[Fan Fiction] Romance City #6

romance city4

Author : Bunga Harnum a.k.a Jung Hye Rim || Genre : Romance, Sad, Married Life, Geje, Failed || Length : Chaptered || Main Cast : Kim Ryeowook, Shin Yeonmi, Lee Donghae, Choi Eunji, Lee Hyukjae, Lee Hyunmi, Cho Kyuhyun, Kim Jae In, Kim Yesung, Park Soo Young || Rating : PG 15 || Disclaimer : Plot and Story is mine, All the Main cast belong to God, their parents, and their agency. Don’t copy-paste this story. This is just a fanfiction.

==Happy Reading==

Yeonmi melangkahkan kakinya keluar kamar, memasuki dapur untuk mengambil segelas air putih. Ia mengernyit bingung menatap daerah disekelilingnya. Semua orang tampak sibuk mempersiapkan sesuatu seperti akan ada pesta saja. Yeonmi tadinya ingin bersikap acuh dan kembali kekamarnya namun sang Ayah sudah berdiri diambang pintu dapur dan menatapnya hingga mau tak-mau ia harus menghampiri seorang pria yang dihormatinya itu.

“Kau sibuk hari ini Yeonnie?” Tanyanya. Dan kemudian Yeonmi menggeleng, ia memang tidak sibuk sekarang. Seluruh tugas kuliah sudah ia selesaikan hanya tinggal beberapa yang masih bisa dituntut. Ya, ia memang sedang Free.

“Ehm.. Wae?” Tanyanya. Ayahnya tersenyum senang, dan kemudian menepuk pundaknya. “Berdandanlah yang cantik, kakakmu akan kedatangan tamu special dan kau juga akan Appa perkenalkan pada rekan kerja Appa, kalau Appa masih memiliki seorang putri pewaris Shin Group yang kedua.” Ucapnya dan Yeonmi hanya mampu mengangguk pelan. Walau dalam hatinya jelas menolak itu semua. Ah.. Rasanya ia ingin kabur saja!

Yeonmi kembali kekamarnya dengan malas, ia melihat lemari bajunya. Tiba-tiba saja ia teringat dengan Ryeowook. Apa malam ini ia berada dirumah? Pria itu bisa dijadikan alasan untuknya kabur dari acara makan malam yang membosankan ini. Bagaimana tidak? Kalau kau adalah seorang pewaris perusahaan besar, maka kau harus menjaga sikapmu, makan dengan anggun, selalu tersenyum, dan ramah pada siapapun. Hey! Itu bukan gayanya. Ia pernah sekali mencoba dan hasilnya ia dianggap orang aneh oleh Donghae.

Yeonmi menghempaskan tubuhnya keatas kasur, merah ponselnya dan mengetik beberapa huruf disana. Setelah ia menekan tombol Send ia kembali berdiri, mencari pakaian yang cocok untuk bertemu dengan Ryeowook. Dan celana Jeans ketat dengan kemeja putih yang menjadi pilihannya sekarang, Yeonmi segera menuju kekamar mandi dan mengganti pakaiannya lalu kembali lagi, melihat ponselnya berniat untuk melihat jawaban Ryeowook. Tapi sialnya pria itu tak menjawab. Yeonmi mendengus dan kemudian melangkah keluar setelah mengambil tas selempangan dan juga jaket tipisnya. Ia berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar dan hanya beberapa langkah lagi ia berhasil.

Yeonmi menggumamkan kata ‘Yes’ dan kemudian berjalan keluar. Ia menyetop taxi dan kemudian menuju tempat yang akan dikunjunginya. Hanya menunggu setengah jam untuknya agar sampai disebuah halte dimana Ryeowook sering menganggunya dan mengerjainya. Ia duduk dikursi halte yang kebetulan sepi itu dan masih dengan rutin memperhatikan ponselnya takut Ryeowook menjawab pesannya. Lama menunggu akhirnya ia lelah juga, dengan tidak sabaran Yeonmi kemudian menekan beberapa tombol dan Call! Ia menelpon Ryeowook.

Yeobse—

“Ryeowook-ah.. Kau sibuk? Aku sedang bosan disini dan yah.. Apa kita bisa minum bersama?” Tanya Yeonmi menyerobot ucapan Ryeowook yang bahkan belum selesai itu. Yeonmi tersenyum membayangkan bagaimana reaksi Ryeowook saat mendengar suaranya yang sangat bersik.

Aniya.. Kau dimana?’ Tanya Ryeowook, Yeonmi mendengus. Biasanya Ryeowook akan marah-marah kalau ia berteriak, dan pria itu tak melakukan hal menyenangkan seperti itu sedikit membuatnya sebal. Eh? Sejak kapan itu menjadi hal ‘menyenangkan’?

“Eung.. Dihalte biasa, tempat yang selalu kau gunakan untuk menggangguku.” Ryeowook terdiam beberapa saat, Dan Yeonmi masih setia menunggu pria itu menjawab ucapannya.

Ini sudah hampir malam, kenapa kau berada diluar?’ Yeonmi menghela nafas, mengingat pertemuan keluarga dan rekan bisnis Ayahnya membuatnya kembali merasa kesal. “Aku bosan berada dirumah..” Ujarnya dengan suara pelan.

“Kedua orang tuaku sedang mengadakan makan malam bersama dengan rekan kerjanya sementara Eonnieku akan menemui pria nya. Tsk” Sambungnya yang diakhiri decakan ringan. Yeonmi mendengar suara kekehan dari sebrang sana dan semakin membuatnya kesal. Kenapa tertawa?

“Kau cemburu?” Yeonmi segera menoleh kesamping saat mendengar suara Ryeowook yang terdengar lebih nyata dan dekat. Matanya membulat tak percaya.. Apa pria ini alien? Kenapa cepat sekali sampainya.

“Woaah.. Apa kau bisa teleportasi? Kenapa cepat sekali datangnya?” Tanya Yeonmi dengan nada kagum yang dibuat-buat. Ryeowook berdecak dan sedikit menjitak kepalanya, hingga gadis itu hampir memekik keras. “Bisa pelankan suara mu Nona Shin?”

“Ck! Kau menyebalkan” Umpatnya. Yeonmi kembali menatap kedepan, dengan wajah yang ditekuk dang merengut lucu. Sedetik kemudian ia kembali menoleh kearah Ryeowook, “Kau rapih sekali hari ini.. Apa kau akan menemui seseorang yang special?” Tanyanya dengan menggebu-gebu juga senyum aneh yang menghiasi wajahnya. Ryeowook menoleh dan mencibikkan bibirnya pelan.

“Berhenti tersenyum seperti itu, kau membuat mataku sakit.” Ucap Ryeowook dengan ringisan pelan dan setelah itu Yeonmi dapat merasakan pundaknya ditarik mendekat dan Ryeowook menghimpit kepalanya dengan kedua lengan, membuat mata Yeonmi membulat. “Kau mau membunuhku? Ya! Lepaskan aku bodoh!” Teriaknya dan kemudian Ryeowook melepaskannya. Ia menghembuskan nafasnya kasar hingga poninya bergoyang dan sedikit membenarkan rambutnya yang berantakan akibat ulah Ryeowook.

“Kau sibuk hari ini?” Tanyanya –Lagi

“Tidak”

“Lalu kenapa kau memakai pakaian yang sangat rapi?”

