yeonmi menghela nafasnya selama beberapa kali melihat selembar kertas ditangannya. Matanya menyipit menatap selembaran kertas itu seolah sedang saling bertatap. Tangannya diangkat diatas, sekali lagi ia menatap selembaran kertas itu dengan penuh selidik membaca berulang kali apa isi tulisan itu dan kembali mencari posisi lain untuk melakukan hal yang sama. Dilihat dari sisi manapun isinya akan tetap sama, menyebalkan, membosankan, dan membingungkan. Bagaimana bisa pria itu selalu membuatnya bingung ha?

Yeonmi meletakkan kertas itu disembarang tempat dan ia kemudian mengambil tas selempangannya untuk segera pergi. Ia harus berkerja hari ini dan ia tidak ingin memusingkan diri sendiri hanya karena pesan itu.

Jangan pergi kemana-mana. Lebih baik kau bersiap-siap karena kita akan pergi. Aku mohon padamu jangan pergi Yeonmi-ah, aku akan pulang sebentar lagi.

Yeonmi mencibik, kesal dengan Ryeowook yang seenaknya mengiriminya surat dan pergi begitu saja sebelum ia terbangun. Dan memangnya mereka akan pergi kemana? Aigoo sebenarnya kenapa pria itu ingin sekali ia berada disampingnya?

Apa pria itu menyukainya?

Yeonmi segera menggelengkan kepalanya mencoba menepis pemikiran absurd seperti itu. Mana mungkin Kim Ryeowook menyukainya? Ia hanya tertarik.. Dan Yeonmi yakin pria itu tertarik pada tubuhnya. Berulangkali Yeonmi selalu meyakinkan ini didalam dirinya, bahwa pria itu sudah memiliki kekasih. Dan tidak mungkin dia menyukai Yeonmi.

Yeonmi menyetop taksi yang melintas didepannya dan segera masuk untuk pergi ketempat tujuannya. Ia duduk dibelakang dengan tenang, matanya menatap lurus pada jalanan yang dilewatinya. Pikirannya selalu berkecamuk setiap kali ia mengingat itu. Apa lagi jika bukan karena pria itu yang menginginkan tubuhnya? Dilihat dari caranya menatap, caranya menyentuh, Ryeowook kentara sekali menginginkan dia dengan seperti itu.

Tapi, selama ia berada disana Ryeowook sama sekali tak menyentuhnya, mereka hanya tidur bersama dengan saling memeluk. Ah.. Sebenarnya hanya Ryeowook yang memeluknya. Tak ada hal lain yang mereka lakukan selain itu selain setiap malam mereka terbangun karena mimpi buruk yang Ryeowook alami. Ini semua membuatnya bingung, ia bahkan tak menolak saat Ryeowook mengajaknya kerumahnya dan tidur bersamanya, seharusnya jika memang ia ingin, ia bisa menolaknya dan pergi begitu saja. Ia juga punya hak memilih untuk pergi. Tapi.. kenapa ia tak melakukannya?

Agassi kita sudah sampai..” Suara supir taxi itu menyadarkan lamunannya. Mobil sudah berhenti tepat didepan sebuah studio tempatnya berkerja selama 2 bulan ini. Tangannya bergerak mengambil uang untuk membayar taxi tersebut dan kemudian turun.

Ia melangkah dengan pelan memasuki studio itu dan segera duduk disebuah sofa kecil disana. Tubuhnya ia sandarkan kepinggiran sofa dan memejamkan matanya. Orang-orang tampak sibuk masing-masing dan Jae in pun belum datang untuk menyuruhnya sesuatu, jadi ia pikir ia dapat menenangkan dulu dirinya disini.

Selalu ada yang membuatnya bertahan disana, menyukai Ryeowook dengan segala kemungkinan yang terjadi. Jauh-jauh didalamnya ia memang tidak siap menerima kenyataan itu tapi, ia akan mencoba menerimanya. Tentang siapa yang Ryeowook sukai dan apa alasan pria itu menahannya berada disisinya. Tangan Yeonmi terangkat untuk menutupi matanya, ia menghela nafas beberapa kali, mencoba menghilangkan beberapa beban pikirannya. Dipikirannya hanya ada satu, Kim Ryeowook. Nama itu yang selalu memenuhi ruang dikepalanya, ia bahkan menolak seorang Kim Yesung yang sudah disukainya sejak lama hanya demi seorang pria yang sama sekali tak mengerti perasaannya. Seseorang yang mampu disukainya hanya dengan beberapa detik saja.

