[FF/Freelance] The Agent || Chapter 5

The Agent 4.

Author : Seo Jinhyun

Cast :

  • Kyuhyun Super Junior,
  • Heechul Super Junior,
  • Ryeowook Super Junior,
  • Siwon Super Junior,
  • OC,
  • All Member Super Junior,
  • dan beberapa artis yang akan bermunculan.

Genre : Friendship, Action, Romance

KET : +++ -> pergantian latar

@@@ -> pergantian pov

Warning:

  • FF ini menggunakan konsep POV yang tidak akan dikasih tahu dan akan membuat pembaca mikir sekarang sedang POV siapa,
  • typobertebaran di mana-mana,
  • Beberapamember out of character mereka yang asli,
  • Banyak OC yang dibuat untukcouple paramember,
  • Dll

 

FF ini murni dari otak author sendiri, dan sebenarnya FF ini adalah novel pertamaku yang berjudul INTELIJEN (sebagai tugas akhir) dan di refisi jadi sebuah FF dan diganti menjadi THE AGENT

DON’T COPY PASTE OR REUPLOAD IN OTHER PAGE AND COMMENT JUSEYO!!

Chapter 5:

 

Aku dan Ryeowook sedang menunggu dokter yang ada di dalam ruang operasi. Aku melipat kedua tanganku berdoa, ya walaupun aku tidak mempercayai keberadaan Tuhan, aku tetap berdoa demi keselamatan dongsaengku yang sedang berjuang di dalam sana.

Ya, Tuhan, tolong selamatkan dongsaengku.

Aku melihat Ryeowook yang terus mundar-mandir di depan ruang operasi. Aku tahu dia sangat cemas tadi, dia langsung ngebut pergi ke rumah sakit saat mengetahui Siwon sudah tidak sadarkan diri di dalam mobil.

Aku memangku tas yang berisikan permata dan data yang sudah Siwon ambil, kalau tas ini ditinggalkan di mobil bisa hilang dan pengorbanan Siwon menjadi percuma.

Aku menangambil handphoneku yang ada di kantong dan menelpon Jungsoo.

Yeoboseo” sahut orang yang ada di seberang.

Yeoboseo, Jungsoo-ya, kami sudah mendapatkan permata dan data itu.”

Syukurlah kalau begitu, tolong kasih kantor pusat yang ada di sana. Setelah itu kalian langsung pulang.

”Tapi, sepertinya kami tidak bisa pulang.”

Kenapa? Apa yang terjadi? Kalian tidak apa-apa kan?” aku mendengar nada cemas dan aku hanya menghela nafas.

“Aku dan Ryeowook tidak apa-apa, tapi Siwon, dia tertembak. Dan kami masih menunggu di depan ruang operasi, dokter belum keluar sejak dua jam yang lalu. Aku juga sudah  pusing melihat Ryeowook yang daritadi mundar-mandir seperti setrikaan.” Aku melihat Ryeowook menatapku tajam dan dia melanjutkan acara mundar-mandirnya.

Kalau sudah tahu perkembangannya, beri kabar nanti, jaga diri kalian baik-baik.” Jungsoo langsung menutup telpon dan aku memasukan handphoneku kembali.

Aku langsung melihat kearah lampu ruang operasi yang sudah mati, dokter dan suster juga sudah keluar. Aku dan Ryeowook langsung menghampiri dokter itu.

“Dokter, bagaimana keadaan adikku?” tanyaku menggunakan bahasa Jepang yang pas-pasan.

Dokter itu langsung menjawab dengan senyuman yang merekah di wajahnya, dan menurut yang aku tangkap, dokter itu mengatakan Siwon baik-baik saja dan dia sudah ada di ruang perawatan.

Aku dan Ryeowook langsung menghela nafas lega, untung dia tidak apa-apa. Kami berdua langsung masuk ke ruangan tempat Siwon dipindahkan.