“Itu karena.. Ya! Kenapa kau banya tanya eh?” Yeonmi mendengus, ia mencibikkan bibirnya dengan umpatan-umpatan kecil. Memangnya apa salahnya bertanya, toh dengan ia bertanya pada Ryeowook tak akan membuat pria itu tewas ditempat kan? Yeonmi kembali memandang lurus kedepan, memperhatikan jalanan yang sudah mulai sepi akibat matahari yang benar-benar sudah bersembunyi.

“Aku dijodohkan oleh Eommaku..”

Yeonmi kembali menoleh mendengar suara Ryeowook mengenai ‘Perjodohan’ Dan kali ini ia menatap Ryeowook dengan terkejut. “Jinja? Aku pikir hal seperti itu sudah tidak ada lagi dijaman sekarang. Ya! Orang tuamu itu kuno sekali” Ucapnya dengan cibiran halus dan Ryeowook hanya terkekeh pelan. “Kau benar, tapi mereka membuat perjanjian”

“Apa itu?”

“Mereka akan menghentikan perjodohan itu jika aku membawa seorang wanita yang benar-benar kujadikan istri..”

“Kedengarannya pernikahan penting bagi keluargamu?”

“Ehm.. Karena garis keturunan tidak boleh terputus. Appa membutuhkan penerus..”

“Ah.. Aku mengerti. Lalu? Apa kau sudah mendapatkan seseorang yang kau jadikan istri?”

Yeonmi menoleh, masih mendapati Ryeowook yang sedang tersenyum dengan pandangan lurus kedepan. “Sudah..” Jawabnya singkat. Yeonmi menghela nafasnya, pembicaraan ini mendadak saja menjadi hal yang menyebalkan baginya. Apa ia akan kehilangan satu teman lagi? Yeonmi memang memiliki banyak teman, tapi tak bisa dipungkiri kalau ia senang berteman dengan Ryeowook walau tingkahnya menyebalkan tingkat dewa. Ia sudah kehilangan Donghae ketika pria itu memutuskan untuk menikah dengan perjodohan dan dia berubah. Apa Ryeowook juga sama? Ryeowook dan Donghae memiliki kasus yang sama, terpaksa menikah karena perjodohan. Jadi, Apa Ryeowook juga akan berubah? Sama seperti Donghae?

Nu.. Nuguya?” Tanyanya. Siapapun wanita itu.. berarti ia sudah dikalahkan untuk yang kedua kalinya. Dan Yeonmi siap mendengar namanya.

Namun Ryeowook menoleh, menatapnya dengan senyuman yang jauh-jauh lebih manis dari sebelumnya. “Kau” Ucapnya santai dan Mata Yeonmi membulat.

Nde? Aku? Ya! Apa maksudmu Ryeowook-ah.. Hey! Ini bukan bulan april dan kenapa kau membuat lelucon aneh itu eh?”

“Itu bukan lelucon Yeonmi-ya.. Aku bersungguh-sungguh.. Memang kau, aku ingin kau yang menjadi istriku..”

Yeonmi mengerjap, ia kembali memandang lurus kedepan dengan perasaan yang sulit diartikan. “Dan membuat kedua orang tuaku semakin sibuk karena juga harus mengurus pernikahan ku? Aku rasa itu ide yang buruk Ryeowook-ah. Kedua orang tuaku sedang sibuk mempersiapkan pernikahan kakakku. Dan aku datang untuk meminta nikah juga? Aigoo..”

“Aku tak memaksamu untuk menjawab sekarang. Dan untuk rencana pernikahan, aku akan meminta restu kedua orang tuamu sendiri dan kita bisa mengatur semuanya sendiri. Lagi pula aku tidak yakin Eommaku akan membiarkan kita melakukannya sendiri. Dia pasti membantu..”

Yeonmi terdiam, berusaha mencerna ucapan pria disampingnya. Ia memejamkan matanya dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Apa yang harus dilakukannya? Pria yang.. Entah apa ia menyukainya atau tidak memintanya untuk menikah bersamanya.. Haruskah ini dianggap bencana atau sebuah keberuntungan?

Tubuhnya menegang begitu ia merasakan seseorang menyentuh kedua tangannya dan menariknya kebawah hingga ia dapat melihat seseorang yang sudah berjongkok tepat dihadapannya. Matanya menatap ketangannya yang sedang digenggam erat oleh Ryeowook, dan kemudian beralih menatap manic mata Ryeowook yang juga sedang menatapnya. “Apa tiga hari cukup untuk membuatmu memikirkan ini semua?”

“Bagaimana jika aku sudah punya kekasih?”

Tsk.. Jangan bercanda Nona! Aku tahu kau baru saja ditolak oleh seorang pria..” Ucapnya. Dalam keadaan seperti ini pun Ryeowook masih saja menyebalkan. Yeonmi mendengus, melemparkan padangannya kesamping menghindari tatapan Ryeowook yang.. Ehmm, menggodanya.

“Jadi, bagaimana?”

“Apanya..”

“Aku akan memberimu waktu tiga hari. Dan kumohon pikirkan baik-baik, aku berharap kau tak menolakku..” Ucap Ryeowook. Yeonmi mengangguk, membiarkan pria itu berdiri dan kembali duduk disampingnya. Dan suasana menjadi canggung, ingin rasanya Yeonmi mati sekarang jika harus mengalami keadaan seperti ini. Ia menoleh kearah Ryeowook, sedang mencari bahan obrolan yang pas untuk mereka.

“Hhh~ Kenapa jalanan sepi sekali?” Ucapnya dengan tiba-tiba.

Ryeowook menoleh, dan kemudian terkekeh pelan. Gadis itu memang tidak pandai mencari bahan obrolan. “Cha.. Kajja.. Kau memang tak pandai mencari obrolan.” Ucap Ryeowook sembari menarik tangan Yeonmi pergi dari sana. Yeonmi terkekeh dan kemudian berjalan disamping Ryeowook dengan tangannya yang digenggam pria itu, hangat. “Kau mau membawaku kemana?”

“Bukankah kau menelponku untuk minum bersama? Aku akan menemanimu..”

[Romance City]

Dua jam yang lalu ia baru saja tiba di rumah kedua orang tua Donghae, Pria itu mengajaknya berkunjung kerumah mertuanya karena akhir-akhir ini Ibu mertua sering menghubunginya dan merindukan mereka. Mereka tidak bisa datang jadi terpaksa ia dan Donghae yang harus datang berkunjung. Entah mengapa berkunjung kali ini ada perasaan berbeda.. Ia merasa lebih senang saat berkunjung. Perlakuan-perlakuan Donghae yang memang masih belum dikatakan manis, membuat Eunji merasakan senang. Ia merasa kalau semua perlakuan Donghae kali ini adalah tulus, tak ada rasa kepura-puraan seperti minggu-minggu sebelumnya.

“Kau sedang apa heum?” Eunji menolehkan kepalanya begitu suara seorang wanita menyapanya. Ia kemudian tersenyum “Hanya menikmati udara segar..” Jawabnya. Seorang wanita yang sudah ia anggap ibunya sendiri pun berdiri disampingnya menikmati udara segar dari balkon kamarnya bersama Donghae. Suasana kembali hening dan Eunji tak berniat untuk memulai pembicaraan, karena ia sepertinya masih terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.