Yeonmi ingin menyerah, setidaknya ia menjauhi pria itu. Tapi apa yang bisa dilakukannya? Semakin ia mencoba pergi maka semakin kuat pula ikatannya. Kenapa? Entahlah, hanya Ryeowook yang sepertinya mengetahui alasan itu. Dan.. Dimanik mata Ryeowook, Yeonmi merasa ada sesuatu yang aneh. Ia seperti pernah menatap mata itu sebelumnya, entah kapan yang pasti.. Ryeowook seperti orang yang familiar. Manik mata itu yang selalu menatapnya tajam, dan manic mata itu yang selalu membuatnya bertahan berada disisinya. Yeonmi ingin sekali menyelami mata itu, mencari tahu bagaimana dunianya, dan menjadi sesuatu yang istimewa dimanik mata itu.

Setelah itu ponselnya bergetar, ia menegakkan duduknya dan melihat siapa si pemanggil. Nomor asing, tadinya ia ingin sekali membiarkan panggilan itu, tapi.. tiba-tiba saja ia penasaran.

Yeobse

“Kau dimana?”

Matanya membulat, nafasnya tercekat. Suara itu.. Milik suara Ryeowook. Ia menelan ludahnya gugup matanya menoleh kekanan dan kekiri mencari sesuatu yang bisa menolongnya untuk menghentikan pembicaraan ini.

“Jawab aku.. Kau dimana Shin Yeonmi!”

Ryeowook membentak, dan ini pertama kalinya ia dibentak seseorang tanpa ada yang melindungi. Terkejut? Tentu saja, ia tidak suka dibentak.. matanya memanas dan ia berkedip beberapa kali guna menetralkan emosinya. “A..Aku di..”

“Bukankah sudah kukatakan jangan pergi ha?!” Disebrang sana Ryeowook kembali berteriak, ia membulatkan matanya, tangannya bergetar dan ia takut. “Aku di studio, Wae? Memangnya apa urusanmu Ryeowook-ssi, aku bebas melakukan apapun kan?”

“Tapi aku memintamu jangan pergi, kenapa kau pergi heum? Kau milikku dan hanya aku yang boleh mengizinkanmu pergi..” Nada disana melembut, dan ada sebuah peringatan dan ancaman yang Yeonmi dengar dari kalimat yang baru saja didengarnya. “Jangan pergi.. Aku akan kesana..” Ujar pria itu lagi dan tak ada yang Yeonmi bisa lakukan selain menganggukkan kepalanya dan tak lama dari itu sambungan terputus.

Kepala Yeonmi menoleh mendapati Jae in yang baru saja memasuki ruangan ini dengan wajah terkejut saat melihat matanya berkaca-kaca. Gadis cantik itu segera berlari kearah Yeonmi dan memegang kedua bahunya. “Yeonmi-ya.. Kau baik-baik saja?” Tanyanya dengan nada khawatir.

Yeonmi mengangguk dan kemudian melepaskan Kedua tangan Jae In yang masih berada dipundaknya lalu berdiri, mengambil segelas air dan meminumnya. “Kau menangis?” Tanya Jae in lagi, gadis itu kini sudah berdiri disamping Yeonmi menunggu sahabatnya itu mengeluarkan suaranya untuk memberikan penjelasan.

Aniya.. Hanya sedang pusing.” Ucapnya lalu kembali duduk.

Jae in menatap Yeonmi curiga, ia tahu pasti ada yang disembunyikan gadis itu. Sahabatnya itu memang selalu menyimpan beban pikirannya sendiri, dan ia harus pintar-pintar membaca pikirannya. Ya.. Andaikan saja Jae in bisa melakukan itu, tapi sayangnya tidak dan seperti biasa ia akan mengalah sampai akhirnya sahabatnya itu yang mengajukan diri ini bercerita.