Aku melihatnya terbaring lemah di atas kasur dan lengannya yang diperban, tidak lupa infus yang menggantung di sebelahnya, aku langsung duduk di kursi dekat kasurnya.

“Ryeowook-ah, besok aku mau memberikan permata dan data itu ke kantor pusat, kau tolong jaga Siwon.”

“Tidak, Hyung, kau saja yang menjaga Siwon Hyung biar aku yang mengantar ke kantor pusat. Ah, bagaimana kalau aku saja yang menjaganya malam ini, paginya Hyung yang berjaga?” dia mencoba membujukku, sebenarnya aku tidak setuju, tapi melihat wajahnya yang tidak mau ditentang, terpaksa aku menurutinya dan bangun dari tempat dudukku. Sebenarnya aku tahu kalau dia tidak mau berlama-lama di rumah sakit dan aku tidak tahu karena apa.

”Baiklah, kalau kau kelelahan kau bisa membangunkanku.”

Aku langsung berjalan kearah sofa dan tiduran di sana. Hyung macam apa kau ini Kim Heechul tidak bisa menjaga dongsaengmu sendiri. Walaupun aku sudah memejamkan mataku tetapi tetap saja aku tidak bisa tidur, aku tetap memikirkan kedua dongsaeng yang ada di seberangku.

Walaupun tidak terlihat jelas aku melihat Ryeowook memegang tangan Siwon yang tidak di infus dan keluarlah sebuah cahaya dari tangan mereka –lebih tepatnya tangan Ryeowook-. Ya inilah salah satu yang spesial bagi kelompok kami. Seperti yang pernah kukatakan beberapa bulan yang lalu kepada Cho Kyuhyun, kami memiliki kekuatan yang sama yaitu saling mentransfer kekuatan jika ada yang membutuhkan, tetapi kami tidak bisa menyembuhkan jika ada yang terluka apalagi luka yang parah, dan yang memiliki kekuatan healing hanya Jungsoo, tapi aku berharap Jungsoo bisa mengajarkannya kepada Kyuhyun. Dan yang mengetahui tentang kekuatan kami adalah kami sekelompok dan yang pasti penetua kami –Lee Sooman Ahjussi– dan kami harus merahasiakannya, dan asal kalian tahu kami semua hampir di bunuh karena kekuatan ini.

+++

Sekarang aku sedang menunggu Ryeowook pulang dari kantor pusat dan Siwon masih belum sadar juga. Aku juga mencoba mentransfer tenagaku kepadanya. Jungsoo juga menelponku terus kira-kira sudah sepuluh kali dia menelponku dengan pertanyaan yang sama ‘Heechul-ah bagaimana keadaan Siwon?’ dan sebagainya. Walaupun terlalu overprotective dan selalu tergesa-gesa, tetapi dia adalah yang baik dan sangat mengerti keadaan anggotanya, walaupun kadang dia suka mengabaikan kesehatannya sendiri, tapi tetap dia leader nomor satu. Aku yakin bukan aku saja yang memikirkan hal itu, semua anggota juga.

Aku merasakan tangan yang ada digenggamanku bergerak dengan perlahan, matanya juga mulai terbuka.

“Siwon-ah kau sudah sadar?” aku langsung memberikan dia pertanyaan, tapi dia hanya diam saja, dan tangannya menggenggam tanganku dengan erat.

Hyung. Apakah permata dan data itu selamat?” Aish, dia baru saja sadar malah bertanya tentang permata dan data.

“Sedang dibawa Ryeowook ke kantor pusat. Lebih baik sekarang kau istirahat.”

Hyung, aku mau pulang.” Heh? Sumpah aku mau meneriaki dia. Sudah kemarin dia membuat semua orang khawatir –sampai-sampai Yeonwoo (yeojachingunya) menelponku terus- dia mau pulang? Tapi aku tahan, baru saja dia sadar sudah aku bentak.