Lama berdiam diri akhirnya Eomma Donghae menoleh, mengamati menantunya dalam diam dan kemudian tersenyum. “Eomma senang Donghae menikah denganmu..” Ujarnya, Eunji ikut menoleh, sedikit terkejut namun kemudian ia tersenyum. Kalimat itu, sudah sering ia dengar, tapi kali ini ia merasa sangat senang.

“Dan Eomma juga ingin segera mendapat cucu dari kalian.. Rasanya pasti menyenangkan bisa berkumpul dengan cucu-cucu Eomma..” Ucap Eomma Donghae dengan begitu santainya dan tentu saja Eunji terkejut mendengarnya. Ia tersenyum canggung dan kemudian mengangguk. Memiliki seorang momongan adalah hal yang diinginkannya, tapi.. Hubungan mereka saja baru membaik beberapa waktu lalu dan tentu melakukan itu belum terpikirkan oleh mereka.

“Kapan kalian memberikan cucu pada Eomma heum?” Tanya Eomma Donghae lagi, namun kali ini Eunji tidak tahu harus berbuat apa.

Nde?”

“Kapan kalian akan memberikan Eomma cucu?” Ulangnya dan Eunji hanya mampu cengengesan tidak jelas. Berharap bahwa ada sesuatu yang mampu menolongnya sekarang. Apapun itu asalkan Eomma Donghae tak lagi mempertanyakan masalah itu, ia tidak apa-apa.

Eomma.. Ini sudah malam dan Eomma harus segera tidur heum?” Tiba-tiba saja Donghae melenggang masuk membawa Eomma nya yang masih ingin mendengar jawabannya, wanita itu berhenti dan kemudian menatap Eunji genit. “Eomma, ingin secepatnya oke?” Ucapnya, yang hanya mampu dijawab oleh senyuman canggung Eunji.

Tsk.. Eomma~” Rengek Donghae dan kembali membawa wanita paruh baya itu keluar dari kamarnya. Tak lama setelah itu Donghae sudah kembali, pria itu berdiri didepan pintu dan menatapnya. Dia tersenyum lalu berjalan menghampirinya dengan perlahan. “Mian.. Eomma, memang selalu seperti itu..” Ujarnya begitu sudah sampai disamping Eunji.

Gwaenchana.. Bukankah setiap orang tua memang selalu seperti itu?” Balas Eunji, dan kemudian mereka berdua sama-sama menikmati keindahan alam yang tersaji dihadapan mereka. Setelah menjawab ucapan Eunji dengan gumaman lembut Donghae memilih diam dan beradu dengan pikirannya sendiri. Dan Eunji, ia juga tidak ingin mengatakan apapun, dan itu semakin membuat suasana ini semakin canggung dan tak enak.

Eunji menghela nafas, matanya masih menatap lurus kearah pandangan mereka dan kemudian tersenyum kecil, “Donghae-ah..” Panggilnya pelan. Donghae bergumam dan kemudian beralih menatapnya. “Apa semuanya terlalu cepat?” Tanya gadis itu lalu ia menolehkan kepalanya, menatap Donghae yang kini sudah mengubah tatapannya-bingung.

“Aku bahkan belum melakukan apapun, tapi kau datang padaku lebih cepat dari yang kupikirkan.” Jelasnya, ia memberi jeda sejenak menunggu reaksi Donghae. Pria itu hanya diam saja menunggu gadis didepannya melanjutkan ucapannya. “Aku tidak tahu alasanmu datang padaku dengan begitu cepat. Entah itu memang mungkin karena kau memang ingin memperbaiki apa yang sudah terjadi, atau mungkin kau hanya menjadikanku sebagai pelarian karena kau baru saja memiliki masalah dengan gadis itu. Tapi aku..” Eunji menghentikan ucapannya dan tersenyum pada Donghae, “Aku hanya ingin mengatakannya saja, kalau selama ini.. Aku sudah menyukaimu, bahkan ketika kau menyuruhku untuk menganggap bahwa pernikahan ini hanyalah sebuah perjodohan. Dan aku bisa melakukannya, tapi.. Menghentikan perasaanku padamu sulit untuk kulakukan. Jadi,” Eunji menghela nafasnya dan kemudian memposisikan tubuhnya menghadap pria itu. “Aku tak ingin berbohong lagi. Aku mencintaimu dan menginginkanmu untuk menjadi milikku..” Ucapnya dan kemudian ia menundukkan kepalanya.

Entah mengapa perkataan gadis itu membuat Donghae tersenyum mendengarnya. Ia lantas membalikkan tubuhnya dan berhadapan langsung dengan gadis itu dan melangkah mendekat. “Aku akan menyetujui perkataanmu ketika kau mengatakan bahwa aku datang karena masalahku dengan gadis itu. Tapi aku akan menyanggah jika kau mengatakan bahwa aku menjadikanmu sebagai pelarian.” Gadis itu mendongak, kali ini giliran dia yang dibuat bingung. “Aku sama sekali tak pernah menganggapmu sebagai pelarian. Permasalahanku dengannya sudah membuatku tersadar akan kenyataan kalau ada gadis yang juga mencintaiku dan dia lebih merasakan sakit. Takdir yang membawaku padamu.. Dan aku senang kalau kau tidak akan berbohong lagi.. Aku ingin kau mencintaiku, dan aku minta maaf karena sudah membuatmu sakit..” Donghae tersenyum dan kembali melangkah mendekat. Menarik pinggang Eunji mendekat dan kemudian mendekatkan wajahnya, “Kita bisa memulai sebuah hubungan yang baru. Bukan sebagai pasangan yang harus berpura-pura saling mencintai. Tapi sebagai pasangan yang saling mencintai..” Bisiknya dan sedetik kemudian pria itu sudah menempelkan bibirnya.

Eunji mengerjap. Tubuhnya langsung menegang menerima sentuhan itu. Otaknya bahkan sudah tak bisa berfikir dengan jernih lagi, desiran di dadanya membuatnya bingung harus melakukan apa dan degup jantungnya yang semakin memperjelas sedang apa mereka sekarang. Donghae menciumnya. Ciuman pertamanya dengan seorang pria yang bernar-benar ia cintai.

Perlahan, Donghae mulai melumat bibirnya dengan lembut. Membawa kedua tangannya keleher pria itu dan semakin memperdalam apa yang sedang dilakukannya. Eunji kemudian tersenyum dan membiarkan Donghae melakukan kendali atas dirinya, ia bahkan sudah memejamkan matanya menarik leher pria itu mendekat dan mulai mengikuti permainan pria itu. Donghae melakukannya dengan hati-hati hingga tanpa sadar oksigen diparu-paru keduanya menipis. Donghae mulai menghentikan iramanya, memberikan kecupan-kecupan manis sebelum akhirnya melepaskan tautan keduanya. Pria itu terkekeh nyaris tertawa melihat gadis itu yang terengah-engah. “Aku mencintaimu, jadi jangan pernah berfikir kalau aku melakukan ini karena hanya menjadikanmu sebagai pelarian. Kita buka lembaran baru dan jangan memikirkan masalalu, oke?” Ujarnya dan kemudian memeluk gadis itu erat. Eunji mengangguk, rasa kekhawatirannya perlahan menghilang, dan ia rasa ia bisa mempercayai pria ini.

Keduanya kembali diam beberapa saat dengan pelukan nyaman diantara mereka hingga Donghae kembali mengeluarkan suaranya, “Eung.. Soal apa yang Eomma katakan padamu, bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?” Tanyanya. Eunji mengernyit sebelum akhirnya melepaskan pelukan pria itu dan kemudian menatapnya. “Apa?”