Keure, Dua hari lagi kita akan pergi ke Jeju. Disana ada Festival musim semi yang diadakan di Jeju oleh Neo Company. Dan mereka juga memintamu untuk menjadi fotografer disana. Karena ada beberapa Event pakaian musim semi. Dan mereka mengetahui bakatmu..” Ujarnya dengan semangat. Yeonmi yang mendengar itu tak kalah senangnya dengan Jae in, akhirnya ada lagi orang yang mengakui bakatnya dalam mengambil gambar.

Jinja? Kapan kita akan berangkat?”

“Lusa jam 10. Aku akan menjemputmu nanti..” Dan tepat setelah Jae in mengatakan itu pintu masuk kembali terbuka dan kali ini sosok Ryeowook muncul. Yeonmi membulatkan matanya dengan terkejut begitupun dengan Jae in yang ikut membulat karena pria pemilik Kim Grup ada didepannya. Kenapa pria itu ada disini? Tanya Jae in dalam hati. Ia ingin bicara namun diurungkannya saat Ryeowook yang memulai pembicaraan duluan.

“Yeonmi-ssi, Bisa kita pulang sekarang, heum?” Titah Ryeowook. Jae in menatap bingung keduanya. Apa yang terjadi dengan mereka dan bagaimana bisa Yeonmi mengenal Ryeowook? Yeonmi menoleh menatap Jae in dan kemudian tersenyum. “Aku pergi.. Nanti kita bicarakan lagi heum?” Ucapnya dan kemudian ikut bersama Ryeowook.

Ryeowook mengemudikan jalanan dengan kecepatan sedang, kedua tangannya tampak menggenggam setir dengan kuat, seperti sedang menahan emosi. Sementara Yeonmi memilih diam namun gelisah. Kedua tangannya bertaut diatas pahanya dan ia menatap risau jalanan disampingnya. Ada sesuatu yang ingin ia tanyakan, tapi ia terlalu takut untuk menerima jawaban Ryeowook.

“Mulai sekarang, jangan pergi selain tanpa izinku heum?” Ryeowook tampak melunak. Ia menatap Yeonmi lembut. Yeonmi mengangguk dan kali ini tautan ditangannya juga sudah terlepas, ia merasa sedikit lebih baik sekarang walau sebenarnya masih banyak yang ingin ia tanyakan pada Ryeowook.

Dia menahannya seperti memang benar-benar mencintainya, tapi Ryeowook tak pernah menunjukkan kata-kata seperti cinta padanya. Ia hanya terus menahannya, membuatnya bingung dan juga takut.

Apa yang harus dilakukannya jika seperti ini? Larikah? Atau diam seperti orang bodoh?

***

“Kau mau kemana?” Tanya Ryeowook saat ia sedang mengemasi barangnya. Yeonmi menoleh mendapati Ryeowook yang sudah berdiri diambang pintu dengan kedua tangan yang dimasukkan kedalam saku celana Denimnya.

“Aku akan pergi ke Jeju, Neo Company yang menyewaku..”

“Berapa hari?”

“Tiga hari..” Ryeowook menghela nafasnya, sepertinya ia tidak akan setuju jika gadis itu meninggalkannya selama tiga hari. Itu terlalu lama dan Ryeowook tak suka. “Aku tid-

“Sekali saja, menjadi fotografer adalah cita-citaku.. Kau sudah mengambil jiwaku Ryeowook-ssi, dan aku hanya meminta untuk tiga hari, aku berharap kau menginjinkannya..” Ucapnya. Nadanya terdengar biasa namun Ryeowook merasa gadis itu sedang frustasi, seperti ia sangat tidak suka dengan caranya memiliki gadis itu. Ryeowook menunduk, tak ada cara lain. Ia mengizinkan gadis itu.

“Aku akan mengantarmu..” Ucapnya dan kemudian Yeonmi tersenyum. Ia menatap punggung Ryeowook yang menghilang dibalik pintu dengan perasaan lega. Sebenarnya Yeonmi sedang membuat jarak dengan Ryeowook, disamping ia yang memang ingin pergi ke jeju karena cita-citanya, ia ingin memastikan sesuatu bahwa apakah Ryeowook merindukannya?