“Kalau kau sudah betul-betul sembuh kita langsung ke Korea. Aku tidak mau tiba-tiba kau drop, Siwonie.” Aku mencoba membujuknya dan menahan dia agar tidak bangun.

“Tapi aku mau pulang.” Langsung muncul wajah memelas di wajah pucatnya. Kenapa mereka selalu mengeluarkan wajah seperti itu?

“Baiklah, aku tanya ke dokter dulu, kau boleh pulang atau tidak.” Tapi dia kembali memegang tanganku. Lalu dia menunjuk tombol yang ada di atas kepalanya. Aku langsung menekan tombol itu. Beberapa saat kemudian dokter dan suster datang.

+++

Setelah melakukan aksi tawar-menawar –yang dilakukan oleh Siwon karena aku hanya melihat saja, karena bahasa Jepangku kurang bagus- sekarang kami sudah ada di dalam pesawat menunggu pesawat take off dan barang-barang kami sudah ada di dalam bagasi dan untungnya bawaan kami tidak banyak.

Aku melihat Siwon dan Ryeowook yang sudah tertidur pulas sambil menyenderkan kepala –lebih tepatnya Ryeowook yang menyenderkan kepala di bahu Siwon dan kepala Siwon ada di atas kelapa Ryeowook- aku langsung mengambil foto mereka berdua dan memasukannya ke dalam akun sosial mediaku. Seorang Agen juga perlu hiburan, tapi aku tetap menggunakan biografi samaran yang memang sudah dibuat oleh perusahaan.

Aku memejamkan mataku dan aku mengikuti jejak kedua dongsaengku yang sudah terlelap.

@@@

Aku meminum air sebanyak mungkin, aku sudah latihan selama empat jam tanpa minum karena orang itu –Kangin Hyung– melarangku untuk minum walaupun hanya setenggak saja. Sekarang kami ada di halaman belakang. Ya, selama beberapa hari ini aku selalu dilatih oleh Kangin Hyung yang kebetulan tidak ada tugas, tapi walaupun dia ada tugas pasti selalu dibawa ke rumah dan dia mengerjakannya sambil mengawasiku. Aku sudah mau kabur atau mau minum tapi selalu ketahuan. Kangin Hyung sebelas dua belas dengan Heechul Hyung, tapi mereka berdua sama-sama baik –walaupun kesan pertama saat bertemu Kangin Hyung sangat buruk-.

“Hyun-ah” Kangin Hyung datang menghampiriku dan duduk di sebelahku.

“Iya, Hyung?”

“Tidak aku hanya memanggilmu saja.” Dan hanya keheningan menyelimuti kami berdua.

“Aku harus pergi sekarang, tolong jaga rumah, jangan lupa kasih makan Heebum, Choco dan Bada, kau juga makanlah, Ahjumma sudah membuatkan makanan.” Kangin Hyung langsung berdiri dan meninggalkanku, tidak lupa dengan elusan tangan di kepalaku. Sejak ‘pemaksaan’ itu dia suka sekali mengelus kepalaku, tapi aku menyukainya. Hah, aku jadi merindukan Noonaku.

Daripada aku berdiam diri di sini lebih baik aku masuk ke dalam. Aku melihat Heechul Hyung sedang mengelus kepala Heebum. Heh? Heechul Hyung? Cinderella sinting itu sudah pulang, bearti Ryeowookie juga sudah pulang?

“Cho Kyuhyun, kau tidak memberikan salam kepadaku?” kenapa dia tahu aku ada di belakangnya?

“Selamat datang, Hyung. Ryeowookie ada di mana?”

“Dia ada di kamarnya.” Aku langsung berlari kearah tangga “Hei, kau tidak memanggil Ryeowook dengan sebutan ‘Hyung’?!” lanjutnya tapi aku menghiraukannya.

Aku langsung masuk ke dalam kamar Ryeowookie yang tidak terkunci, apakah dia mau pergi lagi? Kenapa rapih sekali? Aku berjalan mendekatinya Dan saat dia membalikan badannya.