“Memberikan cucu yang tampan dan cantik. Eotte?”

Mata Eunji membulat, ia kemudian memundurkan tubuhnya menghindari Donghae, Ya Tuhan.. Apa pria itu ingin melakukannya sekarang? Degupan jantungnya yang menggila saja masih belum mereda, bagaimana jika Donghae melakukannya malam ini dan semakin membuat degup jantungnya kian menggila? Bagaimana jika jantungnya copot? Aigoo.. Ini tidak bisa dibiarkan. Eunji menggeleng pelan dan kemudian berbalik. “Aku sepertinya ada urusan lain Donghae-ya.. Sepertinya, permintaan Eommamu akan ditunda sementara waktu.” Ujarnya dengan terus melangkah keluar kamar. Donghae terkekeh dan mengikuti gadis itu. “Aku tidak mau nyonya Lee. Eomma Sudah sangat menginkan kita segera mempunyai seorang Aegi.” Ujar Donghae dan kemudian memeluk Eunji tepat ketika gadis itu sudah membuka pintu.

Namun keduanya justru membeku melihat siapa yang berada disana. Sang Eomma yang menjadi alasan Donghae berdiri disana dengan wajah yang berseri – Aneh – menurut mereka. Terlebih setelah melihat apa yang sedang Donghae lakukan, –Memeluk istrinya dari belakang– membuat senyum anehnya semakin mengembang. “Eomma senang kalian seperti ini. Cha lanjutkan. Eomma tak akan mengganggu kalian.” Ucapnya dan kemudian menutup pintu kamar mereka.

Eomma Donghae tersenyum begitu mendengar teriakan Eunji dan rengekan Donghae. Ia menggeleng pelan sebelum akhinya melangkah pergi, sepertinya mereka memang tidak bisa diganggu malam ini.

Eommeonim..” Teriak Eunji sembari menggedor pintu yang baru saja ditutup sementara Donghae sedang terkekeh dan kembali merengek, “Sudah kubilangkan? Eomma sangat menginginkan itu..”

Tsk! Kau menyebalkan! Apa kau selalu menggunakan orang lain untuk merayu wanita?”

Aniya.. Hanya kau yang membuatku seperti ini. Karena semua wanita hanya Lee Eunji yang keras kepala!”

“Ya! Apa yang kau-”

“Berhenti berteriak..”

Eommoni

Eomma Donghae terkekeh mendengar itu. Dan kemudian memilih untuk benar-benar pergi. Takut jika ia mendengar apa yang seharusnya tak didengarnya. Ah senangnya.. Itu artinya ia akan segera punya cucu kan?

[Romance City]

Jae in duduk disebuah kursi yang terletak disalah satu taman dikampusnya, matanya sesekali mengedar mencari sosok yang ditunggunya sedari tadi, disebelah tangannya ia memegangi sebuah buku kecil yang selalu ia bawa. Sebuah buku baru karena buku yang lama sudah menghilang entah kemana. Ia kemudian mengedarkan pandangannya sekali lagi dan kali ini untuk memastikan bahwa seseorang yang ditunggunya masih belum menampakkan batang hidungnya. Menghela nafas, akhirnya Jae in membuka buku kecil itu dan mulai menulis, satu-satunya hal yang selalu ia sukai. Menulis sesuatu diatas kertas, terkadang membuat puisi atau sekedar membuat komik kecil disetiap lembarannya. Dan tak jarang juga Ia menuliskan isi hati nya disana. Dan kebiasaannya ini sepertinya Kyuhyun tidak mengetahuinya karena ia memang tak berniat untuk memberi tahu, sekali pun pria itu adalah kekasihnya. Jae in memang tidak suka ada orang lain yang membaca hasil tulisannya. Bukan apa-apa hanya itu memang privasi kan? Dan masalah bukunya yang hilang itu.. Jujur ia masih sangat kesal dan marah tapi ia mencoba bersikap biasa saja, karena bukunya memang hilang dan ia merasa tak ada yang terjadi apapun setelah buku itu hilang. Pikir positifnya, buku itu memang tak ditemui oleh siapapun. Dan hanya hilang entah kemana.

“Kau sedang membuat apa?” Seruan pelan disamping telinganya dengan tiba-tiba itu sukses mengejutkannya, Ia segera menoleh kesamping dan mendapati Kyuhyun yang sedang tersenyum bocah sekarang, dengan cepat segera ia memasukkan bukunya kedalam tas dan tersenyum sembari menggeleng pelan kearah Kyuhyun. “Aniya.. Hanya..” Ucapannya terhenti dan matanya membulat ketika Kyuhyun mengecup bibirnya dan kemudian duduk disampingnya.

“Kau sudah menunggu lama?” Tanyanya, dan hanya mampu dijawab gelengan kepala ringan oleh Jae in. Ia masih sangat terkejut dengan perlakuan Kyuhyun tadi. Kyuhyun yang melihat itu hanya terkekeh pelan dan kemudian menyandarkan tubuhnya kesandaran kursi. Mengamati keadaan sekitar yang sedang dipenuhi oleh banyak mahasiswa yang tengah menikmati waktu bersama orang-orang terdekatnya.

“Tadi, apa yang kau lakukan?” Tanya Kyuhyun lagi. Jae in tersenyum lalu menggeleng, “Hanya sedang mencoret-coret hal tidak penting saja”. Ucapnya. Dan kemudian menghela nafasnya. Sebenarnya ia masih belum terlalu biasa dengan sikap Kyuhyun yang sering mengecup bibirnya dan tak jarang pula pria itu memeluknya, datang keapartemennya dengan tiba dan bahkan bersikap manja. Jae in baru mengalami hal ini. Jadi wajar saja ia masih belum terbiasa, tapi.. Ia menyukainya.

“Coret-coret yang bukan hal penting tapi sangat rapi sekali. Alasan macam apa itu?”

“Apa masalah itu jadi pembicaraan kali ini? Tsk, menyebalkan. Aku padahal sudah membawakanmu makan siang.. Kau tak akan makan?” Tanyanya dan kemudian menyodorkan sebuah kotak bekal berwarna biru langit, warna kesukaan Kyuhyun.

Kyuhyun tersenyum dan kemudian mengangguk lalu mengambil sumpit dan mulai menyuapkan makanan itu kedalam mulutnya. Setelah beberapa saat terdiam Kyuhyun kembali menoleh kearah Jae in, tersenyum lagi pada gadis itu dan kemudian mengeluarkan suaranya bertanya. “Kau suka menulis?” Tanyanya pelan. Jae in mengalihkan tatapannya pada pria itu dan kemudian tersenyum lalu mengangguk sekali.

Hanya anggukan yang gadis itu keluarkan sebagai jawaban atas pertanyaannya. Dan Kyuhyun tentu faham betul mengapa gadis itu melakukannya. Karena ia tidak suka ‘tulisannya’ dibaca oleh orang lain Sekalipun itu Kyuhyun yang notabennya adalah kekasih gadis itu.

Aku tidak tahu akan bercerita pada siapa ketika berada dalam masalah. Sulit mempercayai mereka dengan mudah. Dan saat itu tiba, maka tak ada hal yang bisa aku lakukan selain menuliskan semua masalahku pada buku ini.. Karena sepertinya, aku hanya mempercayai kertas-kertas itu untuk mengetahui masalahku.