[Flashlight]

Ryeowook terdiam ditempatnya, mengamati Yeonmi yang sedang sibuk dengan sebuah event yang baru saja dilaksanakan oleh Neo Company. Setelah berdebat dengan hatinya antara pergi atau diam menunggu gadis itu pulang, akhirnya Ryeowook menyusul Yeonmi pergi ke Jeju. Ini adalah acara yang digelar oleh Neo Company dan sudah pasti ia akan bertemu dengan Hee Jin disini jika Ryeowook tak berhati-hati.

Sesekali Ryeowook berkeliling, melihat-lihat berbagai pernak pernik yang disediakan disana. Walaupun sejak tadi matanya terfokus pada Yeonmi yang sedang sibuk. Saat sedang asik-asiknya ia mengamati keindahan gadis itu dari jauh. Ia justru harus dibuat kesal saat seorang gadis lain berdiri dihadapannya.

Shin Hee Jin, Gadis itu sudah berdiri dihadapannya dengan kedua tangan yang terlipat didada. “Kau disini? Kenapa tak memberitahuku?” Tanyanya, gadis itu mendekatkan tubuhnya hingga mereka benar-benar dihadapannya.

“Hanya ingin berlibur, Wae?”

Aniya.. Hanya bingung, seorang Kim Ryeowook yang tak pernah menyukai hal seperti ini, malah menjadikan temapat ini sebagai tujuan berlibur.. Tapi, Tidak apa-apa, aku senang kau datang ke acaraku ketimbang harus pergi ke bar bersama para gadis..”

Ryeowook tersenyum menanggapi itu, Hee Jin memang sudah terlalu mengenal dirinya yang menyukai acara-acara seperti itu. “Cha.. Karena kau sudah datang, kita bisa berjalan-jalan sebentar.” Pintanya dan Ryeowook kemudian menyetujui.

Mereka berjalan-jalan sekitar pantai yang sepi, hanya ada beberapa penerangan yang berasal dari bangunan-bangunan berada disisi pantai. Tak ada yang dibicarakan oleh keduanya, mereka berdua memilih diam. Ini pertama kalinya Ryeowook menyetujui ajakan Hee Jin untuk berjalan-jalan, Secara, hubungan mereka memang tak terlalu baik akibat perjodohan itu.

“Kau tahu?” Ryeowook menoleh kearah Hee Jin yang mulai membuka suaranya. Gadis itu kemudian ikut menoleh dan kemudian kedua mata mereka bertemu, “Sejak kau hadir, kau benar-benar membuatku tak bisa berfikir jernih, kau selalu membuatku berfikir tentang bagaimana caranya membuatmu menjadi milikku tanpa harus aku memaksamu..” Hee Jin memberi jeda sejenak, ia kembali menatap lurus kedepan. “Aku menyerah Ryeowook-ssi, bahkan kau tak pernah menyentuhku, tidak seperti gadis lain lain yang sering kau sentuh..” Ujarnya. Ryeowook ikut menunduk. Menyadari itu, diantara banyak gadis yang pernah ditidurinya, Hee Jin memang belum pernah disentuh olehnya. Ia ingin saat malam itu ketika ia bangun Hee Jin hanya menggunakan kemeja kebesarannya. Ia tahu gadis itu tak ingin melakukannya karena ia yang tak sedang bergairah. Ryeowook memang tak berniat menyentuh Hee Jin, karena ia merasa ‘itu’ akan menjadi senjata untuknya.

“Ah.. Ige mwoya?? Kenapa aku jadi mengemis padamu? Tsk.. Ah Ryeowook-ah, sepertinya aku harus segera pergi heum?” Ucapnya dan kemudian ia mengecup pipinya lalu meninggalkannya sendiri dipantai itu.

Ryeowook membalikkan tubuhnya menatap punggung gadis itu yang mulai menghilang bersama dengan para rekan kerjanya. Ia menggeleng pelan lalu ikut melangkah pergi. Ryeowook kembali pada kerumunan orang-orang yang sedang menikmati acara disana. Gadis yang menjadi tujuan utamanya kemari sudah tak terlihat. Dan itu sedikit membuatnya kesal. Ryeowook melanjutkan langkahnya mencari gadis itu. Ia bisa gila jika kehilangan dimana keberadaannya dan tiba-tiba menemukannya dengan pria lain.
^^^