“Ya ampun! Kau mengagetkanku!”

“Ryeowookie, ayo ajarkan aku menembak..” Aku mencoba membujuknya, tetapi raut wajahnya seperti mengatakan ‘aku tidak bisa’.

“Kalau minta diajarkan ‘menembak’ Lina aku tidak bisa.” Katanya sambil tersenyum menggoda dan aku menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal salah tingkah.

Aish, kenapa jadi ‘menembak’ Lina? Maksudku menembak menggunakan pistol.” Dia hanya tertawa kecil dan mengambil tasnya.

“Tidak bisa sekarang, Kyuhyunie, aku harus ke kantor dulu.” Dan aku mempoutkan bibirku kesal, tidak apa-apakan seorang agen bertingkah imut kepada Hyungnya?

“sebelum ke Jepang kau sudah janji akan mengajarkanku. Sebenarnya kau ingin ke kantor atau bertemu yeojachingumu?” sekarang giliran aku yang menggodanya.

“Sebenarnya dua-duanya benar. Aku pergi dulu ya, kalau ada waktu aku akan mengajarkanmu. Dan satu lagi, panggil aku ‘Hyung’, evil.” Dia langsung meninggalkanku. Aku melihatnya keluar bersama Cinderella sinting itu. Bearti aku sendirian lagi di rumah ini. Tunggu tadi dia memanggilku Evil? Aish!

Beruntung sekali Hyungku yang satu itu bisa memikat seorang artis yang sekarang sedang terkenal. Tapi aku juga tidak boleh kalah darinya, aku yang lebih tampan darinya harus bisa memikat hati Seo Lina. Seo Lina yang sangat misterius.

Aku mengambil kotak makanan Choco, Heebum dan Bada, seharian pasti aku bersama  mereka –lagi-. Sebenarnya kapan aku mendapatkan tugas atau ke kantor? Sejak aku di sini, aku belum pernah keluar rumah –walaupun sudah pernah keluar bersama Donghae Hyung dan Yesung Hyung untuk latihan atau bisa dibilang penyiksaan-.

@@@

Tidak terasa sudah tiga tahun aku meninggalkan negara kelahiranku ini. Dan sekarang aku bersama dongsaengku sudah berada di Bandara Incheon sedang menunggu yeojachinguku menjemput.

Oppa, kapan Yena Eonnie datang?” Saehee –dongsaengku- mulai tidak sabar.

“Mungkin sebentar lagi dia datang, tunggu saja.” Aku mencoba membuatnya sabar.

“Kibum Oppa!” Aku mendengar seorang yeoja memanggilku suara yang sudah lama tidak kudengar secara langsung, aku melirik ke asal suara yang kudengar, di sana berdiri seororang yang sangat aku sindukan, dia melambaikan tangannya sambil tersenyum, dan aku langsung berlari kecil kearahnya.

Oppa jangan meninggalkanku!”

Aku langsung memeluk yeoja yang sangat kurindukan, dia menjadi lebih cantik daripada saat aku meninggalkannya ke Amerika.

“Aku sangat merindukanmu.” Bisikku pelan.

“Tapi rasa rinduku melebihi rasa rindumu.” Dia membalas dan aku mulai melepaskan pelukanku dan memegang pipinya. Aku mendekatkan wajahku dan aku melihat dia memejamkan matanya.

“Hei! Apakah kalian tidak menyadari ini di mana?” ucapan seseorang yang membuatku menjauhkan kembali wajahku. Aku melihat sebercak merah yang ada di pipinya, malu. Aku menatap tajam Saehee yang sedang bertolak pinggang, ups ternyata aku melupakannya.

Eonni aku merindukanmu!” Saehee langsung menghambur ke pelukan Yena, aish kenapa anak itu selalu menggangguku dengan Yena?