Kyuhyun menghela nafasnya mengingat tulisan yang kekasihnya itu tulis dibuku yang ‘dicuri’ nya. Dan Kyuhyun cukup merasa bersalah serta takut jika mengingat kalimat itu. Untuk itu, ia mencoba membisukan diri dan memilih untuk memulai semua dari awal. Karena Kyuhyun tidak ingin gadis itu pergi hanya karena buku itu berada ditangannya sekarang, lebih baik seperti ini. Walau ia sudah berbohong. Satu-satunya hal yang tak disukai gadis itu.

“Kau ingin melihat senja hari ini?” Tanya Kyuhyun disela makannya. Mata Jae in sedikit membulat namun sesaat kemudian ia tersenyum lalu mengangguk. “Ehm..” Gumamnya. Kyuhyun menyimpan kotak bekal itu kembali didalam tas gadis itu, dan kemudian menarik tangannya untuk dibawanya pergi. “Keure.. Kalau begitu, kita akan melihat senja dimana? Hmm, Haeundae Beach? Kurasa kau sangat menyukai tempat itu.” Ujarnya. Jae in kembali membulatkan matanya, bagaimana bisa pria itu memikirkan tempat yang disukainya?? Ah.. Itu hanya kebetulan ‘kan?

Dan Kyuhyun benar-benar membawanya ketempat ini. Pria itu tak pernah main-main dengan ucapannya. Dia membawanya ketempat yang sangat disukainya. Pantai Haeundae, pantai yang menurutnya memiliki keindahan tersendiri dan menyimpan begitu banyak kenangan masa kecilnya, pantai ini selalu menjadi yang terindah karena ia sering mengunjungi tempat ini bersama ibunya.

Kyuhyun berdiri disampingnya menggenggam erat tangannya dengan kedua mata yang terfokus memandangi matahari yang berada di ufuk barat dengan terpancarnya sinar-sinar oranye yang indah. Jae in menolehkan kepalanya, tersenyum melihat Kyuhyun yang tampan dan menawan dengan angin laut yang menerpa wajahnya. Pria itu pintar memperkirakan waktu, dia benar-benar membawa Jae in tepat saat senja selalu muncul dengan jelas disetiap hari nya. Dan Jae in tidak tahu kalau Kyuhyun memikirkan tempat ini untuk melihat senja, sedangkan banyak pantai yang lebih dekat dengan ini. Apa itu artinya mereka memiliki banyak kesamaan?

Merasa diperhatikan Kyuhyun pun menoleh, tersenyum jahil pada Jae In dan kemudian memposisikan tubuhnya menghadap Jae in yang sudah kelimpungan entah karena apa. Gadis itu sangat menggemaskan dengan tingkah yang seperti seorang pencuri yang tertangkap basah karena sudah mencuri sesuatu.

“Bisa aku memintamu satu hal?” Tanyanya, Jae in mendongak memandangi wajah Kyuhyun dengan kening berkerut. “Apa?”

“Tetaplah disampingku apapun yang terjadi..” Pintanya, Kerutan dikening Jae in kemudian memudar, Ia pun terkekeh kecil lalu mengangguk. pKenapa setiap pria selalu meminta hal yang sama? Meminta untuk sang gadis berada disamping sang Pria, memangnya ia mau kemana? Jae in mencintai Kyuhyun, jadi tidak mungkin Jae in akan meninggalkan Kyuhyun ‘kan?

Jae in mengalungkan tangannya pada leher Kyuhyun, mengunci tatapanya pada kedua bola mata Kyuhyun yang luar biasa mempesona. Pria itu sedikit ketakutan, Jae in bisa melihatnya dari pancaran matanya yang sendu. “Sampai kapanpun aku tidak akan pergi Kyuhyun-ah, Jadi apapun yang terjadi aku akan selalu berada disampingmu.. Aku janji?!” Jawabnya. Dan itu sedikit membuat kelegaan bagi Kyuhyun, Pria itu mengangguk dan kemudian tersenyum singkat sebelum akhirnya ia memeluk gadis itu, menelusupkan kepalanya pada leher gadis itu dan menghirup udara sebanyak-banyaknya dari sana.

Jae In tersenyum dalam pelukannya. Menurutnya Kyuhyun adalah pria yang sulit ditebak. Dia bisa berubah sikap kapan aja. Bisa peduli, acuh, protective, possessive, dan bahkan bersikap manja dan cengeng. Semua itu Jae in baru ketahui setelah mereka menjalin hubungan. Tapi ia juga tak menyangka kalau Kyuhyun adalah orang yang dewasa, dia akan mengatasi masalahnya dengan tenang dan cenderung disembunyikan. Entah itu karena mungkin Kyuhyun yang belum terlalu nyaman dengannya, atau memang begitu sikapnya. Tapi Jae in harap, bahwa Kyuhyun bisa senyaman mungkin bersamanya dan menceritakan apapun masalah pria itu padanya. Setidaknya, ia juga ingin merasakan  apa yang Kyuhyun rasakan.

[Romance City]

Langkah Hyunmi terhenti, matanya menatap lurus kearah sebuah pintu masuk yang akan membawanya pada suaminya berada. Tepat didepan pintu itu ada seorang gadis cantik yang sexy sedang berdiri didepannya dengan beberapa berkas berada ditangannya. Gadis yang Hyunmi kenal sebagai sekertaris Hyukjae itu kemudian tersenyum menunduk sekilas memberikan hormat lalu mempersilahkannya masuk.

“Apa Hyukjae ada didalam?” Tanya Hyunmi berbasa basi, Karena sejujurnya ia sudah tau prianya itu ada didalam. Gadis itu kembali tersenyum lalu mengangguk kembali, “Tuan menunggu anda..” Jawabnya dan kemudian Hyunmi benar-benar memasuki ruangan itu setelah sebelumnya ia menggumamkan kata terimakasih. Hyunmi melirik sekilas kearah gadis itu sebelum menutup pintu. Gadis itu terlihat menghela nafasnya dan kemudian menggeleng pelan sebelum duduk dikursinya, wajahnya mendadak tak bersemangat saat ia datang, tidak seperti saat dia tidak melihat Hyunmi. Wajahnya terlihat senang dengan rona merah dipipinya. Hyunmi menggedikkan bahunya memilih untuk tidak memikirkan itu dan kini ia sudah berjalan mendekati meja yang ditempati Hyukjae.

“Akhir-akhir ini kau sering sekali mengunjungiku..” Seru Hyukjae menyapanya. Hyunmi  terkekeh pelan menyimpan tas miliknya di sofa dan menghampiri pria itu. “Aku hanya ingin memberikan suamiku sedikit energi setelah hampir setengah hari berkutat dengan kertas-kertas itu.” Hyunmi mengarahkan dagunya pada setumuk dokumen yang masih berantakan dimeja kerja suaminya. Hyukjae terkekeh, lalu berdiri menghampiri gadis itu dan kemudian memeluk pinggangnya, menyatukan kening mereka dan saling bertatap mata.

“Kau selalu pulang larut sekali, apa perkerjaanmu sepadat itu?” Keluhnya. Hyukjae mengangguk pelan, “Kami sedang mengerjakan sesuatu ada sebuah proyek yang harus aku tangani sendiri, jadi.. Mian.. jika itu membuatmu kesal..”