Yeonmi menghentikan langkahnya, wajahnya seketika menampakkan raut wajah terkejut dan jantungnya kembali berdegup dengan tidak wajar, sekitar 5 langkah didepannya terdapat seorang pria yang saat ini sedang dibuat jarak olehnya. Pria itu tampak sedang melihat-lihat suasana disekitarnya dan sedetik kemudian ia menoleh tepat dimana ia berdiri, kedua mata mereka bertemu dan Yeonmi dapat merasakan wajahnya yang memerah karena membayangkan hal-hal konyol tentang kemungkinan pria itu datang ketempat ini. Wajah Pria itu masih terlihat datar dan dia kembali melangkahkan kakinya mempersempit jarak diantara keduanya, hingga Yeonmi dapat benar-benar melihat wajah tampan pria itu.

Pria itu mengenakan kaus putih santai dengan celana denim pendek dan dipadukan dengan sepatu kulit yang semakin membuat penampilannya terlihat lebih berbeda. Yeonmi memundurkan langkahnya dan ia berniat untuk berbalik, menghindari pria itu.

“Kau tak ingin memberiku sambutan? Ucapan selamat datang misalnya dengan sebuah kecupan dan pelukan, kau tak ingin melakukan itu?” Pria itu mengintrupsi, membuat Yeonmi kembali menghentikan langkahnya. Ia kembali menghadap Ryeowook menatap heran pada pria itu dan kemudian berdecak. “Apa aku harus melakukannya?”

“Tidak perlu, Sekarang dimana kamar hotelmu?” Tanya Ryeowook dengan tangan kanannya yang menari tangan kiri Yeonmi. “Wae? Kenapa harus kamar hotelku?”

“Cepat katakan, karena aku tidak memesan sebuah kamar, aku ingin tidur denganmu, seperti biasa.” Yeonmi membulatkan matanya. Apa pria ini gila?! Kenapa ia suka sekali membuatnya bingung. Yeonmi menggeleng pelan dan langsung melepaskan genggaman pria itu padanya. Ryeowook menghentikan langkahnya menatap Yeonmi tak mengerti.

“Aku tidak mau..”

Arraseo! Kita bisa memesan kamar baru..” Ujarnya dan kembali menarik lengan Yeonmi.

“Kau gila?”

“Ehm.. Kau benar, aku gila!” Ujarnya santai.

Yeonmi berdecak, ia kembali melepas pegangan Ryeowook ditangannya dan menatap Pria itu pasrah. “Keure.. Kau tidur denganku..” Ucapnya dan kemudian Yeonmi berjalan lebih dulu menuju kamar hotelnya.

Ryeowook adalah seorang pemaksa, ia akan selalu melakukan sesuatu untuk mencapai apa yang diingankannya. Ia tidak pernah memikirkan apapun perasaan orang yang bersangkutan dengan semua keinginannya. Ya.. Seperti itulah yang dipikirkan Yeonmi mengenai Ryeowook. Dan Yeonmi yang tak memiliki apapun, tidak bisa menghentikannya.

Yeonmi menatap datar Ryeowook yang baru saja keluar dari kamar mandi. Pria itu menggunakan celana pendek dengan kaus berwarna putih tanpa lengan, rambutnya terlihat basah dan dia semakin tampan. Yeonmi tak pernah mengalihkan pandangannya barang seincipun dari sosok Ryeowook, ia sudah terjebak terlalu jauh dan sepertinya akan sulit untuk keluar. Yeonmi menghela nafasnya, dan kemudian mengerjap untuk beberapa kali begitu Ryeowook duduk disampingnya dan seketika aroma Ryeowook tercium oleh hidungnya.

“Ryeowook-ssi.. Kenapa kau seperti ini?”

Ryeowook menoleh menatap bingung Yeonmi. “Apa maksudmu?”