Setelah itu aku mendengar mereka berdua mengobrol dengan asik sementara aku ditinggal sendirian. Aku mendorong barang bawaan kami dan mulai mengikuti mereka.

+++

Di dalam mobil aku terus menggenggam tangan Yena yang sedang menyetir sementara Saehee ada dibelakang. Tadinya aku yang mau menyetir tetapi Yena memaksaku agar dia saja yang menyetir, baiklah kalau begitu.

“Kalian berdua kapan melepaskan pegangan itu?” tanya Saehee.

“Kalau kau juga ingin melakukannya carilah namjachingu dan jangan mengganggu Oppamu.” Aku balas menyahuti dia dan dia hanya mencibir, Yena hanya tertawa kecil mendengar perkelahian kecil kami.

“Apakah kalian sering bertengkar saat di sana?”

“Tidak juga. Dia sibuk dengan studinya sementara aku sibuk dengan pekerjaanku. Aku ingin cepat menyelasaikan pekerjaan itu agar bisa bertemu dengan semua Hyung, terutama kau sayang.” Aku mengedipkan sebelah mataku kearahnya dan dia membalas dengan menepuk pipiku pelan.

“Gombal sekali kau Kim Kibum.” Saehee yang ada di belakang kembali menyeletuk, tapi aku tidak peduli.

Eonnie, aku turun di sini saja, aku ingin bertemu dengan teman-temanku.”

Yena langsung menghentikan mobilnya dan Saehee langsung turun.

“Terima kasih tumpangannya, Eonnie, bye bye oppaku yang jelek.” Dia langsung pergi setelah menjulurkan lidahnya kearahku sebelum aku memukulnya.

“Kim Saehee jangan pulang terlalu malam!” teriakku dan dia langsung mengangkat jempolnya tanda mengerti.

“Aku akan mengantar Oppa ke rumah.” Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dan selama di perjalanan hanya keheningan menyelimuti kami dan aku terus menggenggam tangannya seperti ada sebuah magnet di tanganku yang tidak mau dilepas.

Dan beberapa saat kemudia kami sudah sampai di rumah.

“Terima kasih, sayang. Aku mau kemana?”

“Aku harus kembali ke kantor, Oppa.”

“Yah, baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan sayang.” Aku mengecup bibirnya singkat lalu turun dari mobil dan melambaikan tahan kearahnya. Setelah dia pergi aku membalikan badanku menatap rumah yang sudah lama kutinggalkan.

“Aku pulang.” Gumamku pelan dan melangkah ke dalam.

@@@

“Makanlah yang lahap anak-anak Hyungku, jangan sampai kalian terlihat kurus dan aku yang dimarahi Appa kalian.” Kataku sambil memberi makanan kepada peliharaan Hyungku, dan mereka memakannya dengan lahap.

Walaupun membosankan hanya bersama mereka, tapi tetap mengasikan seperti mereka bisa mengerti perasaanku dan bercanda bersamaku.

Saat aku sedang asik melihat mereka semua makan, aku merasakan benda dingin berada di belakang kepalaku.

“Siapa kau?” suara dingin terdengar memasuki gendang telingaku dan membuatku membeku seketika.

“Siapa kau?” tanya orang itu lagi tapi dengan nada yang lebih keras, dengan perasaan takut aku langsung berdiri dan menengok kebelakang, dan terlihat seorang namja sedang menodongkan sebuah pistol ke kepalaku dan aku menengguk ludahku takut. Baru pertama kali aku ditodong pistol seperti ini oleh orang yang tidak kukenal.

“Ku ulangi, siapa kau?”

“Seharusnya aku yang bertanya, siapa kau? Kenapa bisa masuk ke dalam rumahku?” aku balik tanya dan raut wajahnya langsung berubah tapi tangannya masih menodongkan pistol di kepalaku.

“Kau bilang rumahmu? Ini rumahku.”

TBC

Advertisements

3 thoughts on “[FF/Freelance] The Agent || Chapter 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s