“Aku tidak kesal, hanya takut..” Ujarnya dengan suara pelan. Hyukjae mengernyit, menatap istrinya dengan bingung, “Takut? Kenapa kau takut?” Tanyanya.

“Takut seorang gadis yang menjadi sekertarismu mengambilmu dariku..” Ujarnya. Alis Hyukjae terangkat sebelah, dan kemudian terkekeh pelan. “apa itu artinya kau sedang takut ku selingkuh?”

Tsk” Hyunmi melepaskan pelukannya, memilih berjalan menuju sofa dan duduk disana. “Bukankah setiap wanita selalu menakutkan hal itu?” Tanyanya sarkas. Hyukjae tertawa ringan dan ikut duduk didepan gadis itu. “Dia hanya Hoobae ku yang menjadi sekertaris pribadi. Apa yang harus kau takutkan heum?”

“Dia cantik, sexy, dan kau sering bertemu dengannya. Apa yang tidak mungkin? Bisa saja kau jatuh hati padanya”.

Eiyy, Apa ini sedang periode bulananmu? Kenapa kau sensitive sekali?” Tanyanya dengan kekehan pelan dan Hyunmi mendengus sebal. “Kau tak mengerti Hyukjae-ya.. Sekarang, berapa kali dia sudah menemuimu dalam seharian ini?”

“Entah.. Mungkin tadi yang ketiga kali..” Ujarnya santai.

“Tiga kali selama setengah hari.. Apa kau memikirkan sudah berapa lama kau berkerja? Dan apa kau bisa menghitung berapa kali kau bertemu dengannya?” Hyukjae tertawa mendengar itu dan itu semakin semakin membuat Hyunmi kesal setengah mati. “Kau cemburu eh?” Tanyanya yang masih dalam keadaan santai. Pria itu berdiri menghampiri sang gadis yang sedang asik berdecak ria dan membuang mukanya kesamping.

“Aku senang kau begitu..” Ujar Hyukjae lagi begitu pria itu sudah duduk disamping gadisnya. Hyunmi menoleh dan kemudian pria itu tersenyum lalu duduk dimeja agar bisa langsung berhadapan dengan sang istri. “Aku senang karena ternyata kau mencintaiku lebih cepat dari apa yang kupikirkan, Kupikir Siwon-ssi masih menjadi pikiran terpenting dalam hidupmu dan menomorduakan aku.. Aku tidak kesal atau marah kau bersikap seperti itu, bagaimanapun Siwon-ssi adalah yang pertama menaklukkan hatimu, mempengaruhimu.. Dan aku hanya perlu menunggu sampai kau benar-benar melakukan itu padaku..” Hyukjae menghela nafasnya, tangannya bergerak menggenggam kedua tangan Hyunmi yang masih menatapnya. “Tapi kau melakukannya sekarang. Kau cemburu dan aku tahu apa artinya itu, terimakasih.. Sudah mau berusaha mencintaiku Hyunmi-ah.”

Hyunmi tersenyum mendengar itu, tanpa berfikir panjang gadis itu langsung menerjang tubuh Hyukjae. Dan beruntung meja yang diduduki Hyukjae adalah meja yang berbahan kayu antic persegi panjang, jadi Hyukjae tidak perlu menghawatirkan kalau-kalau mejanya pecah dan akan membuat mereka justru langsung dibawa kerumah sakit. “Aigoo.. Kenapa tubuhmu semakin berat eh? Kau banyak makan heum?” Ujarnya setengah mengejek dan Hyunmi berdecak namun tak berniat untuk membalasnya.

Hyukjae terkekeh pelan mendengar decakan Hyunmi, Ia ingat betapa ringannya tubuh Hyunmi saat mereka bertemu pertama kali, kegiatannya hanya menangis dan menangis seperti tak ada gairah hidup dan seperti orang yang mati. Benar-benar buruk. Namun perkembangan gadis itu berubah ketika ia hadir didalam hidupnya. Dan Hyukjae harus bersyukur karena itu.. Walaupun tak benar-benar berubah namun gadis itu menunjukkan perkembangannya. Hingga seperti sekarang, ia senang bisa mengembalikan keceriaan gadis itu dan selalu membuatnya tersenyum, dan Hyukjae berjanji akan selalu membuat gadis itu bahagia sampai kapanpun.

“Jangan pergi meninggalkanku.. Aku akan tampak lebih buruk dari sebelumnya jika kau pergi begitu saja..” Gumamnya dan Hyukjae hanya mengangguk pelan menanggapi, “Aku berjanji Nyona Lee”. Ujarnya.

[Romance City]

Soo Young tersenyum senang mengamati Yesung yang masih focus dengan peralatan melukisnya. Sudah sangat lama sekali ia tidak memperhatikan bagaimana kegiatan pria itu yang suka sekali melukis dan beberapa hal-hal yang menyangkut dengan sebuah gambar. Soo Young terlalu sibuk dengan urusannya hingga ia lupa, kalau ditempat ini semua karya Yesung dipajang. Dulu, Soo Young sering sekali mengunjungi sanggar ini untuk sekedar menemani Yesung melukis atau bermain dan juga mungkin hanya untuk menjadi objek gambarnya. Mereka sering sekali menghabiskan waktu bersama ditempat ini sampai lupa waktu, dan semuanya berubah sampai dia memiliki seorang pria berharga lain dalam hidupnya. Ya.. Katakan saja dia orang egois karena ingin memiliki dua pria dalam hidupnya.

Soo Young pikir ini akan mudah. Mejalani hidup dengan Donghae yang menjadi kekasihnya dan juga dengan Yesung yang menjadi sahabat sekaligus seorang Ayah atau mungkin juga kekasih. Tapi nyatanya tidak, itu lebih terasa sulit karena ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dengan semua itu. Ia selalu berfikir mudah karena ia yakin ia bisa mengendalikan semuanya. Namun ternyata tidak, sepintar apapun ia melakukan sebuah rencana, ia seharusnya tahu bahwa Yesung yang selalu pintar mengendalikannya selama ini. Dan seharusnya ia mengerti, kalau dia sebenarnya tidak benar-benar bisa lepas begitu saja dari Yesung.

Soo Young menghela nafasnya, ia lantas melangkahkan kakinya mendekat kearah Yesung yang sedang mengamati pemandangan untuk dilukis. Duduk disampingnya tanpa mengeluarkan suara hingga dengan sendirinya pria itu menyadari kedatangannya. Yesung sedikit terkejut namun setelahnya iya tersenyum cerah sembari mengusap ujung kepalanya dengan lembut. “Kau datang?” Tanyanya dan kemudian dijawab oleh Soo Young dengan anggukan kepala nya ringan. “Sekarang melukis apa lagi?” Tanyanya.

“Hanya ingin melukis langit pagi ini.. Sangat cerah dan indah.”

“Kau tak berkerja?”

“Aku mengambil cuti beberapa hari.. Lagi pula itu kan perusahaanku.”

“Ck.. Pemilik perusahaan yang tak patut dicontoh!” Ucapnya dengan nada cibiran dan membuat Yesung terkekeh. “Lalu? Kenapa kau tidak kuliah?” Tanyanya dengan seringaian lucu dan kemudian Soo Young tertawa.. “Aku.. Eung bagaimana menjelaskannya ya? Aku-

“Kau bolos. Ya.. Jangan salahkan aku kalau mahasiswa dinegri ini sudah tidak patut dicontoh lagi..” Ucap Yesung acuh dan memotong pembicaraannya. Soo Young mendengus, pria itu pandai membunuh seseorang dengan ucapannya. Tsk, bagaimana bisa ia menyukai pria seperti itu Tuhan?