“Kau selalu menahanku berada disisimu, membiarkanmu melakukan apapun yang kau inginkan, mengikuti semua laranganmu yang tak masuk akal. Kau bahkan pernah mengatakan bahwa kau ingin memilikiku. Tapi kau tak pernah mengatakan sesuatu dengan tegas bagaimana perasaanmu..” Yeonmi memberi jeda, ia menghela nafasnya dan kemudian menatap Ryeowook. “Kau selalu melakukan apa yang kau inginkan tapi apa kau pernah memikirkan apa yang kuinginkan? Setidaknya bertanya padaku apakah aku suka atau tidak? Atau bertanya apakah aku bahagia atau tidak? Aku.. Sudah lelah Ryeowook-ssi.. Bagaimana bisa kau menahanku dengan semua perlakuanmu padaku tapi kau mungkin saja melakukan itu pada gadis lain.. Aku juga ingin memiliki seorang pria yang balas menyukaiku.. Apa, Kau tak pernah memikirkan itu semua?” Tanyanya. Ryeowook terdiam, Mata gadis itu berkaca-kaca dan mungkin hanya sekali kedipan ia sudah menangis.

“Kau menyukaiku?” Tanya Ryeowook.

Yeonmi berusaha menarik nafasnya dan kemudian menghembuskannya perlahan. Disudut matanya sudah ada air mata, dan ingin sekali rasanya Ryeowook menghapus air mata itu. Yeonmi mengangguk mantap, “Ehm.. Aku menyukaimu, sangat menyukaimu..” Ucapnya dengan senyum gentir, “Aku memberikan hatiku padamu.. Tapi kau malah mengambil jiwaku..” Ucapnya lirih. Ryeowook kembali terdiam, apa yang Yeonmi katakan padanya, itu seperti sebuah tamparan semu baginya, entah mengapa ia juga merasa sakit dibagian dadanya. Tangan Ryeowook mulai bergerak, hendak mengusap air mata gadis itu namun terlambat karena Yeonmi sudah melakukannya lebih dulu. Gadis itu tersenyum gentir dan kemudian merebahkan tubuhnya memunggungi Ryeowook yang masih terpaku mendengar ucapan gadis itu.

***

Yeonmi terbangun pagi-pagi sekali, matanya mengerjap beberapa kali menyadari ruangannya masih dalam keadaan gelap. Tangannya meraba kesamping tempat tidurnya. Kosong. Kemana Ryeowook pergi? Ia dengan cepat mendudukkan tubuhnya sembari menyalakan lampunya. Matanya mengedar menelisik sudut kamar mencari keberadaan Ryeowook. Ia berdiri, kakinya melangkah keluar rumah dan keadaan masih sama.. sangat sepi, Ryeowook tidak ada disana dan seharusnya ia senang.

Yeonmi menghela nafasnya. Melangkahka kakinya menuju kamar mandi. Lebih baik ia membersihkan tubuhnya, mungkin dengan berendam didalam air dapat menormalkan pikirannya.

Yeonmi selesai setengah hampir lebih dari setengah jam ia menghabiskan waktu didalam. Ia berjalan menuju kasurnya dan duduk disana sembari mengeringkan rambutnya. Ia kembali menoleh kearah pintu masuk berharap Ryeowook ada disana. Tapi dia tidak ada, Yeonmi hanya mampu menghela nafasnya dan memilih untuk bersiap-siap.

Pagi dipulau jeju yang indah. Yeonmi tak pernah membayangkan kalau dirinya bisa berada ditempat yang indah ini. Ia mendongakkan kepalanya menatap langit biri yang dihiasi oleh awan sirus yang indah. Ia tersenyum dan kemudian mengangkat DSLR miliknya dan memotretnya. Pagi ini ia memilih berjalan-jalan disekitar pantai sebagai pengganti rasa lelah. Festival akan dibuka mulai jam sepuluh, Jadi ia masih memiliki waktu 2 jam untuk berkeliling. Lagi pula Jae in memang sudah mengizinkannya.

Ia menggantungkan sendalnya di lengan dan membawa sebuah DSLR, ia ingin mengabadikan beberapa foto dari tempat ini. baik dirinya sendiri dan pemandangan disekitarnya. Membiarkan telapak kaki indahnya dibelai pasir putih yang membentang disepanjang pinggiran pantai. Wajahnya terlihat ceria, senyum manis tak pernah luput dari wajah yang hanya berpoles bedak tipi situ. Tangannya dengan lihai mengabadikan beberapa bagian indah dari sisi pantai. Hingga pada akhirnya kegiatannya terhenti.