Arraseo.. arraseo Tuan Kim! Aku pergi..” Ujarnya bersungut-sungut dan kemudian melangkahkan kakinya keluar. Yesung terkekeh lalu dengan segera ia meletakkan semua peralatan melukisnya dan mengejar gadis itu.. Ia salah, sepertinya Yesung sudah membangunkan singa betina yang sedang tertidur. Soo Young sangat sulit dijinakan jika sedang kesal.

Eiyy.. Kau marah? Keure.. Aku akan mengantarmu sampai kampus.” Ujarnya sembari merangkul gadis itu membawanya jalan bersamanya.

Soo Young mengulas senyumnya. Sebenarnya ia tidak benar-benar marah tadi.. Ia hanya sedang membuat jebakan untuk bisa jalan-jalan bersama pria itu dan.. Sepertinya kelinci sudah masuk kedalam jebakan singa betina. Haha..

Soo Young melepaskan rangkulan Yesung membuat pria itu menghentikan langkahnya. Menatap bingung Soo Young yang sedang tersenyum aneh. “Kita lewat sini..” Ujarnya dan kemudian menggenggam tangan Yesung dan kemudian membawanya pergi. Yesung terkekeh mengerti situasi apa yang sedang terjadi sekarang. “Kau sedang menculikku Nona Park?” Tebaknya. Soo Young tertawa lalu mengangguk pelan. “Hmm.. Kau benar!”

Yesung melepaskan genggaman ditangannya dan kembali merangkul Soo Young. “Cha.. Sekarang kita kemana?” Tanyanya dengan senyuman khasnya, lalu sedetik kemudian mereka tertawa bersama..

[Romance City]

Yeonmi baru saja bangun dari tidurnya. Ia melangkahkan kakinya keluar kamar untuk pergi kedapur. Langkahnya terhenti begitu melihat Eonnienya yang juga berada disana dengan wajah yang disembunyikan dibalik lengannya. Yeonmi mendekati meja makan duduk didepan Eonnienya dengan mengambil segelas air putih untuk membasahi tenggorokannya.

Ji Hye yang semula hanya menundukkan kepalanya dengan kedua lengan yang menjadi bantalnya kemudian mendongak saat mendengar suara didekatinya. Didapatinya Yeonmi yang sedang serius menatapnya. Ji Hye kemudian tersenyum lalu menegakkan tubuhnya. “Kau sudah bangun? Ini masih sangat pagi sekali kau tahu?” Ujarnya berbasa basi. Yeonmi mengangguk membenarkan ucapan Eonnienya. “Ehm.. Aku harus berangkat kuliah pagi, jadi terbangun..” Ucapnya..

Hening kemudian, keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sebenarnya Yeonmi sudah ingin pergi dari sana namun gelagat Eonnienya yang seperti akan mengatakan sesuatu membuatnya bertahan sebentar. Lagi pula memperbaiki hubungan kakak beradik tidak salahkan? Sekalipun mereka tidak pernah akrab bukankah seharusnya mereka pernah menyempatkan diri untuk mengobrol?

Yeonmi menghela nafasnya, “Bagaimana dengan makan malamnya?” Tanyanya.. Ji Hye kembali mendongak dan kemudian tersenyum.. Getir. “Jika yang kau tanyakan adalah makan malam dengan bisnis Appa.. Itu semua berjalan lancar, aku menikmatinya walau Appa sempat marah-marah karena tahu kau kabur..” Ujarnya dengan kekehan pelan. Yeonmi mengernyit, “Lalu?”

“Apanya?”

“Makan malam dengan calon pria mu..”

Kini giliran Ji Hye yang menghela nafasnya, “Aku tak pernah memiliki seorang calon pria, asal kau tahu saja..” Ucapnya dengan nada dingin, dan tentu semakin membuat Yeonmi tak mengerti.

Appa sendiri yang mengatakannya padaku..”

“Dia membatalkan perjodohannya. Dan aku, entah wanita yang keberapa sudah ditolaknya..” Ji Hye melanjutkan ucapannya lalu menghela nafas panjang.

Yeonmi mengernyit lagi semakin bingung dengan apa yang dibicarakan oleh kakaknya itu, “Jadi, Kau sedang patah hati? Apa kau menyukainya?” Tanyanya.

Ji Hye kembali menghela nafas, ia kemudian berdiri dari tempatnya duduk dan menatap Yeonmi, “Chaa.. Sepertinya aku sudah terlalu banyak mengobrol denganmu, bukankah kau sekarang ada kuliah pagi? Aku pergi kalau begitu..” Ucapnya lalu beranjak pergi. Yeonmi mendengus, menatap punggung kakak nya itu dengan pandangan kesal. Namun sesaat kemudian ia tersenyum senang. Ternyata wanita secantik dan sehebat Shin Ji Hye juga akan ditolak oleh seorang pria, pikir Yeonmi. Ia juga kemudian beranjak, kakaknya itu benar, dia ada kuliah pagi jadi sebaiknya ia bersiap.

Kenapa nasib Putri dikeluarga Shin selalu seperti ini? Ditolak oleh pria..

Yeonmi terkekeh dengan pikirannya sendiri, ia menggeleng pelan lalu melangkahkan kakinya kekamar. Dulu dia yang ditolak oleh seorang pria dengan menikah bersama gadis lain. Lalu kakaknya, juga sama ditolak karena membatalkan perjodohan. Duh malangnya -_-

***

Yeonmi tersenyum senang saat matanya melihat sosok Ryeowook yang sedang berdiri didepan kampusnya menunggunya. Langkahnya yang semula hanya berjalan kini sedikit berlari demi cepat sampai pada pria itu. Ryeowook yang melihatnya juga ikut tersenyum lalu membukakan pintu mobilnya untuk dimasuki Yeonmi. Gadis itu mendengus dan kemudian memukul dada Ryeowook ringan sebelum akhirnya masuk kedalam mobil.

“Kau menjemputku lagi tuan Kim..” Ujarnya dengan kekehan ringan diakhir kalimat. Ryeowook mengangguk dan kemudian menoleh sekilas kearah Yeonmi. “Aku hanya ingin melihatmu saja..” Ucapnya..

“Jangan sering membuat pertemuan, itu akan membuatku semakin merasa bersalah karena belum menjawab tawaranmu..” Yeonmi menghela nafasnya setelah mengucapkan itu, ia kemudian menunduk dan memainkan jari-jari tangannya.

Ryeowook kembali menoleh begitu mobilnya berhenti karena lampu merah. Ia tersenyum lalu meraih tangan Yeonmi untuk digenggamnya. Yeonmi yang merasakan itu kemudian menoleh kearah Ryeowook. Dan ia terpaksa harus kembai terpesona dengan wajah itu lagi. Mata teduhnya, hidungnya yang mancung, wajahnya yang putih pucat dengan senyuman yang terus menghiasinya. Dan melihat itu semakin membuatnya dilanda kebingungan luar biasa. Yeonmi yakin, ada luka dibalik mata itu ketika menyangkut hal ini, tapi dia masih bersikap baik-baik saja seolah tak ada apapun yang terjadi.

“Ini sudah hari ketiga, kau tak marah jika aku belum menjawabmu?”

“Memangnya aku malaikat yang tidak marah dan kesal? Tentu saja aku kesal, tapi.. Aku masih ingin menunggu Yeonmi-ah.. memangnya apa yang kau pikirkan..” Ujar Ryeowook lagi, kali ini mobil sudah berjalan namun tangan kanan Ryeowook masih belum melepaskan genggamannya walau saat ini pandangannya masih menatap jalanan.

Apa yang dipikirkannya?

Jantung yang selalu berdebar setiap kali bertemu, darah yang selalu berdesir setiap kali Ryeowook menyentuhnya. Perasaan senang setiap kali ia melihat pria itu dan perasaan selalu ingin disamping pria itu.. Apa lagi yang dipikirkannya? Selama ini ia akui menyukai Ryeowook. Tapi kenapa selalu ada rasa takut setiap kali menyangkut tentang pria itu? Takut.. Merasa sakit..

Yeonmi kembali mendongakkan kepalanya kearah jalanan begitu Ryeowook menghentikan mobilnya. Saat ini pria itu tengah menghentikan mobilnya ditepi jalan sungai Han. “Apa yang kau pikirkan?” Pertanyaan itu membuat Yeonmi mengalihkan pandangannya. Ia menoleh dan menatap Ryeowook dan kemudian tersenyum, “Aku hanya bingung.. dengan perasaanku sendiri..” Ujarnya pelan.

“Apa kau menyukaiku?”

Yeonmi tak langsung menjawab pertanyaan Ryeowook, ia terdiam cukup lama dengan degup jantung yang menggila. Bersama Ryeowook didalam satu ruangan ini membuat udara disekitarnya seakan menipis, dan ia bingung harus melakukan apa. Ryeowook menghela nafasnya, ia menatap Yeonmi dan mengunci tatapan gadis itu dengan tatapannya. “Kau tak perlu menjawab, biar ini saja yang menjawabnya..” Jawab Ryeowook. Yeonmi mengerjap, detik berikutnya ia sudah merasakan sebuah tangan seperti menarik wajahnya dan kemudian benda kenyal dan lembut menyapa permukaan bibirnya. Matanya membulat, jantungnya berdegup dengan cepat seperti sebuah drum yang pukul dengan keras, darahnya seperti meluncur bebas dari ujung kepalanya dan hatinya berdesir, membuatnya tampak bodoh dengan apa yang Ryeowook lakukan sekarang.

Ia ingin sekali mendorong Ryeowook jauh-jauh, namun sentuhan yang Ryeowook berikan membuatnya tidak sanggup melakukan hal memalukan itu. Ia justru memejamkan matanya dan menikmati apa yang Ryeowook lakukan. Membiakan bibir itu menari-nari dibibirnya, menekannya dan mengambil kendali atas dirinya. Apa ini yang selalu mereka rasakan setiap kali berciuman? Kupu-kupu yang menggelitik disekitar perutnya membuatnya merona disela ciuman mereka.

Yeonmi menyentuh kerah Ryeowook dan meremasnya pelan, Ia sudah hampir kehabisan nafas tapi Ryeowook seperti tidak mengizinkannya untuk menjauh. Kegiatan mereka terhenti dan Ryeowook menyisakan lumatan-lumatan kecil sebelum benar-benar melepaskan ciumannya. Begitu tautan kedua terpisah, Ryeowook terkekeh melihat bagaimana lucunya ekspresi gadis itu yang menggemaskan dengan bibir yang sedikit memerah akibat ulahnya dan juga wajah yang merona.

Yeonmi mengangkat wajahnya dan bertatap langsung dengan Ryeowook, jarak mereka masih sangat dekat. Yeonmi kembali menunduk, gugup dengan mata Ryeowook yang terus menghujam kearahnya, namun ia harus merutuk karena yang dilihatnya adalah bibir Pria itu. Ya Tuhan.. Kenapa ia ingin sekali bibir tipis situ menyentuh bibirnya sekali lagi?

“Aku anggap itu sebagai jawaban iya..” Ucapnya, dan Ryeowook kembali menempelkan bibirnya dengan bibir Yeonmi. Gadis itu kembali membulatkan matanya. Apa pria ini paranormal? Kenapa ia tahu keinginannya?? Tapi Yeonmi tak ingin berkomentar banyak, ia hanya ingin menikmati bagaimana manisnya bibir itu saat menyentuh bibirnya, dan ingin menikmati waktu yang begitu membuatnya bahagia sekarang.

CUT

Haii.. Aku come back lagi.. Ceritanya makin absurd yah?? Part Yesung nya dikit banget.. hehe maklum aku bingung harus ada konflik apa lagi diantara mereka.. jadi maaf, maaf banget.

Dan mungkin, kedepannya aku bakalan jarang update, tugas sekolah udah mulai numpuk dan juga beberapa kegiatan lainnya yang bikin aku sulit untuk buat ff.. FF ini kayaknya nggak akan lama lgi bakal segera END.. Karena semua masalah kan udah pada hampir beres tinggal masalahnya HyunJae dan RyeonMi. FF flashlight juga nggak akan panjang panjang.. Tapi aku belum tahu end nya kapan XD

Aku punya beberapa ide cerita yang sedang dalam penggarapan. Termasuk juga The Agent yang dari dulu ampe sekarang baru teaser nya aja yang di post *mian, Sebenarnya The Agent udah jadi satu part *huuu* tapi nggak pede mau diupdate..-_- 😀 Aku bakal update cerita-cerita barunya nanti setelah Flashlight dan juga Romance City nya selesai. Biar nggak banyak hutang hehe 😀

Aku juga mau ucapin terimakasih sebanyak-banyaknya yang udah ngikutin jalan cerita ini, termasuk yang Flashlight juga.. Anehnya, ff ini yang banyak viewers tapi komennya sedikit sedangkan ff Flashlight viewernya nggak terlalu banyak tapi pada komen.. Tsk.. ketahuan yang suka baca Romance City tapi nggak komentar XD Tapi nggak apa apa. Dibaca juga udah seneng, terimakasih ya.. 🙂

Oh iyaa.. Siapa yang masih semangat nunggu Ryeowook solo?? #angkattangannya!! Hehehe XD Kita tunggu sama sama yaa.. Aku udah nggak sabar banget.. Okee See You in Next Post.. And keep waiting for Ryeowook Solo!

Saranghae ❤

Advertisements

4 thoughts on “[Fan Fiction] Romance City #6

  1. wookpil

    Haha donghae kesempatan dalam kesempitan tuh XD manis banget mereka..
    Yeonmi masih blm sadar kalau yg nolak kakaknya itu kan ryeowook :3
    Aduh aku melted bacanya,ryeonmi momentnya aku sukaaa bngt. ♡♡
    Yap aku jga masih setia nggu album solonya ryeowook tapi plis jgn dlu rilis sblm aku keterima krja diperusahaan :v *okecurhat.abaikan* XD eh tapi sesama elf doain aku yaaa *maksa*
    Fighting ya. Yah meskipun kmu mngkin bakal jarang apdet tpi aku bkalan nggu ff ff kmu ko. Keep writing ^^

    Like

  2. tya

    aku suka moment ny ryeonmi yg pas di terakhir fell ny terasa bnget bkin senyum2 sendiri wookie emng DAEBAK di tunggu nex chapter ny onnie fighting 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s