Ia menurunkan DSLR nya. Mengamati dengan lekat siapa dua orang yang sedang saling memberikan perasaan melalu ciuman hangat yang manis. Yeonmi tersenyum, tangannya gemetar dan kakinya melemas. Ia ingin menangis tapi tak ada satupun air matanya sanggup menetes. Bukan karena kedua orang itu yang mengganggu pemandangannya atau mungkin kegiatan apa yang mereka lakukan. Sejujurnya Yeonmi tidak masalah, yang menjadi masalah adalah siapa orang itu.

Yeonmi kembali mengangkat DSLR miliknya dan mengarahkannya pada kedua orang itu dan.. ia mengambil gambarnya dengan sangat indah. Sepasang kekasih yang sedang berciuman ditepi pantai dan cuaca yang indah. Yeonmi sendiri bahkan memuji hasil karya nya yang satu ini. Tapi ia tidak menyadari kalau suara jepretan yang dikeluarkan kamera membuat kedua orang yang saling jatuh cinta itu melepaskan tautannya dan memandang kearahnya. Yeonmi masih memaksakan dirinya untuk tersenyum dan membungkuk sekilas meminta maaf karena mengganggu kegiatan mereka, Sementara pria yang disana terkejut setengah mati. Ia bahkan ingin mengejar gadis itu tapi Hee jin menahannya.

Ryeowook mengamati gadis itu yang berlari, tangannya terangkat menyentuh wajahnya dan mengusap air matanya sendiri. Ryeowook bisa melihat gadis itu menahan tangisnya dan ia yakin dia sedang sangat sakit sekarang. Punggungnya gemetar dan Ryeowook merasa bersalah. Ia mengalihkan tatapannya, memandang Hee Jin datar. “Apa lagi yang kau lakukan? Kau sudah menciumku selama dua kali Hee Jin-ah.. Dan aku tetap tak merasakan apapun. Kau, hanya wanita asing yang pernah kukenal. Tak kah kau mengerti itu? Menyerahlah..” Ujar Ryeowook, ia memundurkan langkahnya menjauhkan tubuh dari wanita cantik didepannya.

“Aku tahu.. Aku bahkan sudah sangat terbiasa mendengar itu.” Hee Jin menghela nafasnya, “Tapi aku hanya ingin kau tahu.. Aku tulus mencintaimu Ryeowook-ah, Kumohon lihat lah aku dan mari kita mulai dari awal..”

Mianhae Hee Jin-ah..”

***

Ryeowook mengehntikan langkahnya. Diujung sana terdapat seorang gadis yang sedang bercengkrama dengan beberapa rekan kerjanya. Dia tersenyum, senyuman itu seolah tidak terjadi apa-apa setelah kejadian barusan. Ryeowook ingin mempersempit jarak diantara mereka namun, sesuatu menahannya, hingga ia hanya mampu mengamati gadis itu dari jauh dan menunggu gadis itu menoleh kearahnya.

Beberapa saat kemudian orang-orang yang menjadi temannya berpencar satu persatu hingga pada akhirnya dia sendiri pun akan pergi dari tempatnya berdiri. Gadis itu membalikkan tubuhnya dan seketika wajahnya memucat. Kedua bola mata mereka bertemu, ia ingin pergi dari sana, tapi ia ingin mengatakan sesuatu. Ryeowook masih diam ditempatnya menunggu reaksi gadis itu. Jika dia pergi maka Ryeowook akan mengejarnya.

Tapi gadis itu malah berjalan mendekat, kedua tangannya mengepal seperti sedang memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Tepat ketika tinggal 3 langkah jarak mereka, Yeonmi terhenti. Ia tersenyum pada Ryeowook. “Selamat Ryeowook-ssi.. Ini sudah kedua kalinya aku melihatmu berciuman dengan gadis itu.. Dan, itu cukup menyadarkanku..”

“Yeonmi-ah.. ini bukan-

“Kau menunjukkan perasaanmu terlalu cepat.. Aku bahkan baru mengatakannya padamu semalam, tapi kau menunjukkannya dipagi harinya.. Ah.. Ada satu hal yang ingin kukatakan.” Yeonmi menghela nafasnya memajukan langkahnya hingga ia benar-benar tepat dihadapan Ryeowook. “Terimakasih karena sudah melindungiku, menolongku bahkan sejak awal kami bertemu..” Ia kembali memajukan langkahnya hingga jarak mereka menipis, “Dan Terimakasih, sudah membuatku senang saat berasamamu..” Ucapnya dan langsung mengalungkan kedua tangannya dileher Ryeowook, menariknya agar lebih dekat dan kemudian tumitnya meninggi. Ryeowook sedikit terkejut saat gadis itu menempelkan bibirnya dan mengecupnya pelan.

Beberapa detik kemudian ia melepaskan ciumannya. Sedikit menjauhkan tubuhnya dari Ryeowook dan kembali tersenyum, “Hanya itu yang bisa kuberikan, Mian.. Aku tak bisa membayar semua kebaikan mu pada ku Ryeowook-ssi” Ucapnya dan kemudian tersenyum lagi lalu membalikkan tubuhnya.

Ryeowook menghela nafasnya, kepalanya menoleh kesamping dan memutar matanya lalu sebelah tangannya dengan sigap menarik lengan gadis itu lagi dan kembali menatukan bibir diantara keduanya. Kini giliran Yeonmi yang menegang, kedua bola matanya membulat dan jantungnya berdegup hebat, darahnya seakan terjun bebas dari atas kepalanya hingga kaki, dan jangan lupakan kupu-kupu yang menggelitik nyaman. Ia mengerjap, perlahan mencoba menyesuaikan dirinya dengan serangan tiba-tiba Ryeowook dan kemudian memejamkan matanya dengan sempurna, kedua tangannya mengalung sempurna dileher Ryeowook membuat pria itu semakin memperdalam ciumannya. Ciuman dadakan yang lembut dan memabukkan. Yeonmi bahkan sudah kehilangan akal sehatnya sekarang. Sebelah tangan Ryeowook yang menyentuh lehernya agar ia tidak jauh dengan pria itu dan sebelah tangannya lagi yang memeluk pinggangnya erat semakin mempersempit jarak mereka.

Ryeowook melepaskan tautannya, tersenyum kearah gadis itu tanpa berniat menjauhkan tubuhnya walau sebenarnya Yeonmi sedang butuh ruang banyak untuk menarik nafas. Ryeowook terkekeh saat melihat wajah itu merona sangat manis dan indah. Dan Ryeowook berjanji tidak akan melepaskan gadis ini lagi sekali pun ia pernah membencinya.

“Jangan mengatakan seolah-olah aku memiliki hubungan Khusus dengan gadis itu. Aku tidak suka mendengar itu dari bibirmu. Cukup mempercayai bahwa aku milikmu dan aku hanya memilikimu seorang. Maka kau akan percaya, tidak ada gadis yang membuatku seperti ini, dan.. maaf karena membuatmu sakit..” Ujarnya pelan dan kemudian memeluk Yeonmi dengan erat, menelusupkan kepalanya keleher gadis itu dan menghirup oksigen sebanyaknya disana.

Yeonmi tersenyum, “Arraseo.. Gomawo Ryeowook-ah

CUT

Advertisements

7 thoughts on “[Fan Fiction] Flashlight || Part5

  1. wookpil

    Kyaaaaaaaa *teriak pake toa*
    Uugh ini makin bikin penasaran tauuuu.
    Jadi appanya ryeowook emng prnah ada hubungan sama eommanya yeonmi? Aku kira cuma skandal selewat doang.
    Udh sedikit kejawab sih ttg masa lalu mreka. Tapi masih bingung knpa ryeowook sama yeonmi ga saling kenal pas pertama ketemu?.
    Aduh feelnya dapet bngt. Akitati kayanya kalau jadi yeonmi :3 liat org yg dicintai kissing sma yeoja laen.
    Eumm pokonya lanjut deh. Aku tnggu klnjutannya yaa. Ff lainnya jga aku tnggu.
    Semangaaaat ^^9

    Like

  2. ersaariesta

    wook nakal yah ._. maen kissing2 aja, good fict saeng..
    itu Hee Jin nya kek gimana dia beneran mau nyerah ama wook gitu.. semoga hub ryeonmi nya makin berkembang deh..

    upss masalalu nya keluarga wook terungkap, penasaran juga ama kelanjutan nya lagi.. keep writing saeng ^^ fighting!! 🙂

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s